Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merasakan Takut dan Empati di Film Lorong

i
Penulis: izak-Indra Zakaria❯

Mayang (Prisia Nasution) tengah bahagia menanti kelahiran buah hatinya. Namun, setelah dia melahirkan, pihak rumah sakit menyatakan bahwa bayinya tak selamat. Tetapi, Mayang yakin bayinya masih hidup. Dia lantas mencarinya di setiap lorong rumah sakit.


Advertisement

 

HANYA ada dua set lokasi yang ditampilkan dalam film Lorong selama 1 jam 33 menit. Rumah sakit serta rumah pasangan Mayang (Prisia Nasution) dan Reza (Winky Wiryawan). Cerita yang ditulis Andy Oesman dan Hestu Saputra memang tak memerlukan banyak latar belakang lokasi. Lebih pada kisah yang dialami Mayang. Alur ceritanya campuran.

’’Ada sedikit kejutan di ending,’’ kata Prisia saat berkunjung ke redaksi Jawa Pos bulan lalu. Akting Prisia tak perlu diragukan lagi meski Lorong menjadi film horor pertamanya. Dia menyampaikan apa yang dirasakan Mayang dengan baik melalui ekspresi wajah dan gestur.

Advertisement

Tokoh Mayang memang menjadi sentral cerita. Dia diceritakan kehilangan buah hatinya setelah melahirkan. Mayang depresi. Pihak rumah sakit menyatakan bahwa buah hatinya dengan Reza tak bisa diselamatkan. Namun, Mayang percaya bayinya masih hidup. Dia berusaha mencari bayinya. Lorong demi lorong rumah sakit ditelusuri.

Suasana film yang mengajak penonton merasakan empati terhadap perasaan Mayang dibangun kuat oleh Hestu Saputra, sang sutradara. Meski, gambarnya cukup melelahkan karena 90 persen adegan dilakukan di dalam ruangan. Serius.

Ada adegan yang bikin kaget nggak? Ada, tetapi konvensional. Misalnya, si hantu mengeluarkan jari di balik gorden atau muncul di pojokan tembok. Lawas sih. Sebab, film thriller atau horor pendahulu sering menampilkan adegan seperti itu.

Advertisement

Menurut Winky Wiryawan yang memerankan Reza, hantu di dalam film hanya pemanis. Sebetulnya film itu menonjolkan narasi tentang perasaan ibu yang kehilangan anak. ’’Yang kemudian kejiwaannya terguncang begitu bayi yang diidamkan lenyap,’’ ungkap aktor 40 tahun tersebut.

Selain Winky dan Prisia, pemain lain yang aktingnya oke adalah Gesata Stella. Dia berperan sebagai seorang suster jahat. Mimik wajah jahat dan aura misterius dibangun dengan baik oleh aktris 33 tahun tersebut. Selain Gesata, ada Nova Eliza dan Ade Firman Hakim.

Amalia, salah seorang penonton yang ditemui di Citra XXI, Jakarta Barat, pada Selasa (17/9) mengaku sempat lompat dari kursi. ’’Suara efeknya kencang dan ngagetin. Nggak kaleng-kaleng. Tapi, aku agak bingung dengan ceritanya, dibuat maju, terus mundur lagi,’’ kata dara 18 tahun tersebut. (sam/c14/jan)

Advertisement
Editor : izak-Indra Zakaria
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Keluarga Suami adalah Hama Tayang Perdana di Balikpapan, Wajib Ditonton Film Sarat Pesan Kehidupan

Keluarga Suami adalah Hama Tayang Perdana di Balikpapan, Wajib Ditonton Film Sarat Pesan Kehidupan

Film Keluarga Suami adalah Hama mendapat perhatian publik usai rangkaian promosi dan penayangan perdana di sejumlah daerah. Jumat (22/5) siang, film ini turut tayang di Balikpapan. Ratusan penonton m

Sold Out di Banyak Kota, Film “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan” Gelar Nonton Duluan di Samarinda dan 40 Kota

Sold Out di Banyak Kota, Film “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan” Gelar Nonton Duluan di Samarinda dan 40 Kota

Ibu Yuke diperankan oleh Lulu Tobing dan lawan mainnya Ibnu Jamil dalam adegan Film "Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan

Nobar “Pesta Babi” di Unikarta, Mahasiswa bersama Jurnalis Suarakan Isu Ekologi

Nobar “Pesta Babi” di Unikarta, Mahasiswa bersama Jurnalis Suarakan Isu Ekologi

Kegiatan nobar film “Pesta Babi” yang dilaksanakan Wamapala Unikarta bersama SMSI Kukar di Food Court Unikarta (Elmo/Prokal.co) Nobar “Pest

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer