TAHUN 2018, sejarawan dari Universitas Jerusalem, Yuval Noah Harari menulis begini: saintis itu penyabar, politisi jelas kurang sabar, tapi pengusaha lah yang paling tidak sabar.
-------------------------------------------
MUHAMMAD SYARAFUDDIN
Editor Metropolis
-------------------------------------------
Dua tahun kemudian, ketika Indonesia dihajar pagebluk, katakata penulis buku Sapiens dan Homo Deus itu menerima pembuktian. Pada 3 April, Menteri Kesehatan menerbitkan peraturan tentang pembatasan sosial berskala besar. Lalu 20 April, permohonan Banjarmasin untuk menerapkan PSBB disetujui.
Posko jaga di perbatasan didirikan. Tes virus digelar di sana-sini. Bantuan beras dan uang tunai dibagikan. Jam malam pun diberlakukan. Agak meleset bila menilai PSBB di Banjarmasin memiliki banyak kekurangan. Lebih tepat disebut menawarkan banyak pengecualian.
Pemko mungkin lupa watak masyarakat awam. Berikan satu pengecualian, mereka akan menuntut dua. Kabulkan, maka warga akan
menagih pengecualian ketiga. Celakanya, PSBB belum berakhir, Presiden Joko Widodo dengan bersemangat menggaungkan tibanya tatanan hidup yang baru pada 25 Mei.
Jokowi memang santun. Beliau tak sampai hati mengatakan herd immunity. Istilah new normal terdengar lebih menenangkan. Sekarang, perhatikan tanggaltanggal di atas. Kadar kesabaran pemerintah ternyata tak sampai dua bulan! Yuval benar, politikus memang kurang sabar.
Setelah diusut, ternyata sebelumnya Jokowi menerima rombongan pebisnis di Istana Negara. Protokol new normal didesakkan.
Jika tak disegerakan, perekonomian terancam bangkrut. Pengusaha memang tidak sabaran. Itulah mengapa mereka tak cocok berteman dengan saintis yang penyabar. Yeah, masa disuruh menunggu penelitian vaksin selama 18 bulan?
Keadaan menjadi pelik karena Banjarmasin masuk dalam daftar kota yang dikawal TNI dan Polri menuju new normal. Sebenarnya, Gubernur Kalsel Sahbirin Noor sudah mengakui. Provinsinya belum siap beranjak normal. Lantaran grafi k kasus terus menanjak, tidak melandai.
Senada dengan Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina. Berkali-kali menyatakan protokol new normal belum diadopsi. Kalau ada yang salah mengira, berarti media yang salah mengutip.
Namun, warga punya teknik sederhana guna mengukur pernyataan pejabat publik yang tercetak di koran. Yakni membandingkan antara sebelum dan sesudah.
Antara perkataan dan perbuatan. Jika mal kembali dibuka, itu normal. Jika jam tayang pasar tradisional tak lagi dibatasi, itu normal. Jika ritel boleh berjualan sampai tengah malam, itu normal.
Dan jika jalan raya kembali macet, itu normal. Kalau masjid, memang sudah normal. Sekalipun ada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagian masjid toh “diam-diam” tetap menggelar salat Jumat berjemaah. Bahkan yang sunah seperti salat tarawih.
Mungkin Yuval harus menambahkan, agamawan juga tak cukup sabar. Meskipun rajin berceramah tentang pahala sabar. Oh, ada satu lagi cara untuk mengulik niat pemerintah. Bukan dengan perbandingan, tapi lewat pengamatan sederhana. Bacalah baliho dan spanduk di persimpangan jalan. Maka di sana tertera dengan gamblang, imbauan dan anjuran new normal.
Andaikan Anda bingung (seperti penulis) menghadapi kebijakan yang plinplan, jangan risau. Karena di negara ini, fenomena itu sesungguhnya tidak abnormal. (*)
Editor : berry-Beri Mardiansyah