SAMARINDA - Potensi sektor kelautan dan perikanan di Kaltim masih sangat luas. Saat ini, ekspor perikanan sudah cukup baik. Dan digadang-gadang menjadi sumber daya alam terbarukan, menggantikan sektor migas dan pertambangan yang hingga kini masih menjadi tumpuan ekonomi Benua Etam. Untuk itu, Kaltim mendorong ekspor sektor perikanan.
Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim Irhan Hukmaidy mengatakan, selama ini sektor perikanan melalui sejumlah komoditas ekspor mampu memberi nilai tambah bagi perekonomian daerah. Nilai ekspor produk perikanan Kaltim pada 2021 lalu mampu mencapai USD 72 juta atau lebih dari Rp 1 triliun.
Komoditas ekspor perikanan dari Kaltim di antaranya, udang windu, ikan kerapu, dan kepiting. Untuk komoditas non-ikan, yaitu rumput laut jenis gracilaria. “Tetapi yang lagi naik daun komoditas kepiting dan ikan kerapu. Peminatnya di luar negeri cukup banyak,” katanya, Rabu (14/9).
Dia menjelaskan, pada Mei lalu, dilakukan direct call ekspor kepiting ke Shenzen, Tiongkok, dari Terminal Cargo Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Balikpapan, sebanyak 5 ton atau senilai Rp 1 miliar. Terkait pengembangan sektor perikanan budi daya, pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan tengah menargetkan pembentukan kampung budi daya sebanyak 130 kampung di 2022.
Di Kaltim, dua lokasi telah ditetapkan sebagai kampung budi daya, yaitu di Loa Kulu, Kutai Kartanegara sebagai kampung budi daya ikan nila dan di Pulau Maratua, Berau sebagai kampung budi daya ikan kerapu. “Nantinya, kita juga dorong daerah lain untuk menjadi kampung budi daya sesuai keunggulan masing-masing,” katanya.
Karena menurutnya, pengembangan perikanan budi daya yang tengah dilakukan saat ini sifatnya masih tidak menentu dan tidak merata, sehingga perlu dibuat klaster. Sebagai contoh, nantinya mungkin Kutai Kartanegara didorong menjadi kampung budi daya kepiting dan udang windu serta Bontang dengan kampung budi daya rumput laut.
Sebab pada 2023, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan membentuk lagi 150 kampung budi daya. Selain mendorong pembentukan kampung budi daya, DKP Kaltim akan mengembangkan budi daya perikanan spesifik dan merupakan ikan-ikan endemik lokal yang mulai berkurang populasinya serta langka di pasaran. Ikan tersebut, di antaranya biawan, pepuyu, lais termasuk haruan.
“Arah kebijakan kita ke sana dan memang tidak bisa langsung, dibutuhkan proses yang cukup panjang,” tuturnya.
Dalam program ini, DKP Kaltim menggandeng Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman Samarinda dan Balai Perikanan Budi Daya Air Tawar Mandiangin di Banjarmasin untuk mengembangkan teknologi budi daya ikan endemik Kaltim. Lebih penting lagi, saat diterapkan dapat membawa keuntungan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Khususnya, peternak ikan.
"Kita ingin nanti hasilnya bisa kita kembangkan secara masif, sehingga bisa terus mengembangkan potensi ekspor sektor kelautan dan perikanan,” pungkasnya. (ndu/adv/diskominfo kaltim)
Editor : izak-Indra Zakaria