DINAMIKA pasar uang internasional menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menaikkan tarif impor terhadap produk Tiongkok telah menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD). Bank Indonesia (BI) meminta masyarakat untuk tidak berlebihan menyikapi pelemahan rupiah yang terjadi saat ini.
Diketahui, rupiah terus mengalami tekanan sejak 22 April 2019 kemarin. Berdasarkan, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 14.260 hingga Rp 14.305 per USD.
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengakui rupiah mengalami tekanan beberapa hari terakhir akibat dinamisnya ekonomi global. Menurutnya, salah satu penyebab rupiah terus melemah adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam menaikkan tarif impor terhadap produk Tiongkok.
Kenaikan juga dipicu ketika Gubernur Federal Reserve Jerome Powell yang tidak akan menurunkan tingkat suku bunga hingga akhir tahun. “Statement presiden AS ini luar biasa dan memicu jatuhnya harga saham di Tiongkok dan ini lebih ke risk off global jangka pendek,” kata Nanang di Gedung BI, Jakarta, Senin (6/5).
Dia menambahkan, pelemahan mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia, akan tetapi juga terjadi di negara Asia lainnya. Dia menyebut bahwa pelemahan terhadap rupiah ini tidak hanya berdampak pada rupiah, tetapi juga terhadap pasar saham atau Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG.
Di sisi lain, permintaan valuta asing (valas) di domestik dinilai cukup meningkat pada kuartal I 2019. Penyebabnya, karena naiknya permintaan impor dan pembayaran dividen. “Biasanya kuartal II dan kuartal III akan turun lagi, itu musiman yang harus dihadapi,” pungkasnya. (ndu)
Editor : izak-Indra Zakaria