BANJARMASIN - Genangan air yang meluber ke di jalan pasca hujan, jadi pemandangan mainstrem di kota ini. Salah satu penyebannya, karena banyaknya drainase yang tak berfungsi.
“Genangan air tak hanya di jalan kota. Namun, di jalan provinsi dan nasional,” terang Kepala Dinas PUPR Banjarmasin, Arifin Noor, kemarin (16/4).
Mirisnya, beberapa ruas jalan bahkan ada yang tanpa drainase. Sehingga, ketika hujan hanya turun sebentar. Genangan air langsung meluber ke jalan. “Belum lagi ditambah saat air sedang pasang,” selorohnya.
Arifin menyebut, anggaran perbaikan drainase tahun ini pun sangat minim. Hanya berkisar Rp9 miliar lebih. Menurutnya, idealnya untuk penanganan drainse di lima kecamatan membutuhkan anggaran Rp50-75 miliar.
“Idealnya penanganan drainase untuk satu kecamatan butuh dana sekitar Rp10 miliar,” hitungnya.
Dia tak memungkiri, endapan lumpur di sejumlah drainse turut menghambat aliran air ke sungai besar. Belum lagi sampah-sampah plastik yang tak bisa mengurai cepat. “Pasukan turbo yang kami miliki sudah sangat maksimal. Mereka tiap pagi bekerja di semua kecamatan,” terangnya.
Di sisi lain, Herma Aryana mengeluhkan genangan air di Jalan Kuripan Banjarmasin. Genangan selalu ada saat hujan turun. Bahkan tingginya hingga mata kaki orang dewasa. “Hujan sebentar saja, jalan di sini sudah tergenang. Kemarin malam bahkan genangan air cukup tinggi,” keluhnya.
Perbaikan drainase di sini terangnya sangat tak optimal. Padahal baru diperbaiki sekitar 2 tahun lalu. Namun, genangan air tetap ada, bahkan semakin tinggi. “Apalagi airnya berbau. Maklum dekat pasar,” tukasnya.
Keluhan serupa datang dari Effendi, warga Pekapuran Raya. Dia tak habis pikir jalan di sini selalu tergenang ketika air hujan turun. Mirisnya, genangan air cukup lama karena tak ada drainase di sisi jalan. “Karena tak ada drainase, akhirnya jalan tergenang,” keluhnya. (mof/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin