Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Desa Mantaas, HST Tak Disentuh Pembangunan karena Alasan Unik

miminradar-Radar Banjarmasin • Rabu, 6 Maret 2019 - 17:37 WIB

Menjadi salah satu desa penyuplai ikan terbanyak di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), tidak membuat Desa Mantaas diperhatikan oleh pemerintah setempat. Sebaliknya selama bertahu-tahun, 2.313 penduduknya merasakan terisolir karena infrastruktur jembatan dan jalan yang tak kunjung dibangun.

Jembatan kayu ulin itu lantainya rusak berat. Bila dilewati, jembatan sepanjang 10 meter berderak-derak menakutkan. Jika tidak hati-hati, bakal terjatuh sungai. Maklum, tidak satu pun sisi kiri dan kanan jembatannya yang memiliki pagar penyangga.

Parahnya, kondisi ini bukan hanya terjadi pada satu jembatan. Total, ada delapan jembatan yang kondisinya rusak berat. Padahal lokasi Mantaas hanya 30 kilometer dari ibukota HST, Barabai. Tidak hanya jembatan, akses utama jalan desa pun memprihatinkan.

Entah apa penyebabnya, kondisi Mantaas bebeda dengan desa tetangganya yakni desa Sungai Buluh dan Rantau Bujur yang berada dalam satu kecamatan Labuan Amas Utara (LAU). Dua desa itu sudah diaspal mulus sementara Desa Mantaas masih berkarpet tanah berbatu. Bila hujan menyisakan becek dan lubang.

Dihuni 936 kepala keluarga dengan kawasan yang didominasi oleh rawa, 70 persen warga Desa Mantaas berprofesi sebagai nelayan, 20 persen sebagai peternak dan 10 persen sisanya merupakan pedagang. Permukiman dibangun di atas air. Bila hujan turun, air tak hanya sampai menggenangi perumahan warga, tapi akses berupa jalan utama yang memiliki panjang 7 kilometer.

Penulis menemui Kepala Desa Mantaas, Mahyuni, Senin (4/3) pagi. Lelaki asli Mantaas, ini masih mengingat dengan jelas kejadian di tahun 2015 lalu. Waktu itu, ruas jalan utama di desanya berubah menjadi danau akibat diguyur hujan lebat di musim penghujan. “Awalnya masih bisa dilewati dengan kendaraan bermotor, malah harus dilewati dengan perahu,” ujarnya.

Langkah konkret pun dilakukan untuk mengubah nasib desanya. Mereka mengusulkan pembangunan setiap tahunnya pada musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) di tingkat kecamatan hingga diteruskan ke tingkat kabupaten. Meski begitu, tak pernah ada realisasi. “Kami juga pernah mengusulkan ke tingkat provinsi, tapi sampai sekarang hasilnya tetap nihil,” ungkap Mahyuni.

Mahyuni menuturkan, di tahun 2013 lalu memang ada pembangunan masuk Desa Mantaas. Namun, hanya sebatas pengerasan jalan dari provinsi, tidak ada dilakukan pengaspalan.

Di tahun 2014, harapan warga desa melambung lagi. Dia mendengar ada anggaran dari Pemerintah Provinsi sekitar 4,9 miliar untuk kelanjutan pembangunan jalan. “Sayangnya, hal itu justru tertahan dengan alasan tidak ada satu pun kontraktor yang mau mengerjakan, alasannya karena adanya premanisme dan berbagai hal mengacu pada pembangunan tahun 2013 lalu yang dinilai bermasalah,” tuturnya.

Sementara itu, di tahun 2017, ketika dia sudah terpilih menjadi Kepala Desa, Mahyuni, mengaku pernah dipanggil dan diminta menjamin keamanan dan kenyamanan pembangunan jembatan. Hanya saja letaknya berada di desa tetangga, yakni, Desa Rantau Bujur. “Alasan Bupati waktu itu, pembangunan harus dari muara terlebih dahulu (Rantau Bujur. Red). Nantinya berlanjut ke Mantaas,” jelasnya.

Namun, harapan agar pembangunan dilanjutkan pun tak kunjung terealisasi. Alih-alih dilanjutkan, Desa Mantaas justru seperti dianaktirikan. Sebagai contoh, dari total panjang 7 kilometer jalan utama di Desa Mantaas, hanya RT 1 yang diaspal. Sementara 6 kilometer sisanya belum ada tanda-tanda perbaikan, termasuk jembatan-jembatannya. “Jangankan bupati, Anggota DPRD pun enggan berkunjung ke Desa Mantaas, untuk melihat langsung keadaanya,” ujarnya.

Perlu diketahui, jalan beserta jembatan penghubung yang ada di desa tersebut merupakan akses utama untuk mengangkut hasil perikanan dan akses utama ke Kota Barabai, hingga ke kabupaten tetangga. Mantaas adalah pemasok ikan terbanyak untuk Kabupaten HST. Ternak ayam dan kerbau juga dibudidayakan di desa ini dan dipasok ke luar.


Agar jembatan bisa terus dilewati, Mahyuni bersama warga Desa Mantaas lainnya rela gotong royong untuk memperbaiki jembatan. Mulai dari menyediakan batang pohon kelapa hingga ke tahap pemasangan agar akhirnya bisa dilewati. “Kami tidak bisa menunggu jatuh korban, baru kemudian memperbaiki. Ini saja sudah hampir waktunya diganti,” ujar Mahyuni.

Terkait hal tersebut, Camat Labuan Amas Utara (LAU), Muhammad Anhar, mengatakan pihaknya selalu mengupayakan agar akses jalan utama berikut jembatan di Desa Mantaas, bisa cepat diperbaiki. Alasannya, jembatan-jembatan yang terbuat dari kayu itu sudah sangat memprihatinkan. Tak hanya menyulitkan masyarakat setempat, tapi juga menyulitkan anak-anak sekolah dasar yang kerap melintas.

“Setiap musrenbang selalu diusulkan. Bahkan kami letakkan pada darurat atau mendesak. Lebih tinggi daripada skala prioritas. Selain itu, kalau dilihat dari SDM serta kinerja pemerintahan Desa Mantaas juga sudah baik. Misalnya, laporan keuangan yang mendapatkan posisi nomor 2 terbaik se Kecamatan LAU. Termasuk ketertiban pembayaran PBB yang selalu tepat waktu,” ungkapnya.

Lalu kenapa tak kunjung dikerjakan?

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, melalui Kepala Bidang Bina Marga Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten HST, Akhmad Nor Jauhari tak menampik memang belum ada pembangunan di Desa Mantaas dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini karena tak ada satu pun kontraktor yang mau menggarap kawasan tersebut. “Sampai tiga kali lelang proyek digelar, tidak ada yang mau menerima,” ujarnya.

Di tahun 2019 ini, pihaknya bakal mengupayakan melalui usulan kepada pihak Provinsi agar pembangunan di Desa Mantaas bisa direalisasikan. Khususnya perbaikan jembatan dan jalan.

“Kalau nanti disetujui, kemungkinan akan dikerjakan di tahun 2020. Tapi sekali lagi keputusan itu ada pada pihak provinsi. Jadi kami hanya mengusulkan,” paparnya, seraya menambahkan bahwa pihaknya juga mulai melakukan penggarapan pembangunan jalan di Desa Tabat Pahalatan yang bakal tembus menuju Desa Mantaas. (war/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Banua Transportasi