Staycation di hotel dalam kota menjadi tren baru selama pandemi Covid-19. Larangan mudik pada libur Lebaran tahun ini diprediksi membuat tren staycation di hotel kembali meningkat. Mengobati penurunan okupansi saat Ramadan.
SAMARINDA - Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Kaltim Budi Wahjono mengatakan, tren staycation di hotel dalam kota saat libur Idulfitri bisa menjadi pendongkrak okupansi atau malah sebaliknya. Sebab, sampai sekarang belum ada aturan yang melarang atau penutupan operasi hotel dan sebagainya. Sehingga pihaknya masih optimistis akan terjadi peningkatan.
“Kemungkinan memang meningkat, selama tidak ada aturan pelarangan seperti tahun lalu. Larangan pengoperasian hotel akan membuat kinerja hotel semakin terpuruk. Jadi kembali pada aturan dari satgas Covid-19 nanti seperti apa,” ungkapnya, Kamis (22/4).
Dia menjelaskan, selama ini hotel-hotel di Samarinda diisi oleh market-market lokal. Sehingga larangan mudik pada 2021 bisa menjadi tren positif untuk perhotelan. Harapannya, masyarakat yang tidak bisa bepergian bisa melakukan staycation di hotel-hotel dalam kota.
Namun, berkaca dari tahun lalu pihaknya tidak bisa mendongkrak okupansi saat libur Idulfitri akibat kasus pandemi yang melonjak sehingga dilakukan penutupan hotel. Saat ini, jika tidak ada larangan maka okupansi akan positif dan cenderung meningkat.
“Harusnya masyarakat sudah bisa menginap di hotel dengan tenang, karena sudah banyak hotel di Kaltim yang melakukan sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environmental Sustainability). Selama protokol kesehatan dilakukan dengan benar, seharusnya tidak ada masalah,” tuturnya.
Menurutnya, selama Ramadan okupansi mengalami penurunan kurang lebih 15-20 persen dibandingkan bulan biasa, namun penurunan tersebut tidak terlalu signifikan. Pihaknya optimistis tahun ini pada awal Mei okupansi sudah bisa membaik.
“Setelah Idulfitri, mungkin sekitar akhir Mei okupansi sudah normal kembali seperti sebelum Ramadan. Kita belum bisa memberikan proyeksi berapa persen peningkatan saat libur Idulfitri, namun yang jelas peningkatannya akan lebih tinggi dibandingkan penurunan saat Ramadan. Jadi selama tidak ada aturan yang menghalangi, tren staycation di hotel akan membuat okupansi meningkat,” tuturnya.
Senada, Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Sri Wahyuni mengatakan, di tengah pelarangan mudik pihaknya optimistis akan ada tren peningkatan kinerja pariwisata, khususnya di hotel. Sebab, peniadaan mudik berpotensi menjadi peluang besar bagi staycation di hotel-hotel dalam wilayah kota sekaligus bagi usaha kuliner.
Penerapan CHSE harus dilakukan dan mengikuti kebijakan Satgas Covid-19 masing-masing daerah. “Kita optimistis dengan adanya peniadaan mudik maka tren berwisata dalam kota akan menggeliat di dalam daerah masing-masing,” ujarnya.
Namun, semua kembali pada kebijakan satgas masing-masing kota. Jika satgas daerah yang saling berbatasan memiliki kebijakan lain, maka bisa saja ada larangan. Di tengah pandemi, aktivitas di sektor ekonomi termasuk pariwisata dibuka dengan pembatasan dan penetapan prokes agar kemampuan ekonomi masyarakat bisa terpelihara meski tidak seoptimal saat sebelum pandemi.
Penyebaran virus akan terjadi bila masyarakat abai terhadap 3M. “Jika Satgas masing-masing kota tidak memberikan larangan, kita optimistis staycation di hotel dalam kota akan menjadi pilihan masyarakat untuk menghabiskan waktu cuti Idulfitri,” pungkasnya. (ctr/ndu)
Editor : izak-Indra Zakaria