ISTANBUL – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang penuh spekulasi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penundaan serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran. Langkah ini diambil Trump dengan dalih adanya kemajuan signifikan dalam komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran selama 48 jam terakhir.
Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump mengklaim telah terjadi pembicaraan yang mendalam dan konstruktif untuk mengakhiri permusuhan di kawasan tersebut. Berdasarkan klaim tersebut, ia menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan terhadap pembangkit listrik dan aset energi Iran selama lima hari ke depan.
"Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan negara Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah," kata Trump dalam unggahannya, Senin (23/3).
Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa kelanjutan penundaan militer ini sangat bergantung pada hasil diskusi yang ia sebut akan terus berlangsung sepanjang minggu ini. "Berdasarkan nada dan isi percakapan yang mendalam, terperinci, dan konstruktif ini, saya telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari," tambahnya.
Namun, klaim optimistis dari Gedung Putih tersebut segera dibantah mentah-mentah oleh pihak Teheran. Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, mengutip sumber internal yang menegaskan bahwa sama sekali tidak ada dialog langsung yang terjadi antara kedua negara. Pihak Iran justru menuduh pernyataan Trump hanyalah strategi politik untuk memanipulasi pasar global.
"Komentar Trump adalah bagian dari upayanya untuk menurunkan harga energi dan mengulur waktu untuk melaksanakan rencana militer," tegas sumber dari pihak Iran tersebut. Ia juga menambahkan bahwa tuntutan untuk mengakhiri konflik seharusnya dialamatkan ke Washington, bukan Teheran. "Kami bukanlah pihak yang memulai perang ini, dan semua tuntutan tersebut harus diarahkan ke Washington," imbuhnya.
Situasi ini terjadi di tengah eskalasi yang kian mengerikan sejak serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang termasuk pemimpin tertinggi Ali Khamenei. Iran telah membalas dengan rentetan drone dan rudal ke wilayah Israel serta negara-negara Teluk, yang memicu gangguan besar pada pasar energi dan penerbangan dunia.
Meski Iran mengakui adanya inisiatif dari negara-negara regional untuk menurunkan tensi, ketidakjelasan status dialog ini menunjukkan bahwa ancaman perang terbuka berskala besar masih jauh dari kata usai. Publik internasional kini menanti apakah "gencatan senjata lima hari" versi Trump ini benar-benar akan membawa perubahan, atau justru menjadi ancang-ancang bagi serangan yang lebih destruktif.
Editor : Indra Zakaria