BALIKPAPAN-Bank Indonesia (BI) mencermati perkembangan inflasi di daerah. Sebagaimana rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada November 2023, inflasi Balikpapan tercatat sebesar 0,44 persen (month to month). Angka itu lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Adapun secara tahunan inflasi Kota Minyak tercatat sebesar 3,41 persen (year on year/yoy).
Terdapat tiga komoditas utama yang menjadi pendorong inflasi selama tahun 2023. Yakni beras, tarif angkutan udara, dan bahan bakar rumah tangga. Sementara komoditas pendorong deflasi terbesar, yakni semen, tomat, dan bawang merah. “Dari sisi pengendalian inflasi, hingga akhir 2023, BI meyakini bahwa inflasi nasional akan tetap terkendali dalam rentang sasaran 3±1 persen,” sebut Kepala Perwakilan BI Balikpapan R Bambang Setyo Pambudi.
Selanjutnya, didukung oleh konsistensi kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang digaungkan bersama, pada 2024 dan 2025 inflasi diyakini akan berada pada rentang 2,5±1 persen.
Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama Prianto mengatakan, perkembangan harga berbagai komoditas pada November 2023 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan pihaknya, bulan lalu terjadi inflasi sebesar 0,44 persen, atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 114,62 pada Oktober 2023 menjadi 115,12 pada November 2023.
Dengan tingkat inflasi tahun kalender November 2023 sebesar 3,20 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (November 2023 terhadap November 2022) sebesar 3,40 persen.
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga lima kelompok pengeluaran. Yakni kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,86 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,90 persen. Kelompok kesehatan sebesar 0,06 persen. Kelompok transportasi sebesar 0,78 persen, dan perawatan pribadi serta jasa lainnya sebesar 1,28 persen.
Sementara itu, dua kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks harga, yaitu kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar -0,29 persen dan rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar -0,01.
Lalu, Marinda mengatakan, terdapat empat kelompok yang tidak mengalami perubahan indeks harga adalah kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Kelompok pendidikan, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran.
Komoditas yang memberikan andil/sumbangan terbesar terhadap terjadinya inflasi adalah cabai rawit yang mengalami kenaikan indeks harga sebesar 32,65 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,1153 persen.
Selanjutnya komoditas angkutan udara dengan kenaikan indeks harga sebesar 4,82 persen dan andil sebesar 0,1036 persen. Diikuti komoditas beras dengan kenaikan indeks sebesar 2,34 persen dengan andil sebesar 0,0825 persen.
Komoditas emas perhiasan mengalami kenaikan 4,19 persen dengan andil 0,0554 persen. Selanjutnya, bayam mengalami kenaikan 26,27 persen dengan andil 0,0296 persen.
Sementara itu, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap terjadinya deflasi adalah kacang panjang yang mengalami penurunan indeks harga sebesar -10,53 persen dengan andil sebesar -0,0175 persen. Diikuti oleh buah pir yang mengalami penurunan indeks harga sebesar -11,38 persen dengan andil sebesar -0,0151 persen, serta bensin yang mengalami penurunan indeks harga sebesar -0,36 persen dengan andil sebesar -0,0111 persen.
“Lima komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi itu ialah cabai rawit, beras, bayam, kopi bubuk, dan cabai merah. Sementara, lima komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi, yaitu kacang panjang, buah pir, minyak goreng, ikan layang/ikan benggol, dan telur ayam ras,” bebernya. (rom/k15)
ULIL
yin.khazan@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria