Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kinerja Impor Kaltim Turun 66,41 Persen

izak-Indra Zakaria • 2021-09-09 11:58:54
Berbeda dengan kinerja ekspor yang melesat tajam seiring tingginya permintaan komoditas utama Benua Etam, yaitu batu bara, kinerja impor Kaltim justru menurun 66,41 persen.
Berbeda dengan kinerja ekspor yang melesat tajam seiring tingginya permintaan komoditas utama Benua Etam, yaitu batu bara, kinerja impor Kaltim justru menurun 66,41 persen.

SAMARINDA – Berbeda dengan kinerja ekspor yang melesat tajam seiring tingginya permintaan komoditas utama Benua Etam, yaitu batu bara, kinerja impor Kaltim justru menurun 66,41 persen. Penurunan ini dinilai tak lepas dari minimnya produksi pelaku usaha, sehingga tidak melakukan impor bahan baku.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Anggoro Dwitjahyono mengatakan, nilai impor Kaltim pada Juli 2021 mencapai USD 155,86 juta, mengalami penurunan sebesar 66,41 persen dibanding Juni 2021. Secara bulanan impor Kaltim memang menurun, namun dibandingkan tahun lalu masih meningkat 12,43 persen meskipun tidak terlalu tinggi.

“Secara kumulatif, impor Kaltim juga mengalami peningkatan. Meskipun memang peningkatannya tidak sebanding penurunan bulanan pada Juli,” ungkapnya, Selasa (7/9).

Dia menjelaskan, secara kumulatif nilai impor Kaltim periode Januari-Juli 2021 mencapai USD 1,57 miliar. Jumlah itu naik sebesar 37,25 persen dibandingkan periode yang sama pada 2020. Secara bulanan, persentase penurunan nilai impor terbesar pada Juli 2021 terhadap Juni 2021 terjadi pada golongan barang bahan bakar mineral migas sebesar 88,12 persen. Yaitu dari USD 267,33 juta menjadi USD 31,75 juta.

Kemudian disusul golongan barang mesin dan peralatan mekanis yang turun sebesar 46,68 persen, yaitu dari USD 142,69 juta menjadi USD 76,09 juta. Sedangkan kenaikan nilai impor tercatat pada golongan barang pupuk, bahan bakar mineral non-migas, dan instrumen aparatus optis yang masing-masing naik sebesar 828,28 persen, 6,10 persen dan 4,19 persen.

Terpisah, Wakil Ketua Bidang Investasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Alexander Soemarno mengatakan, ekspor dan impor harusnya bisa berimbang. Impor itu biasanya mendatangkan barang-barang yang tidak diproduksi di dalam negeri. Pelaku usaha membutuhkan alat produksi yang berasal dari luar negeri. Seperti pelaku usaha konstruksi, manufaktur, dan lainnya membutuhkan impor bahan baku. “Namun bisa jadi juga, impor menurun namun antar daerah meningkat. Misalnya alat kerja banyak dibawa oleh pengusaha luar daerah,” katanya.

Dia menjelaskan, impor alat atau bahan baku terkait kegiatan ekonomi sangat bergantung kesempatan yang ada. Saat ini, ekspor meningkat akibat naiknya permintaan komoditas utamanya seperti batu bara dan kelapa sawit. Sedangkan impor menurun karena tidak ada produktivitas yang meningkat dari pelaku usaha yang biasanya melakukan impor bahan baku. Misalnya besi, baja, mesin pabrik dan lainnya.

“Tidak ada peralatan yang dibawa ke Kaltim untuk menghasilkan nilai ekonomi, selain sektor unggulan saat ini,” pungkasnya. (ctr/ndu/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Ekonomi Kaltim