Kasuari adalah mobil listrik karya anak negeri. Sedang menjelajahi Indonesia, Kasuri tiba di Banjarmasin, kemarin (20/2). Ketua tim, Agus Mukhlisin, punya harapan besar atas industri mobil listrik.
----------------------------------------------
SYARAFUDDIN, Banjarmasin
----------------------------------------------
KASUARI telah menjelajahi pulau Jawa dan Sumatera. Sepekan lewat, Kasuari mendarat di pulau Kalimantan. Melaju dari Pontianak dan memasuki Banjarmasin pada Selasa (19/2) malam.
"Tapi ini baru separo perjalanan. Masih ada Balikpapan, lalu bergeser ke pulau Sulawesi. Dari Manado kami menuju Papua. Dari Merauke, daerah Indonesia paling Timur, kami bergerak ke arah Barat," tutur Agus.
Targetnya, pada awal Mei perjalanan sejauh 15 ribu kilometer itu tuntas. Finish di Surabaya, garis start petualangan tersebut.
"Saya bisa membayangkan. Kami finish di depan Tugu Pahlawan Surabaya," imbuhnya.
Bertajuk PLN BLITS Explore Indonesia, Perusahaan Listrik Negara (PLN) menjadi sponsor penuh.
Sedangkan BLITS, merupakan singkatan dari Universitas Budi Luhur dan Institut Teknologi Sepuluh November. Anak-anak kampus inilah yang merancang mobil listrik.
Badan Agus memang ceking. Tapi dia menyimpan banyak ide gila.
"Kami punya semboyan, stupid but spirit! Karena dalam pandangan orang awam, ini kebodohan yang dibuat-buat. Tapi bermodal semangat, kebodohan itu berhasil dikalahkan," ujarnya tergelak.
Agus dan kawan-kawan jelas tidak bodoh. Gagasan ini berawal dari kegelisahan. Industri lokal sebenarnya sanggup membuat spare part mobil. Terkecuali komponen utama berupa mesin.
"Ini strategi orang asing agar kita terus-menerus ketergantungan," imbuhnya.
Padahal, negara-negara maju tempat mobil-mobil itu produksi telah lama mengembangkan listrik untuk transportasi. Contoh Amerika Serikat. Kereta listriknya mampu menempuh jarak 100 kilometer hanya dalam waktu 30 menit.
Maka, tengoklah sejenak ke jalan raya. Apakah ada mobil merek lokal? Jawabnya tak ada. Padahal, Indonesia membutuhkan pasokan 1 juta unit mobil per tahun. Plus 8 juta unit sepeda motor. Ini pasar yang menggiurkan.
Dan Kasuari datang untuk mengisi potongan puzzle yang kosong.
"Betul, secara interior dan eksterior, karya kami memang ketinggalan jauh. Tapi dijamin, mesinnya 100 persen hasil rancangan anak bangsa," tegasnya.
Penjelajahan bukan semata ajang promosi. Tim BLITS ingin menguji ketahanan, keamanan, dan performa mesin.
Kasuari telah menerobos badai di Jambi. Melawan banjir di Palembang. Kini menjajal hutan Kalimantan.
"Apakah mesin kami sanggup melewati jalanan Indonesia? Itu yang hendak dijawab," tukasnya.
Lalu, mengapa listrik? Sebagai engineer, Agus melihat listrik sebagai bahan bakar yang bisa diolah dari apapun. Dari sumber daya alam tak terbarukan maupun terbarukan. Dari batu bara hingga tenaga angin.
Kasuari disokong baterai berdaya 35 KWH. Dalam kondisi penuh, cukup untuk menempuh jarak 150 kilometer dengan kecepatan maksimal 140 km/jam. Pengecasan membutuhkan waktu empat jam.
Sebagai perbandingan, jarak 150 kilometer membutuhkan Rp75 ribu untuk uang bensin. Sedangkan untuk listrik, cukup membayar Rp45 ribu. "Jadi Rp75 ribu versus Rp45 ribu. Sudah jelas, lebih murah mana," tegas Agus.
Bukan hanya ramah bagi kantong, mobil listrik juga ramah lingkungan.
"Enggak bising, suara mesinnya lebih silent. Gas buangnya juga enggak bikin polusi," bebernya.
Sementara kerjasama dengan PLN, seolah telah menjadi suratan takdir.
"Kami menganggap nasionalisme PLN tinggi sekali. Pegawainya mau saja ditugaskan di daerah pelosok. Jauh dari rumah, anak dan istri," pujinya.
Tim BLITS dijamu di gedung PLN UP3 Banjarmasin, Jalan Lambung Mangkurat. Manajer Senior Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN Wilayah Kalsel-Teng, Priyo Wurianto berharap kedatangan Kasuari bisa menjadi inspirasi di Bumi Antasari.
"Kita tahu cadangan bahan bakar fosil terus menipis. Ternyata, anak-anak muda bisa merancang kendaraan dari energi alternatif," ungkap Priyo.
Dalam acara itu, diluncurkan Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) di halaman parkir kantor PLN.
Lebih mungil dari SPBU, dari sini lah mobil-mobil listrik masa depan diisi ulang.
"Ini bagian dari gerakan PLN. Listrik bukan cuma untuk menyalakan kompor. Tapi juga hal lain, bahkan sebuah mobil," timpal Priyo.
Mewakili Wali Kota Banjarmasin, hadir Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Doyo Pudjadi.
"Ini bukti bahwa anak muda Indonesia sebenarnya tidak bodoh. Mereka cuma minder. Kadang juga agak lamban," ujarnya.
Dia menyatakan, Pemko Banjarmasin siap mengulurkan bantuan ketika diminta. Tanpa bantuan pemerintah, dia meyakini nasib Kasuari bakal teronggok di bengkel kampus.
"Pemerintah jangan cuek. Bayangkan, berapa triliun rupiah yang bisa dihemat dari pengurangan subsidi BBM," imbuhnya.
Doyo sempat menjajal motor trail listrik yang menemani mobil Kasuari. Dia kaget ketika mendengar suara mesin yang mulus.
"Saya dibuat terkagum-kagum. Baiklah, 700 ribu warga Banjarmasin bakal mendoakan tim Kasuari selalu sehat wal afiat," pungkasnya. (fud/by/ran)
Editor : berry-Beri Mardiansyah