Jumlah angkatan kerja di Kaltim pada Februari 2023 tercatat sebanyak 1.932.030 orang. Angka ini naik 20.109 orang dibanding Februari 2022 yang hanya 1.911.921 orang. Sayang, di tengah kenaikan jumlah tenaga kerja, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) malah turun.
SAMARINDA - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana mengatakan, penduduk usia kerja merupakan semua orang yang berumur 15 tahun ke atas. Dan saat ini, jumlahnya terus bertambah seiring naiknya jumlah penduduk di Kaltim. Penduduk usia kerja di Kaltim pada Februari 2023 sebanyak 2.942.367 orang, naik sebanyak 54.937 orang dibanding Februari 2022.
Sebagian besar penduduk usia kerja merupakan angkatan kerja, yaitu 65,66 persen (1.932.030 orang), sisanya masuk pada kategori bukan angkatan kerja. Komposisi angkatan kerja di Kaltim pada Februari 2023 terdiri atas 1.808.972 orang penduduk yang bekerja dan 123.058 orang pengangguran. Apabila dibandingkan Februari 2022, terjadi peningkatan jumlah angkatan kerja sebanyak 20.109 orang.
“Penduduk bekerja naik sebanyak 26.537 orang dan pengangguran turun sebanyak 6.428 orang,” ungkapnya, kemarin (7/5). Sementara itu, apabila dibandingkan kondisi Februari 2021 jumlah angkatan kerja mengalami peningkatan sebanyak 45.669 orang. Penduduk bekerja naik 51.075 orang dan pengangguran turun sebanyak 5.406 orang.
Penduduk yang bekerja di Kaltim sebanyak 1.808.972 orang, meningkat sebanyak 26.537 orang dari Februari 2022. Lapangan pekerjaan yang lebih banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor transportasi dan pergudangan (21.330 orang). Sementara, sektor yang mengalami penurunan penduduk bekerja terbesar, yaitu industri pengolahan (14.105 orang).
“Saat ini, jumlah angkatan kerja meningkat namun tingkat partisipasi angkatan kerja malah menurun,” katanya. TPAK adalah persentase banyaknya angkatan kerja terhadap banyaknya penduduk usia kerja. TPAK mengindikasikan besarnya persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah.
TPAK di Kaltim pada Februari 2023 sebesar 65,66 persen, turun 0,56 persen poin dibanding Februari 2022. Berdasarkan jenis kelamin, TPAK laki-laki sebesar 83,41 persen, lebih tinggi dibanding perempuan yang sebesar 46,34 persen. Apabila dibandingkan Februari 2022, TPAK laki-laki mengalami peningkatan 1,79 persen poin, sedangkan TPAK perempuan turun 3,05 persen poin. “Meski menurun, TPAK di Kaltim masih baik,” tuturnya.
Sementara itu, secara nasional BPS mencatat jumlah pengangguran per Februari 2023 menurun 410 ribu. Penurunan ini membuat total pengangguran di Indonesia menjadi 7,99 juta orang dibandingkan sebelumnya yang mencapai 8,4 juta orang.
Deputi Bidang Neraca dan Analisa Statistik BPS, Moh Edy Mahmud mengatakan, pengurangan jumlah pengangguran ini disebabkan tingkat pertumbuhan ekonomi. "Kalau kita perhatikan kondisi ini dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama, yakni sebesar 5,83 persen (8,4 juta orang). Jadi, pertumbuhan ekonomi turut memberikan dampak positif terhadap penurunan tingkat pengangguran terbuka," kata Edy, Jumat (5/5).
Meski pengangguran tercatat menurun, BPS mencatat jumlah angkatan kerja berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Februari 2023 mengalami peningkatan 2,61 juta orang sebanyak 146,62 juta orang. Sementara, TPAK naik sebesar 0,24 persen poin.
Dari angka tersebut tercatat, penduduk yang bekerja sebanyak 138,63 juta orang, naik sebanyak 3,02 juta orang dari Februari 2022. Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan terbesar adalah penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum serta aktivitas jasa lainnya, masing-masing sebesar 0,51 juta orang.
Edy menjelaskan, persentase setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu mengalami penurunan, masing-masing sebesar 0,95 persen poin dan 0,33 persen poin dibandingkan Februari 2022. "Setengah pengangguran adalah mereka yang jam kerjanya di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam per minggu) dan masih mencari pekerjaan atau bersedia menerima pekerjaan lain. Tingkat setengah pengangguran pada Februari 2023 adalah sebesar 6,91 persen," jelasnya.
Hal ini berarti dari 100 penduduk bekerja terdapat sekitar tujuh orang yang termasuk setengah pengangguran. Dibandingkan Februari 2022, tingkat setengah pengangguran mengalami penurunan sebesar 0,95 persen.
Pada Februari 2023, tingkat setengah pengangguran laki-laki sebesar 7,16 persen, sedangkan tingkat setengah pengangguran perempuan sebesar 6,53 persen. Dibandingkan Februari 2022, tingkat setengah pengangguran laki-laki dan perempuan mengalami penurunan, masing-masing sebesar 1,06 persen dan 0,76 persen.
"Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Februari 2023 sebesar 5,45 persen, turun sebesar 0,38 persen poin dibandingkan Februari 2022. Dilihat dari jenis kelaminnya, TPT laki-laki sebesar 5,83 persen, lebih tinggi dibanding TPT perempuan yang sebesar 4,86 persen," ujarnya.
TPT laki-laki dan perempuan mengalami penurunan, masing-masing sebesar 0,48 persen poin dan 0,23 persen poin jika dibandingkan Februari 2022. Apabila dilihat menurut daerah tempat tinggal, TPT perkotaan (7,11 persen) jauh lebih tinggi dibandingkan TPT di daerah perdesaan (3,42 persen).
Apabila dilihat berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh angkatan kerja, TPT pada Februari 2023 mempunyai pola yang hampir sama dengan Februari 2022. Pada Februari 2023, TPT tamatan SMK masih merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 9,60 persen.
Sementara itu, TPT yang paling rendah adalah pendidikan SD ke bawah, yaitu sebesar 3,02 persen. "Dibandingkan Februari 2022, penurunan TPT terjadi pada semua kategori pendidikan dengan penurunan terbesar pada kategori pendidikan SMK sebesar 0,78 persen," tandasnya. (ndu/k15)
Catur Maiyulinda
@caturmaiyulinda
Editor : izak-Indra Zakaria