Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kinerja Korporasi Semakin Rentan

amir-Amir KP • 2019-01-30 08:00:50
-
-

SAMARINDA  - Kinerja korporasi Kaltim pada 2018 cenderung mengalami perlambatan. Dalam aspek produktivitas terlihat menurun yang diukur dari asset turnover menjadi 0,72. Padahal sebelumnya di level 0,76. Lalu, profitabilitas korporasi yang tecermin dari indikator return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) cenderung mengalami penurunan pada 2018. Masing-masing menurun 10,55 persen dan 26,96 persen.

Pelemahan nilai tukar rupiah pada 2018 akibat dari ketidakpastian ekonomi global, terutama kebijakan Amerika Serikat untuk meningkatkan Fed Funding Rate (FFR), serta harga komoditas yang cukup tinggi memberi tekanan pada kinerja korporasi. Intensitas tingkat kerentanan eksternal pada tahun lalu semakin meningkat, dengan adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang berdampak terhadap pelemahan nilai tukar di sejumlah negara emerging market.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Muhamad Nur mengatakan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kerentanan kinerja korporasi di Kaltim sepanjang 2018. Salah satunya, penurunan harga komoditas utama Bumi Etam.

“Komoditas unggulan kita adalah batu bara dan CPO. Kinerja komoditas ini dipengaruhi harga komoditas utama internasional maupun domestik. Sehingga jika menurun maka kinerja korporasi akan tercatat menurun,” jelasnya, Selasa (29/1).

Sebaliknya peningkatan harga komoditas internasional akan mendorong kinerja sektor korporasi di Kaltim. Pada 2018, risiko eksternal dari komoditas batu bara perlu menjadi perhatian. Meskipun harga batu bara internasional dan domestik yang masing-masing meningkat sebesar 26,30 persen dan 24,45 persen, namun tak setinggi pada 2017 sebesar 45,44 persen.

“Ini memengaruhi kinerja korporasi di Kaltim. Sementara itu, risiko eksternal yang bersumber dari penurunan harga internasional CPO sebesar 15,21 persen telah diikuti harga CPO dalam negeri yang menunjukkan penurunan sebesar 12,00 persen,” katanya.

Selain itu, sebagian besar korporasi di Kaltim terpapar risiko yang berasal dari kinerja ekspor Kaltim. Hal ini sejalan dengan dominasi ekspor komoditas batu bara dan CPO di perekonomian Kaltim. Peningkatan pertumbuhan nilai ekspor komoditas tersebut akan berdampak positif terhadap kinerja korporasi Kaltim, demikian juga sebaliknya.

“Saat ini, nilai ekspor batu bara tumbuh sebesar 13,66 persen, menurun dari triwulan III yang tumbuh sebesar 18,86 persen,” ujarnya.

Sementara itu, tambahnya, pertumbuhan nilai ekspor CPO juga mengalami perlambatan. Dari sebesar minus 4,98 persen pada triwulan sebelumnya, menjadi minus 5,86 persen. Yang terakhir, faktor penyebab kerentanan kinerja korporasi di Kaltim sepanjang 2018 berasal dari volatilitas nilai tukar rupiah.

“Komposisi impor luar negeri Kaltim adalah impor barang modal dan bahan baku sebagai input untuk proses produksi dengan pangsa masing-masing sebesar 57,19 persen dan 42,00 persen,” ujar Nur.

Pergerakan nilai tukar akan berpengaruh pada kebijakan perusahaan. Untuk melakukan impor dalam aspek bahan baku yang pertumbuhannya berkorelasi positif dengan nilai tukar. Sementara, barang modal tidak memengaruhi kebijakan perusahaan untuk melakukan impor dikarenakan pertumbuhan barang modal berkorelasi negatif dengan nilai tukar.

“Apabila nilai tukar rupiah terdepresiasi lebih tinggi dari yang diperkirakan, maka harga bahan baku menjadi lebih mahal. Sehingga biaya produksi meningkat dan berdampak negatif terhadap profitabilitas perusahaan,” katanya.

Dia menjelaskan, depresiasi rupiah sepanjang 2018 selain berdampak negatif pada peningkatan biaya produksi, di sisi lain dapat memberikan dampak positif terhadap korporasi yang berorientasi ekspor. Depresiasi menyebabkan meningkatnya daya saing ekspor, dengan lebih murahnya harga jual produk apabila dibandingkan negara lain sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekspor.

“Ada faktor yang membuat kinerja korporasi atau perusahaan kita di Kaltim lebih baik. Ada juga yang membuat lebih rentan. Namun, sepanjang 2018 kinerja korporasi Kaltim cenderung mengalami perlambatan,” tutupnya. (*/ctr/ndu/k15/kpg/cal)

Editor : amir-Amir KP