Menyandang status sebagai produsen terbesar minyak kelapa sawit di dunia membuat Indonesia harus terus bersiap menghadapi persaingan dan harga yang fluktuatif. Juga kampanye negatif dari Uni Eropa.
SAMARINDA - Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengatakan, eskalasi geopolitik yang memanas antara Rusia dan Ukraina belum mereda. Kondisi ini memberikan dampak pada suplai minyak nabati global dan membuat persaingan semakin sengit. Pada awal 2022, harga minyak sawit dunia mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah. Disebabkan isu geopolitik yang terjadi di Rusia dan Ukraina dan ditanggapi dengan berbagai kebijakan dalam negeri yang turut mengguncang pasar minyak nabati global.
“Tahun ini, harga sawit cenderung normal, namun mulai masuknya stok minyak bunga matahari dari Rusia dan Ukraina, serta meningkatnya produksi minyak nabati lainnya ke pasar global menyebabkan tingginya stok minyak nabati di India. Ini harus diantisipasi karena mereka salah satu negara importir terbesar minyak kelapa sawit,” jelasnya saat Press Conference IPOC 2023 secara daring, Selasa (3/10).
Selain terkait supply dan demand, industri kelapa sawit juga masih terus berkutat dengan kampanye negatif yang kemudian dituangkan dalam kebijakan yang menjadi hambatan dagang di pasar global, di antaranya adalah Kebijakan Deforestasi Uni Eropa (EUDR). Implikasi EUDR dikhawatirkan berdampak besar bagi industri kelapa sawit, terutama bagi para petani sawit.
Pasalnya, pasokan minyak sawit saat ini didominasi oleh petani di antaranya Indonesia 42 persen dan Malaysia 27 persen. Menghadapi pasar yang tidak menentu tersebut, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) kembali menyelenggarakan 19th Indonesian Palm Oil Conference and 2024 Price Outlook (IPOC 2023) pada 1-3 November 2023 di Bali International Convention Center, Westin Resort, Nusa Dua Bali, dengan mengusung tema Enhancing Resiliency Amid Market Uncertainty.
“Konferensi ini menawarkan analisis situasi pasar minyak nabati dunia, sehubungan dengan peraturan global terkini dan dampaknya terhadap industri minyak sawit, kebijakan minyak sawit Indonesia dan perspektif pasar dari negara-negara importir minyak sawit,” ungkapnya.
IPOC merupakan wadah para pemangku kepentingan baik tingkat nasional maupun internasional, untuk bersama-sama membahas isu-isu strategis seputar industri kelapa sawit. Selain konferensi, juga akan diselenggarakan pameran untuk memberikan informasi mengenai perkembangan terkini teknologi, produk, dan layanan di industri kelapa sawit.
Dengan animo peserta yang tinggi setiap tahunnya, penyelenggaraan konferensi tahun ini dilaksanakan tatap muka secara penuh untuk meningkatkan antusiasme peserta. Penyelenggaraan konferensi tahun ini secara optimis dapat menembus angka 1.500 peserta yang akan hadir dari berbagai belahan dunia. (ndu/k15)
Catur Maiyulinda
@caturmaiyulinda
Editor : izak-Indra Zakaria