Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Semester I 2020, Kinerja PT UT Merosot

izak-Indra Zakaria • Rabu, 26 Agustus 2020 - 20:27 WIB
ilustrasi
ilustrasi

BALIKPAPAN- Pandemi Covid-19 yang masuk ke Kaltim pada Maret lalu turut memengaruhi kinerja PT United Tractors (UT) Tbk. Perseroan mencatat laba bersih di semester I tahun ini turun hingga 28 persen. Yakni sebesar Rp 4,1 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 5,7 triliun

Corporate Secretary PT UT Sara Loebis mengatakan, pada paruh pertama tahun ini perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 33,2 triliun atau turun sebesar 23 persen dibandingkan semester pertama tahun 2019 sebesar Rp 43,3 triliun. “Penurunan ini dikarenakan pandemi Covid-19 dan penurunan harga batu bara. Kondisi ini berimbas pada semua segmen usaha,” ungkapnya dalam Public Expose Live 2020 yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (25/8).

Disampaikan Sara, masing-masing segmen usaha, yaitu mesin konstruksi, kontraktor penambangan, pertambangan batu bara, pertambangan emas dan industri konstruksi secara berturut-turut memberikan kontribusi sebesar 22 persen, 46 persen, 18 persen, 12 persen, dan 2 persen terhadap total pendapatan bersih konsolidasian.

Untuk segmen usaha mesin konstruksi mencatat penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 56 persen menjadi 853 unit, dibandingkan 1.917 unit pada semester pertama 2019. Turunnya harga komoditas dan pembatasan sosial berskala besar berdampak pada penurunan aktivitas di semua sektor pengguna alat berat yang menyebabkan berkurangnya permintaan alat berat.

Pendapatan perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat juga turun sebesar 25 persen menjadi sebesar Rp 3,3 triliun. Berdasarkan riset pasar internal, Komatsu tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai market leader alat berat dengan pangsa pasar domestik sebesar 33 persen.

Sedangkan penjualan UD Trucks mengalami penurunan dari 302 unit menjadi 94 unit, dan penjualan produk Scania turun dari 291 unit menjadi 100 unit. Secara total, pendapatan bersih dari segmen usaha mesin konstruksi turun 40 persen menjadi Rp 7,3 triliun dibandingkan Rp 12,1 triliun pada periode yang sama di 2019.

“Kemudian, untuk segmen usaha kontraktor penambangan yang dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA), sampai dengan Juni 2020 kontraktor penambangan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 15,1 triliun atau turun 22 persen dari Rp 19,3 triliun pada periode yang sama pada 2019,” terangnya.

PAMA mencatat penurunan volume produksi batu bara sebesar 8 persen dari 60,8 juta ton menjadi 55,9 juta ton dan volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) turun 10 persen dari 469,2 juta bcm menjadi 420,3 juta bcm.

Segmen usaha pertambangan batu bara yang dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (TTA) sampai dengan Juni 2020 total penjualan batu bara mencapai 5,6 juta ton, termasuk di dalamnya 869 ribu ton batu bara kokas, atau meningkat 14 persen apabila dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar 4,9 juta ton. Namun demikian, pendapatan segmen usaha pertambangan batu bara turun 11 persen menjadi Rp 6,1 triliun dikarenakan penurunan rata-rata harga jual batu bara.

Segmen usaha pertambangan emas yang dijalankan oleh PT Agincourt Resources (PTAR) di tambang emas Martabe, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara sampai Juni 2020 total penjualan setara emas dari Martabe adalah sebanyak 186 ribu ons atau turun 4 persen dari 195 ribu ons. Martabe membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 4 triliun, meningkat 11 persen dari Rp 3,6 triliun pada 2019.

Rata-rata harga jual emas Martabe sebesar USD 1.498 per ons, naik dibandingkan USD 1.315 per ons pada periode yang sama tahun lalu. Segmen usaha industri konstruksi yang dijalankan PT Acset Indonusa Tbk (ACSET) sampai 2020 membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 746 miliar, turun dari sebelumnya sebesar Rp 1,5 triliun pada 2019. ACSET membukukan rugi bersih sebesar Rp 252 miliar, turun dibandingkan rugi bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 404 miliar.

Pandemi Covid 19 mengakibatkan terjadinya penundaan pekerjaan proyek yang sedang berlangsung maupun pembukuan kontrak baru sehingga berdampak terhadap kinerja ACSET. Namun demikian, ACSET membukukan rugi bersih lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu karena penurunan beban keuangan (finance cost) terutama dari proyek Contractor Pre Financing (CPF).

PT Bhumi Jati Power (BJP) yang 25 persen sahamnya dimiliki oleh anak perusahaan Perseroan saat ini sedang membangun pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 2x1.000 MW di Jepara, Jawa Tengah. Hingga semester pertama 2020, progres konstruksi proyek ini telah mencapai 94 persen.

BJP merupakan perusahaan patungan bersama antara anak usaha perseroan, Sumitomo Corporation dan Kansai Electric Power Co Inc. Sebagai salah satu kontribusi perseroan terhadap pencapaian sasaran pembangunan berkelanjutan (SDGs), perseroan secara konsisten melaksanakan program tanggung jawab sosial yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta tanggap darurat bencana. (aji/ndu/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Bisnis Kaltim