Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Alexis Mac Allister Sebut Mo Salah Pemain Terbaik Kedua Setelah Messi Saat Bertukar Kaus

I
Alexis Mac Allister dan Mo Salah.
Alexis Mac Allister dan Mo Salah.

Advertisement

 
Sebuah momen penuh emosional dan rasa hormat yang tinggi tersaji pascapeluit panjang ditiupkan. Di tengah drama dan atmosfer pertandingan yang menguras air mata, gelandang Argentina, Alexis Mac Allister, tertangkap kamera menghampiri bintang Mesir, Mohamed Salah, untuk bertukar kaus dan memberikan pelukan hangat.

Bagi Mac Allister, melihat sosok tangguh seperti Salah runtuh dan patah hati di atas lapangan adalah pemandangan yang sangat menyakitkan. Dalam wawancara pascapertandingan, Mac Allister tidak ragu memberikan penghormatan tertinggi kepada rekan setimnya di Liverpool tersebut. Ia bahkan menyejajarkan Salah dengan sang legenda hidup, Lionel Messi.

"Jika melihat seseorang menangis secara emosional dan patah hati, maka seharusnya bukan Mo Salah. Tapi inilah sepak bola," ujar Mac Allister dengan penuh simpati. "Dia bisa dibilang adalah pemain kedua terbaik yang pernah saya mainkan bersamanya setelah Lionel Messi. Dia memberikan segalanya hari ini dengan banyak pengorbanan yang dilakukan dalam pertandingan."

Advertisement

Mac Allister juga mengungkapkan alasan emosional mengapa ia harus mendapatkan kaus Salah di akhir laga ini. Ada kesadaran bahwa momen berada di satu lapangan yang sama dengan sang maestro mungkin tidak akan terjadi lagi di masa depan.

"Saya harus bertukar kaus dengannya karena ini mungkin kali terakhir saya melihatnya atau bermain bersamanya di lapangan yang sama," ungkapnya. Lebih dari sekadar rekan di level klub, Salah ternyata memiliki peran besar dalam perkembangan karier sepak bola Mac Allister melalui wejangan-wejangan pentingnya selama ini.

"Saya telah belajar banyak darinya dan dia telah memberikan saya nasihat terbaik dalam sepak bola untuk meraih kesuksesan sejauh ini. Dia pantas mendapatkan rasa hormat saya atas segalanya," tutup gelandang berbakat tersebut.

Advertisement

Meskipun tensi pertandingan berjalan sangat tinggi dan penuh kontroversi, momen sportivitas dan brotherhood yang ditunjukkan oleh Mac Allister dan Mohamed Salah menjadi bukti bahwa di atas rivalitas 90 menit, ada rasa hormat yang abadi. (*)

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Heboh Teori Konspirasi Final Piala Dunia 2026: Argentina 'Dipaksa' Mengalah dari Spanyol demi Mafia?

Heboh Teori Konspirasi Final Piala Dunia 2026: Argentina 'Dipaksa' Mengalah dari Spanyol demi Mafia?

Heboh Teori Konspirasi Final Piala Dunia 2026: Argentina 'Dipaksa' Mengalah dari Spanyol demi Mafia? Kekalahan pahit Timnas Argentina atas Spanyol di partai pamungkas Piala Dunia 2026 masih berbuntut

Madrid Jadi Lautan Merah! Ribuan Fans Hingga Raja Felipe VI Sambut Kepulangan Sang Juara Dunia Spanyol

Madrid Jadi Lautan Merah! Ribuan Fans Hingga Raja Felipe VI Sambut Kepulangan Sang Juara Dunia Spanyol

Timnas Spanyol mendapat sambutan spektakuler setibanya di Madrid usai menjuarai Piala Dunia 2026. Raja Felipe VI, Perdana Menteri Pedro Sanchez, hingga ribuan suporter ikut merayakan keberhasilan La R

Cetak Sejarah Baru! Piala Dunia 2030 Resmi Digelar di 6 Negara dan 3 Benua

Cetak Sejarah Baru! Piala Dunia 2030 Resmi Digelar di 6 Negara dan 3 Benua

Kombinasi tuan rumah ini juga menandai kolaborasi perdana antara dua konfederasi berbeda (UEFA dan CAF) yang memimpin gelaran utama turnamen.  Berkat statusnya sebagai tuan rumah, enam negara yaitu Sp

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer