SURABAYA – Kinerja perdagangan luar negeri Jatim selama 2022 memang masih bertumbuh. Tapi, ekspor nonmigas tidak tinggi. Eksportir pun berharap pemerintah bisa ikut mendorong agar kenaikan tahun ini bisa mencapai dobel digit.
Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim Isdarmawan Asrikan menjelaskan, kinerja ekspor nonmigas selama 2022 tumbuh sebanyak 6,8 persen. Dari USD 21,2 miliar pada 2021 menjadi USD 22,7 miliar pada 2022. ’’Tapi, pertumbuhan tersebut masih kecil. Apalagi, jika dibandingkan dengan impor yang naik 15,47 persen,’’ ujarnya akhir pekan lalu.
Hal itu membuat neraca perdagangan nonmigas menjadi defisit USD 2 miliar. Jika dipelajari, pasar ekspor di Jatim masih didominasi ke Amerika Serikat (AS). Tahun lalu, AS menyerap produk dari sebanyak USD 3,7 miliar. Kemudian, disusul Jepang senilai USD 3,45 miliar dan Tiongkok, USD 3,22 miliar.
Untuk AS dan Jepang, Jatim sebenarnya mencetak surplus yang lumayan baik. Sayang, perdagangan dengan Tiongkok masih mencatat defisit senilai USD 4,09 miliar tahun lalu. ’’Untuk impor primer seperti mesin industri, mungkin hal tersebut baik. Tapi, saya lihat di lapangan produk sekop saja harus impor padahal di Indonesia juga sanggup membuatnya,’’ paparnya.
Karena itu, dia meminta pemerintah agar bisa memberikan insentif kepada eksportir Jatim. Sebab, pasar utama Jatim seperti AS ditengarai bakal mengalami pelemahan ekonomi yang parah tahun ini. Insentif seperti diskon pajak atau bea keluar diharapkan bisa mempertinggi daya saing produk ekspor Indonesia.
Para eksportir pun masih mencoba mencari pasar baru seperti Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin. ’’Harapannya semua pemangku kepentingan mau bersinergi. Sehingga, pertumbuhan ekspor bisa kembali mencapai double digit tahun ini,’’ jelasnya. (bil/dio)
Editor : izak-Indra Zakaria