Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Banjir Terparah Sejak 2019 Rendam Api-Api Bontang: Air Setinggi Pinggang, Warga Menjerit Belum Ada Bantuan

Redaksi Prokal • 2026-02-14 12:08:45
LUMPUH: Aktivitas warga di RT 29 Kellurahan Api-Api terhambat karena kondisi banjir yang menyasar permukiman warga. ADIEL KUNDHARA/KP
LUMPUH: Aktivitas warga di RT 29 Kellurahan Api-Api terhambat karena kondisi banjir yang menyasar permukiman warga. ADIEL KUNDHARA/KP

BONTANG – Kawasan permukiman warga di RT 29 Kelurahan Api-Api, Bontang, kembali lumpuh total akibat terjangan banjir besar pada Sabtu (14/2). Luapan air yang mulai merendam sejak pukul 05.00 Wita dini hari terus mengalami kenaikan hingga siang hari, dengan ketinggian mencapai pinggang orang dewasa. Banjir kali ini disebut-sebut sebagai yang terparah dalam tujuh tahun terakhir, atau sejak kejadian serupa pada 2019 silam.

Heri Subagyo, salah satu warga setempat, menuturkan bahwa debit air hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. Situasi ini memaksa sebagian warga untuk mengungsi, sementara sebagian lainnya memilih bertahan di lantai dua rumah masing-masing demi menjaga harta benda. Akses jalan utama di wilayah tersebut sepenuhnya tidak dapat dilalui kendaraan, sehingga warga harus memarkirkan kendaraan mereka di area Kelurahan dan berjalan kaki menerobos arus untuk mencapai tempat tinggal.

Di tengah kondisi yang memprihatinkan, keluhan mengenai ketiadaan bantuan mulai mencuat. Warga mengaku belum menerima bantuan logistik maupun makanan dari pihak mana pun. Untuk bertahan hidup di tengah kepungan banjir, warga terpaksa berpatungan membeli bahan makanan secara mandiri. Minimnya perhatian dari pihak terkait di saat darurat seperti ini menambah beban psikologis bagi masyarakat yang aktivitas ekonominya terhenti total.

Warga berharap pemerintah kota tidak hanya fokus pada wacana penanganan banjir jangka panjang, tetapi juga tanggap dalam memberikan bantuan darurat berupa makanan siap saji dan kebutuhan logistik dasar saat musibah terjadi. Rasa trauma akan banjir besar 2019 kembali membayangi, apalagi jika cuaca ekstrem terus berlanjut dan intensitas hujan meningkat di wilayah hulu.

Hingga berita ini diturunkan, warga RT 29 Kelurahan Api-Api masih bersiaga sambil berharap adanya respons cepat dari pemerintah maupun badan penanggulangan bencana. Langkah evakuasi dan distribusi bantuan mendesak sangat dinantikan agar dampak banjir tidak semakin memperburuk kesehatan dan kesejahteraan warga yang terdampak. (*)

Editor : Indra Zakaria