Infeksi Covid-19 telah menyebar ke hampir seluruh negara dan hal ini tentunya membawa dampak yang sangat signifikan terhadap seluruh aspek kehidupan manusia. Pemerintah bersama-sama dengan segenap unsur masyarakat telah melakukan berbagai upaya strategis untuk berinovasi dan mengambil langkah preventif dalam rangka meminimalkan dampak infeksi ini, namun sampai sejauh ini kasus penyebaran infeksi terus mengalami peningkatan dan belum menunjukan tanda-tanda penurunan kasus secara nasional.
========================================================
Oleh: Herry Pradana, MBA
Peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Pemprov Kalsel
========================================================
Disrupsi yang diakibatkan oleh infeksi Covid-19 ini kemungkinan akan terus berlanjut untuk periode waktu yang cukup lama. Meskipun pada tahapan ini masih sulit mengkalkulasi secara akurat dampak akibat pandemi ini, namun penyebaran infeksi Covid-19 ini diperkirakan akan menyebabkan resesi global terburuk sejak Perang Dunia II, yang ditandai dengan menurunnya output ekonomi yang terjadi pada hampir seluruh negara.
Dampak pandemi ini juga berimbas pada tingginya angka pengangguran global yang diperkirakan akan naik ke level tertinggi sejak tahun 1965, yang pada akhirnya akan berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat.
Pembangunan manusia menjadi aspek lain yang juga terkena dampak serius dari pandemi Covid-19 ini. Hal ini tentu saja menjadi langkah mundur terkait peluang memaksimalkan bonus demografi yang akan berada pada puncaknya selama periode 2020-2025, sehingga windows of opportunity yang digadang-gadang dapat mengakselerasi pertumbuhan Indonesia besar kemungkinan tidak akan optimal dampaknya. Pada rentang periode tersebut, jumlah penduduk usia tidak produktif akan lebih sedikit, hal ini akan berimbas pada menurunnya biaya investasi untuk pemenuhan kebutuhan penduduk usia tidak produktif.
Kondisi ini memberi ruang bagi pemerintah untuk mengalihkan sumber daya yang ada untuk memacu pertumbuhan ekonomi, serta peningkatan kesejahteraan penduduk secara lebih optimal. Sebaliknya, dampak pandemi secara umum akan meningkatkan angka pengangguran dan pemutusan hubungan kerja masal, sehingga tingginya jumlah penduduk usia produktif yang tidak diiringi oleh lapangan kerja yang memadai akan menjadi sumber permasalahan sosial baru seperti peningkatan angka kemiskinan, putus sekolah, kriminalitas, dsb.
___
IPM Kalimantan Selatan
Dalam menyongsong bonus demografi 2020-2035, pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kalimantan Selatan sebenarnya terus menunjukan tren meningkat dari tahun-ketahun. Selama kurun waktu 2010-2019, IPM Kalsel meningkat dari 65,20 pada tahun 2010 menjadi 70,72 pada tahun 2019 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 0,91 persen per tahun dan berada pada peringkat 22 dari 34 provinsi se-Indonesia.
IPM Kalsel sejak tahun 2018 telah masuk dalam kategori tinggi, namun sampai tahun 2019 hanya ada 5 kabupaten/kota yang pemeringkatan IPM nya masuk dalam kategori tinggi tersebut, yaitu Tapin, Tabalong, Tanah Bumbu, Kota Banjarmasin dan Banjarbaru.
Jika ditelisik lebih lanjut, dari 5 kabupaten/kota yang peringkat IPM-nya termasuk kategori tinggi, hanya Kota Banjarmasin dan Banjarbaru yang peringkatnya di atas rata-rata nasional.
IPM merupakan indeks komposit dari tiga dimensi pembangunan manusia yaitu dimensi kesehatan (umur panjang dan hidup sehat), pendidikan dan ekonomi (standar hidup layak). Pada sektor ekonomi, pengurangan pasokan tenaga kerja yang berakibat pada tingginya tingkat pengangguran dan penurunan daya beli masyarakat dikhawatirkan akan meningkatkan jumlah penduduk miskin dan tingkat ketimpangan.
Hal ini secara umum terjadi dikarenakan kebijakan kesehatan pada masa pandemi difokuskan pada langkah antisipasi dan preventif penyebaran Covid-19 yang didasarkan pada pembatasan interaksi antar individu. Sehingga berakibat pada pengurangan kegiatan ekonomi masyarakat. Terlebih lagi, pada sebagian besar rumah tangga yang rentan, pendapatan seringkali hanya tergantung pada satu orang saja, yang berakibat akan meningkatkan risiko seluruh rumah tangga jatuh miskin.
Sektor pendidikan akan terdampak secara tidak langsung melalui menurunnya pendapatan masyarakat dan penutupan sekolah pada semua tingkatan. Dengan segala ketidakpastiannya pada beberapa bulan kedepan, pendapatan masyarakat akan mendapat tekanan yang sangat serius, sehingga secara umum warga akan membatasi pengeluaran dan mengurangi konsumsi rumah tangganya.
Hal itu akan berimbas pada kemampuan pemenuhan kebutuhan lainnya. Seperti biaya kebutuhan sekolah, sehingga berpotensi pada meningkatnya angka putus sekolah yang diakibatkan oleh kemiskinan.
Selain itu, dengan melihat efek penutupan sekolah dan minimnya adopsi sekolah dalam menggunakan metode pembelajaran daring (dengan segala keterbatasan akses, kapabilitas sekolah dan guru, kekuatan jaringan dan infrastruktur pendukung lainnya), membuat efektifitas belajar dan mengajar menjadi terhambat.
Berdasarkan hal tersebut, pandemi ini berpotensi memiliki dampak yang sangat besar dan luas terhadap seluruh lapisan masyarakat dan secara khusus pada kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah.
Kebijakan social distancing yang dianjurkan oleh pemerintah memiliki implikasi yang tidak setara bagi kelompok masyarakat. Masyarakat dengan pendapatan yang lebih tinggi lebih mungkin untuk dapat bekerja dari rumah, sehingga dapat terus mendapatkan penghasilan tetap dan menjaga hidup sehat.
Di sisi lain, masyarakat yang berpenghasilan rendah mayoritas bekerja pada sektor informal yang mengharuskan adanya interaksi langsung dengan orang lain sehingga memiliki risiko besar untuk terpapar infeksi Covid-19.
UNDP telah memperingatkan bahwa pandemi dapat menghambat kemajuan yang dicapai dalam proses pembangunan manusia secara umum. Kondisi tersebut akan mendorong penurunan IPM secara agregat dan juga diprediksi dapat menghapus semua kemajuan dalam pertumbuhan pembangunan manusia selama 5 tahun terakhir.
Pandemi Covid-19 ini lebih dari sekadar darurat kesehatan global. Ini telah menjadi krisis pembangunan manusia yang bersifat sistemik, yang memengaruhi seluruh dimensi hidup manusia dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kebijakan untuk meniminalisir dampak Covid-19 dan membangun kapasitas untuk mengatasi krisis ini, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang sangat penting untuk direncanakan secara baik dan cermat. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis yang diawali dengan pelaksanaan penelitian dan kajian-kajian akademis untuk memetakan langkah dan upaya untuk meningkatkan pertumbuhan IPM di tengah pandemi ini, agar hasil dan arah pembangunan dapat terukur, terarah dan terkordinir dengan baik. (*/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin