BANJARMSIN - Hari pertama Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) mengalami banyak kendala. Salah satunya adalah akses google maps yang macet. Padahal penentuan jarak koordinat lokasi rumah dan sekolah menjadi syarat untuk menentukan zonasi pendaftar.
Setidaknya itulah yang terjadi di SMA 5 Banjarmasin kemarin. Pendaftaran yang sudah dibuka sejak pukul 8 pagi akhirnya terhambat sekitar satu setengah jam. Para pendaftar pun menumpuk. Baru sekitar pukul 9.30 Wita, google maps akhirnya bisa diakses.
“Ya sempat terkendala karena operator tidak bisa menentukan jaraknya," kata Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Banjarmasin, Mukhlis Takwin, Senin (1/7) pagi. Dia mengatakan tak bisa menyerahkan ke pendaftar untuk penentuan koordinat. "khawatir titik koordinat-nya tidak pas,” tambahnya.
Mukhlis tak tahu persis apa penyebabnya. Jika permasalahannya pada jaringan, operator bisa mengakses internet. “Google maps-nya saja yang tidak bisa dibuka, kalau jaringan internetnya bisa,” ujarnya.
Mukhlis menyebut jumlah yang sudah mendaftar di sekolahnya sekitar 180 orang. Diprediksi jumlah itu akan terus bertambah karena waktu pendaftaran hingga 3 Juli besok. Kuota di SMAN 5 Banjarmasin sendiri 288 siswa. "Jalur zonasi 80 persen, prestasi 15 persen dan pindah orangtua 5 persen,” jelasnya.
Kendala pada akses google maps juga terjadi saat PPDB di SMA Negeri 2 Banjarmasin. Namun persoalan ini langsung dilaporkannya kepada pihak penyedia layanan internet. “Kita langsung koordinasi dengan pihak pengelola internet untuk menyelesaikan kendala ini,” kata Kepsek SMA Negeri 2, Bakhtiar.
Di Banjarbaru, para pendaftar juga membeludak di sekolah-sekolah dengan "label" favorit. Di SMAN 1 Banjarbaru misalnya, sudah diserbu pendaftar sejak pagi.
"Dibuka resmi pukul 08.00 Wita. Dari jam 06.30 Wita sudah ada yang datang," kata salah satu petugas keamanan di sekolah yang beralamat di Kelurahan Loktabat Utara ini. Dari data panitia, pendaftar bahkan melebihi kuota nomer antrian yang disediakan. Padahal pengambilan nomer antrean ditutup pukul 12.00 Wita.
Viona, warga Loktabat Selatan mengaku datang cukup awal. Namun ia mendapatkan nomer antrean di angka 170. "Saya pukul 09.00 tiba sudah nomer 170. Memang padat sekali. Ini tidak sempat hari ini terpaksa besok datang lagi," katanya.
Kepala Sekolah SMAN 1 Banjarbaru Eko Sanyoto mengatakan di hari pertama setidaknya ada lebih dari 400 nomer antrean yang diambil pendaftar. Padahal pihaknya hanya menyediakan 256 kuota siswa saja. "Jadi ada yang tidak sempat kebagian nomer antrean karena kita hanya menyediakan 400 saja. Karena memang aturannya untuk nomer antrean hanya sampai pukul 12.00 Wita dan penginputan data 16.00 Wita," kata Eko.
PPDB di salah satu sekolah Favorit ini terbagi empat tahapan. Yakni dari mengambil nomer antrean, pengecekan jarak koordinat lokasi, verifikasi data dan terakhir penginputan data.
"Yang agak lama itu di pengecekan jarak koordinasi lokasi. Jadi kita melacak domisili calon siswa ini dengan lokasi sekolah. Untuk menentukan jauh dekatnya," katanya. Eko mengatakan bahwa pihaknya hanya menuruti aturan sistem zonasi.
"Kita ada kuota delapan kelas. 205 untuk jalur zonasi, sisanya mutasi dan prestasi. Untuk zonasi sendiri penentuannya dipilih dari yang paling dekat dengan alamat sekolah," katanya.
Menariknya, meskipun sistem zonasi telah disosialisasikan pemerintah ke masyarakat, ternyata fakta di lapangan masih ada beberapa orang tua yang ngotot mendaftarkan anaknya di luar zona yang memungkinkan.
"Ini yang juga sebenarnya kita sayangkan. Karena ada beberapa yang secara lokasi lebih dekat ke sekolah lain ketimbang di tempat kita. Nanti kasihan jika tidak masuk karena ada calon siswa yang jaraknya memang lebih dekat dengan kita," ujarnya.
Lalu mengapa bisa demikian? Eko berspekulasi jika label sekolah favorit masih terstigma di kalangan masyarakat.
"Beberapa orang tua ada yang komplain soal ketidaktahuan sistem zonasi ini. Tapi coba kita jelaskan dan beri pengertian," bebernya. Hasil PPDB sendiri akan diumumkan pada 5 Juli 2019. Tahapan PPDB berlangsung tiga hari sejak 1 Juli hingga 3 Juli 2019. (gmp/rvn/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin