PROKAL.CO– Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh istilah baru yang mencuri perhatian dunia digital: SEAblings. Fenomena ini mencuat setelah ketegangan antara netizen Asia Tenggara dengan netizen Korea Selatan (Knetz) meledak di platform X. Namun, apa yang terjadi kali ini bukan sekadar fanwar atau perselisihan antar-penggemar biasa, melainkan sebuah pergeseran besar dalam identitas regional.
Banyak pihak merasa terkejut melihat betapa kompaknya netizen dari Jakarta, Bangkok, hingga Manila. Padahal, dalam keseharian, negara-negara tetangga di Asia Tenggara ini sering kali terlibat dalam 'perang saudara' digital atau saling roasting masalah budaya hingga sepak bola. Namun, keberadaan sentimen rasisme dan sikap merendahkan dari pihak luar seolah menjadi katalisator yang menyatukan mereka.
Rasa senasib yang selama ini terpendam muncul ke permukaan. Selama ini, masyarakat Asia Tenggara sering kali terjebak dalam stereotip global yang bias, mulai dari stigma kemiskinan hingga standar kecantikan yang diskriminatif. Ketika identitas regional ini diserang, ego nasional masing-masing negara luruh dan digantikan oleh solidaritas kolektif. Hinaan dari luar kini dianggap sebagai serangan ke seluruh kawasan, bukan lagi sekadar urusan satu negara saja.
Menariknya, salah satu faktor utama kuatnya solidaritas ini terletak pada penggunaan humor sebagai bahasa universal. Netizen Asia Tenggara dikenal sangat kreatif dalam memproduksi meme dan sindiran tajam. Humor menjadi "bahasa bersama" yang menyatukan perbedaan budaya dan bahasa. Meskipun bahasa sehari-hari berbeda, semua orang di Asia Tenggara bisa langsung paham saat melihat meme yang sama. Cara ini terbukti efektif membuat konflik terasa lebih ringan bagi pihak internal, namun tetap terasa ‘pedas’ bagi pihak lawan.
Fenomena ini juga menandai munculnya generasi baru, khususnya Gen Z, yang memiliki tingkat kepercayaan diri lebih tinggi. Tumbuh di era globalisasi digital membuat mereka bangga memamerkan keunikan lokal, mulai dari kuliner hingga standar kecantikan alami yang selama ini mungkin dipandang sebelah mata oleh dunia luar. Mereka bukan lagi sekadar penonton atau konsumen setia budaya global, melainkan pemain aktif yang mampu membentuk trennya sendiri.
SEAblings bukan sekadar tren viral yang akan hilang saat konflik mereda. Ini adalah sinyal kuat bahwa identitas digital Asia Tenggara telah mencapai level baru yang lebih kuat. Jika energi dan momentum ini terus diarahkan ke hal-hal positif, solidaritas regional ini berpotensi bertransformasi menjadi kekuatan besar di panggung digital global. (*)
Editor : Indra Zakaria