Julukan The Godfather of Broken Heart abadi bersama almarhum Didi Kempot. Namun, julukan rajanya lagu-lagu Jawa bertema patah hati sekarang sepertinya sudah layak diberikan kepada sosok bernama Andry Priyanta. Salah satu lagu karyanya, Dumes, belakangan jadi trending di YouTube. Lagu itu mampu menembus sejuta kali tonton. Baik ketika dibawakan Denny Caknan maupun Happy Asmara.
’’Ra pengen.., liane.., pengenku siji mung kowe. Kenyataan e.., dudu aku.., ning njero atimu,’’ begitulah petikan betapa dalamnya lirik lagu tersebut. ’’Lirik yang lebih relate dengan keadaan asmara dan dibalut dengan kata yang sederhana,’’ sebutnya saat ditanya kunci di balik meledaknya lagu-lagu ciptaannya.
Andry merupakan basis grup musik asal Jogjakarta, Ngatmombilung. Saat mulai menulis lagu, dia selalu mendapatkan inspirasi dari kehidupan asmara orang-orang di sekitarnya. Karena jadi yang paling tua, dia kerap jadi jujukan curhatan temannya yang patah hati. Dari curhatan itu, dia bisa menuangkannya pada sebuah lagu. Andry memvisualkan dengan lirik sesuka hatinya.
Dia mengaku, pemilihan diksi menjadi pembeda lagunya dengan lagu lainnya meski sama-sama bertema patah hati. ’’Beberapa kata sedikit hiperbola. Seperti kata-kata, ibarat esok mendung, awan aku kudanan, sore mbok larani, bengi tak tangisi (lirik lagu Pingal),’’ tuturnya.
Sentuhan itu yang selalu muncul dalam setiap karya-karyanya. Bukan hanya pada lagu Dumes atau Pingal, melainkan juga lagu-lagu berbahasa Jawa karyanya yang lain seperti Sanes dan Klebus. Padahal, jika dirunut ke belakang, Andry awalnya bukan pencipta lagu-lagu cinta. Terutama soal patah hati. Karya pertamanya justru anthem klub sepak bola Jogja, PSIM, yang berjudul Aku Yakin dengan Kamu.
Dari situlah dia mendapat tawaran membuat lagu-lagu cinta. Meski awalnya, saat menyodorkan lagu Menepi, dia sempat ditolak salah satu grup musik Jogjakarta, Guyon Waton, karena yang lagi hype saat itu lagu berbahasa Jawa. Lagu-lagu Jawa ketika itu sedang ngetren karena mendiang Didi Kempot.
Sementara itu, Menepi berbahasa Indonesia. Dia pun akhirnya membawakannya di grup musiknya sendiri Ngatmombilung. Guyon Waton kemudian menyanyikan kembali lagu itu dan tembus 54 kali juta tonton di YouTube empat tahun terakhir. Faktor lain dari meledaknya lagu-lagu ciptaan pria 35 tahun tersebut adalah sisi easy listening-nya. Konon, itu karena kelemahan yang Andry punya. Yakni, lemah di dalam mengingat.
Karenanya, saat menciptakan lagu, dia memakai chord yang mudah diingat. Itu alasannya chord lagu-lagu ciptaannya nyaris mirip satu dengan yang lain. Namun, adanya kesamaan tema dan chord tersebut malah membuatnya lebih sulit menelurkan lagu-lagu baru.
’’Kadang mikir, oh yang ini mirip lagu itu, mirip lagu ini, jadi prosesnya sekarang lebih sulit. Takut sama dengan lagu sebelumnya,’’ kelakar Andry. Konon, lagu baru yang akan rilis pekan ini ditulis sebulan lebih sehari. Temanya juga tak jauh-jauh: patah hati. (ren/c12/ayi)
Editor : izak-Indra Zakaria