JAKARTA – Pemerintah tampaknya harus bekerja lebih keras untuk menekan impor. Pasalnya sepanjang 2018 lalu, nilai impor Indonesia mencapai USD 188,6 miliar atau naik 20,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara nilai, peningkatan impor terjadi baik dari sektor migas sebesar USD 5,49 miliar dan non-migas USD 26,14 miliar.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto menuturkan, peningkatan impor migas disebabkan naiknya impor seluruh komponen migas mulai dari minyak mentah, hasil minyak dan gas.
“Selama tiga belas bulan terakhir, nilai impor migas tertinggi terjadi pada Agustus 2018. Nilainya mencapai USD 3,04 miliar, sedangkan terendah terjadi pada Desember 2018, yaitu USD 1,9 miliar. Sehingga secara nilai, angkanya naik sebesar 22,59 persen dibanding 2017,” kata Suhariyanto di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (15/1).
Dari sisi volume, impor migas pada Januari-Desember 2018 mengalami penurunan sebesar 2,49 persen dari 50,3 juta ton pada 2017 menjadi 49,1 juta ton. Sementara di sektor non-migas ada 10 golongan barang yang meningkat nilai impornya sepanjang 2018. Jika dilihat dari peranannya, 10 golongan barang itu memberikan kontribusi 27,25 persen terhadap total impor non-migas Indonesia.
10 barang tersebut di antaranya besi dan baja, plastik dan barang dari plastik, kendaraan dan bagiannya, bahan kimia organik, perhiasan, pupuk, buah-buahan, kapal terbang dan bagiannya, serta senjata dan amunisi. “Secara total nilai impor non-migas 10 barang tersebut pada 2018 adalah USD 43,2 juta atau meningkat dari tahun 2017 sebesar USD 36,03 juta,” terangnya.
BPS mencatat, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit senilai USD 8,57 miliar sepanjang Januari-Desember 2018. Torehan defisit ini berbanding terbalik dari kondisi neraca perdagangan pada 2017 yang mencatatkan surplus tinggi mencapai USD 11,84 miliar. Defisit ini setidaknya merupakan kinerja perdagangan terburuk dalam lima tahun terakhir.
Tercatat, kinerja perdagangan masih surplus USD 8,78 miliar pada 2016, surplus USD 7,67 miliar pada 2015, defisit USD 2,19 miliar pada 2014, dan defisit USD 4,06 miliar pada 2013. "Defisit ini cukup dalam bila dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.
Defisit terjadi karena kinerja ekspor sepanjang tahun lalu cuma senilai USD 180,06 miliar. Sementara kinerja impor mencapai USD 188,63 miliar. Dari sisi pertumbuhan, ekspor hanya tumbuh 6,65 persen dibandingkan dari tahun lalu sebesar USD 168,83 miliar. Sumbangan ekspor tertinggi berasal dari bahan bakar mineral mencapai USD 24,59 miliar atau 15,12 persen dari porsi ekspor keseluruhan dan lemak minyak hewan nabati USD 20,35 miliar atau setara 12,51 persen.
Berdasarkan negaranya, ekspor tertinggi Indonesia ditujukan ke Tiongkok mencapai USD 24,39 miliar, AS USD 17,67 miliar, dan Jepang USD 16,31 miliar. Sedangkan untuk impor tertinggi berasal dari Tiongkok USD 45,24 miliar, Jepang USD 17,94 miliar, dan Thailand USD 10,85 miliar.
Khusus Desember 2018, BPS mencatat kinerja perdagangan mencatatkan defisit sebesar USD 1,1 miliar. Tercatat, ekspor turun 4,89 persen menjadi USD 14,18 miliar dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ekspor terjadi karena ekspor non-migas turun 8,15 persen menjadi USD 12,43 miliar. Sementara ekspor migas meningkat 27,34 persen menjadi USD 1,75 miliar.
"Penurunan ekspor non-migas terjadi pada komoditas biji kerak dan logam, bahan bakar mineral, besi dan baja. Sementara peningkatan ekspor migas ditopang gas yang naik 51,71 persen," jelasnya.
Lebih rinci, penurunan ekspor non-migas disumbang industri pertanian sebesar 6,72 persen menjadi USD 300 juta. Hal ini karena ada penurunan ekspor untuk komoditas biji kakao, mutiara, dan cengkih. Lalu, industri pengolahan turun 6,92 persen menjadi USD 10,01 miliar. Penurunan ekspor industri ini terjadi pada komoditas besi baja, kimia dasar organik, kendaraan bermotor, dan kimia dari sumber pertanian.
Kemudian, ekspor industri pertambangan turun 13,73 persen menjadi USD 2,12 miliar karena komoditas, seperti bijih tembaga, lignit, batu bara, dan bijih logam lainnya. Berdasarkan negara tujuan, penurunan ekspor terjadi ke Tiongkok sebesar minus USD 365,3 juta, Jepang minus USD 198,2 juta, dan Malaysia minus USD 167,4 juta. Sementara ekspor masih meningkat tinggi ke Italia senilai USD 90,3 juta, Singapura USD 61,7 juta, dan Amerika Serikat USD 29 juta.
Untuk impor Desember 2018, kinerja impor turun 9,6 persen menjadi USD 15,28 miliar. Hal ini terjadi karena ada penurunan impor migas sebesar 11,45 persen menjadi USD 1,97 miliar dan impor non-migas turun 5,14 persen menjadi USD 13,31 miliar.
Ia merinci, penurunan impor terjadi pada kelompok barang bahan baku/penolong sebesar 13,49 persen menjadi USD 11,13 miliar. Sementara impor kelompok barang konsumsi masih naik sekitar 1,86 persen menjadi USD 1,46 miliar dan kelompok barang modal naik 3,36 persen menjadi USD 2,69 miliar.
"Penurunan impor bahan baku karena petroleum oil dan barang kimia. Sementara barang konsumsi naik pada impor buah-buahan, seperti anggur, apel, dan daging beku, ini seiring persiapan libur akhir tahun," terangnya.
Berdasarkan negara asal, penurunan impor terjadi dari Australia turun USD 217,1 juta, Jepang minus USD 203,9 juta, dan Thailand minus USD 117,2 juta. Sedangkan peningkatan impor datang dari Tiongkok sebesar USD 242,9 juta Ukraina USD 50,6 juta, dan Pakistan USD 49,7 juta. (ndu2/k15)
Editor : wahyu-Wahyu KP