Batik Berau, Pemberdayaan Perempuan hingga Menjaga Warisan Budaya
Raden Roro Mira Budi Asih• 2024-05-17 12:02:49
WASTRA: Batik jadi salah satu wastra warisan budaya. Untuk itu, Putri (kanan) mengembangkan batik di kampungnya dan menilai potensinya semakin besar.
Prokal.co - Selalu ada hikmah di balik suatu kejadian. Pandemi Covid-19 pada 2020 lalu, menjadikan peluang usaha batik makin terbuka.
Mengembangkan wastra, memperkenalkan daerah lewat tagline goresan cerita cinta. Tanpa terkecuali, warga di Kampung Maluang, Gunung Tabur, Berau juga terkena dampak ekonomi dari pandemi.
Saat itu, Putri masih menjabat sebagai lurah. Dia mencoba melihat dari kacamata berbeda. Apa yang bisa jadi peluang dan diberdayakan agar masyarakat tetap produktif.
“Kebetulan di kampung sini pernah diadakan pelatihan membatik. Tapi, memang belum jalan. Nah, sisa-sisa material perlengkapan membatik yang ada di balai desa itu coba kami kumpulkan. Coba produktif, bikin-bikin batik sendiri,” bebernya.
Di lain sisi, Putri juga pernah mengikuti lomba desain batik dan meraih juara pertama. Hadiahnya adalah belajar membatik langsung ke Pekalongan.
“Sudah beberapa tahun lamanya, empat hari pelatihan. Jadi ceritanya, saya coba menggali lagi teknik-teknik membatik itu dan saya ajarkan ke warga kampung,” lanjut dia.
Kurang dari satu bulan, lembar demi lembar kain berhasil diproduksi. Coba ditawarkan di media sosial, ternyata laku.
“Begitu seterusnya, setiap selesai membatik di-posting loh kok laku lagi. Ketagihan lah. Mulai produktif bersama ibu-ibu di kampung sini,” ungkap Putri.
Dia pun merancang target. Termasuk membuat motif yang sesuai dengan kearifan lokal. Apalagi, Berau yang terkenal dengan wisata bahari, maka itu juga yang jadi referensi terciptanya berbagai motif khas.
Terbilang baru, Putri tetap konsisten menjalankan usaha tersebut. Utamanya adalah pemberdayaan perempuan.
“Kita tahu pandemi itu kan dari sisi ekonomi terdampak semua. Jadi harapannya, ibu-ibu di sini bisa menghasilkan juga untuk memperkokoh keuangan rumah tangga,” kata ibu tiga anak itu.
Usaha itu diberi nama Putri Maluang Batik. Seiring berjalannya waktu, mulai mengarah ke peningkatan kualitas. Putri juga aktif lakukan pelatihan untuk warga sekitar.
Hingga 1,5 tahun usaha itu berjalan sejak akhir 2020, mulai dilirik berbagai instansi untuk dibina.
“Ikut kurasi sampai jadi terbaik provinsi pada tahun 2023. Semua detail pokoknya, mulai pengemasan dan lain-lain. Mulai mengajar ibu-ibu kampung itu 2022, karena dari segi pasar ternyata bagus,” sebut perempuan kelahiran 1983 itu.
Dengan berbagai teknik membatik, diakui jika setiap lembar yang dihasilkan akan memiliki keunikan tersendiri. Tak akan sama. Dia pun membuat tagline, Goresan Cerita Cinta. Sebab, menyesuaikan permintaan pasar.
“Misal dari instansi, pesan batik untuk menggambarkan dinasnya. Seperti Dinas Tanaman Pangan, oh request gambar padi.
Itu bisa disesuaikan. Jadi, makanya setiap produksi dan motif di batik itu punya ceritanya masing-masing,” papar Putri.
Kini, sedikitnya ada 10 orang yang membantunya jalankan usaha. Mulai produksi hingga di galeri. Lokasi workshop dan galeri pun berdekatan. Secara sengaja, Putri juga mengarahkan tamu atau pembeli untuk mampir ke workshop terlebih dahulu.
Sebab itu juga bagian dari ikhtiarnya untuk edukasi mengenai batik. Bahwa setiap daerah memiliki kekayaan masing-masing yang dituangkan lewat batik.
“Orang tidak akan saya arahkan ke galeri sebelum ke workshop dulu. Biar tahu produksinya. Biar bisa menghargai, bahwa kita punya warisan budaya yang harus benar-benar dilestarikan,” jelasnya bersemangat.
Sudah ada 13 motif yang paten HAKI. Putri juga melihat potensi batik utamanya di Berau begitu besar. Masyarakat juga mulai membudayakan batik dalam pakaian keseharian, apalagi batik lokal.
Perajin juga mulai banyak. Tak hanya khusus batik, Putri juga terbuka untuk seluruh perajin kriya lainnya. Kerja sama dalam bentuk kolaborasi.
Misal, tas anyaman rotan yang kemudian diberi sentuhan batik produksinya sebagai tambahan hiasan.
“Branding sudah ada, jadi enggak terlalu sulit sekarang untuk memperkenalkan batik. Kendalanya ada dua sih, pertama di bahan baku karena masih dari Jawa semua.
Kadang ongkos kirimnya lumayan. Sama sumber daya manusia (SDM), kalau saya beri pelatihan itu agak kurang minatnya,” kata dia.
Putri juga berharap, untuk mendukung perkembangan ekonomi kreatif khususnya kriya tekstil batik ini, pemerintah bisa menerbitkan peraturan daerah (perda).
Setidaknya, bangga menggunakan batik daerah. Sebab, dari segi kualitas pun bersaing, serta menggambarkan kearifan lokal. (/ndu/k15)