Healing Kok Malah Bikin Pusing? Ketika Self Reward Berubah Jadi Jebakan Konsumtif Gen Z

Oleh: Dinnuhoni Trahutomo
Magang Kemenaker Pusjar SKPP LANRI
Tanggal gajian atau uang bulanan masuk rekening, rasanya seperti mendapat kesempatan untuk bernapas lega. Setelah melewati tugas kuliah, pekerjaan yang menumpuk, revisi tanpa akhir, atau hari-hari yang melelahkan, muncul satu pikiran: “Kayaknya aku pantas beli sesuatu untuk diri sendiri.”
Keranjang belanja yang sebelumnya hanya berisi barang incaran akhirnya di-checkout. Makanan favorit dipesan, skincare dibeli, pakaian baru ditambahkan ke lemari. Alasannya sederhana: self-reward. Toh, kita sudah bekerja keras dan berhak bahagia. Namun, masalah mulai terasa ketika kebiasaan tersebut berulang. Belum selesai membayar cicilan sebelumnya, sudah muncul keinginan membeli barang baru. Gaji atau uang bulanan habis sebelum akhir bulan, sementara tagihan paylater justru terus bertambah.
Pertanyaannya, sejak kapan memberi hadiah kepada diri sendiri justru membuat kondisi keuangan semakin terbebani? Fenomena ini memperlihatkan sisi lain gaya hidup generasi Z. Self-reward yang awalnya dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi diri berpotensi berubah menjadi perilaku konsumtif ketika keinginan membeli tidak lagi mempertimbangkan kemampuan finansial.
Self-reward: Bentuk Self-love atau Alasan untuk Checkout?
Self-reward pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah menyelesaikan pekerjaan, mencapai target, atau melewati masa sulit merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap usaha pribadi.
Bentuknya pun tidak harus mahal. Menonton film, menikmati makanan favorit, beristirahat, melakukan hobi, atau membeli barang yang sudah lama diinginkan dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Masalah muncul ketika self-reward mulai kehilangan batas. Setiap kali merasa lelah, sedih, bosan, atau mengalami tekanan, belanja menjadi pilihan utama untuk memperbaiki suasana hati. Akibatnya, keputusan membeli tidak lagi didasarkan pada kebutuhan atau kemampuan keuangan, melainkan pada dorongan emosional sesaat.
Dalam psikologi konsumen, perilaku seperti ini berkaitan dengan emotional spending, yaitu kecenderungan menggunakan aktivitas belanja sebagai respons terhadap kondisi emosional. Jika berlangsung berulang dan sulit dikendalikan, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi pola konsumsi yang tidak sehat.
Dengan demikian, persoalannya bukan pada seberapa sering seseorang memberikan hadiah kepada dirinya sendiri, tetapi apakah keputusan tersebut masih berada dalam kendali dan sesuai dengan kondisi keuangan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


