Sekarang opini masyarakat terhadap keberadaan virus Covid -19 sepertinya terbagi menjadi dua kubu. Pertama adalah kubu yang percaya dengan keberadaan virus. Kedua kubu yang yang menganggap bahwa corona adalah hanya konspirasi belaka, tapi kita tidak perlu ikut-ikutan membahas hal tersebut. Karena banyak hal yang lebih penting yang bisa kita lakukan, apalagi kita selaku orang yang beragama.
===================================
Oleh: Wahidah, M.Ag
Guru SMAN 1 Simpang Empat Tanah Bumbu
===================================
Ada atau atau tidak adanya virus corona, benar atau salahnya teori konspirasi tersebut, alangkah baiknya kita ber-husnuzhon” atau positif thingking saja dengan keadaan ini. Karena tidak ada sesuatu apapun yang terjadi di dunia ini dengan kebetulan. Semuanya pasti ada sebab akibat dan tujuan serta hikmahnya.
Yang jelas pandemi Covid-19 ini adalah termasuk jawaban dari kebanyakan resolusi-resolusi masyarakat selama ini yang patut disyukuri dan dinikmati.
Contoh dengan adanya pandemi ini bagi dunia pendidikan yang gencar ingin menghapus UN, dengan sendiri semua siswa di kelas akhir lulus tanpa UN. Kemudian memberikan banyak waktu untuk kembali bersatu dalam rumah dan melakukan aktivitas bersama keluarga, memberikan waktu untuk istirahat bersantai dan bersama keluarga, mengajarkan untuk hidup disiplin, bersih dan sederhana.
Mari mengubah perilaku hidup kita agar lebih disiplin dalam menjaga kesehatan, kebersihan dan menjalankan perintah agama. Ketahuilah bahwa mati itu pasti dan nyata, semua yang ada adalah milik Allah dan kembali kepada Allah, minta ampunan dan pertolongan hanya kepada Allah SWT, yang hikmahnya adalah mematahkan semua kesombongan diri, dan yang menganggap kehebatan sains dan teknologi tidak terkalahkan.
Sebagaimana disampaikan Presiden RI Joko Widodo, kita masyarakat Indonesia dianjurkan hidup berdamai dengan virus corona artinya beradaptasi dengan pola hidup baru dengan menjalankan protokol kesehatan secara ketat (pakai masker, jaga jarak, dan rajin cuci tangan). "Berdamai bukan menyerah, tapi kita harus beradaptasi untuk mengubah pola hidup kita dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat , benar, disiplin".
Jauh sebelum anjuran presiden untuk berdamai dengan virus corona, agama Islam sudah terlebih dahulu mengajarkan umatnya untuk selalu berdamai dengan keadaan dan diri sendiri. Supaya hidup tenang dan damai. Bagaimana caranya berdamai dengan keadaan dan diri sendiri, yaitu dengan berusaha dan bersabar serta ikhlas dan bersyukur.
____
Berusaha dan Bersabar
Diawali dengan berusaha menjalankan pola gaya hidup sehat, sesuai dengan yang ada dalam pelajaran aqidah akhlak, yaitu adab dalam pergaulan dan berpakaian. Islam menganjurkan menutup aurat, menjaga pergaulan, bahkan tidak boleh bersentuhan dan berdua-duan dengan orang yang bukan muhrim. Bukan hanya sekadar memakai masker dan menjaga jarak saja, tapi sudah sangat komplet.
Pola makan sehat dan berimbang, serta perilaku dan etika makan. Misalnya diawali dengan makanan halal. Allah SWT telah berfirman: “Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian”. (Q.S.An-Nahl[16]:114). Penyakit biasanya ditularkan oleh hewan (zoonosis). Islam telah melarang memakan hewan yang tidak layak dimakan, seperti kelelawar, ular,bangkai dan hewan yang tidak disembelih.
Berusaha menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kewajiban untuk membersihkan diri ini ditegaskan Allah SWT dalam Q.S. al-Maidah: 6. "Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu ju nub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau me nyentuh perempuan, lalu kamu tidak mem peroleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kan mu, tetapi Dia (Allah) hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nik mat-Nya bagimu, supaya kamu ber syukur".
Alangkah baiknya bersuci sesuai dengan anjuran agama Islam, karena lebih lengkap dan sempurna, bukan hanya sekadar cuci tangan saja. Dalam hadis juga dianjurkan untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan kondusif. “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, Maha Bersih dan mencintai kebersihan. Maha Mulia dan mencintai kemuliaan. Karena itu bersihkanlah rumah dan halaman kalian dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi” (HR. At Tirmidzi dan Abu Ya’la).
Apabila sudah berusaha melaksanakan semuanya, maka saat tertimpa musibah, ia sabar dalam menghadapi musibah tersebut dan tetap berhusnuzhon atau positif thingking, tidak mengumpat, menyalahkan takdir atau bahkan putus asa. Tetapi ia tetap kuat dan menjadikan musibah tersebut sebagai titik awal menjadi baik. Sabar adalah sebuah tangga yang harus dilalui oleh setiap orang yang mendambakan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Firman Allah SWT; “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”[ Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. ]. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( QS. Al Baqarah 155 : 157).
___
Ikhlas dan Bersyukur
ikhlas adalah untuk menumbuhkan rasa syukur. Menerima setiap momen yang terjadi, baik pahit ataupun bahagia, Ikhlas penting untuk kehidupan, karena dapat membantu melakukan aktivitas dengan tenang dan hati senang. Jika tidak terima dengan keadaan, maka diri sendiri yang akan rugi, membuat pikiran terpaku di titik itu, tidak berusaha berpindah, dan hidup tak akan melangkah ke depan.
Cara agar selalu bersyukur adalah dengan mengurangi mengeluh. Karena mengeluh hanya akan membuat diri kerdil, merasa tidak memiliki kemampuan, dan mendatangkan banyak pikiran negatif.
Beribadah dan menjalin kedekatan hubungan dengan Tuhan Sang Pemilik Rezeki dan Maha Menenangkan Hati adalah salah satu solusi untuk tetap bersyukur. Sering-sering berterimakasih kepada-Nya akan membiasakan diri untuk bersyukur.
Saat ditimpa masalah lihatlah sekeliling kita. Masih sangat banyak orang yang lebih berat masalahnya daripada kita. Segala sesuatunya terjadi karena ketetapan Tuhan. Dengan mengikhlaskan tentu hati akan menjadi lebih tenang dan bisa menghadapi hidup lebih baik lagi. Setelah sabar dan juga ikhlas, maka langkah terakhir adalah bersyukur.
Dengan bersyukur Allah SWT akan melipatgandakan kenikmatan yang diberikannya bagi kita semua, seperti firmanNya dalam Q.S. Ibrahim :7. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim : 7)
Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur dalam hidup ini. Dengan bersyukur semua hal di dunia ini akan terasa lebih indah dan hidup akan selalu bahagia serta nikmat akan bertambah.
Bagaimana cara agama Islam menganjurkan untuk berdamai dengan Covid- 19, yaitu terlebih dahulu berdamai dengan diri sendiri caranya berusaha dan bersabar, berusaha menjalankan semua yang sudah disyariatkan oleh agama. Setelah itu bersabar menerima semua keadaan yang ditentukan Allah SWT, selanjutnya ikhlas dan bersyukur, dengan mengikhlaskan semua keadaan yang ditetapkan oleh Allah SWT tentu hati akan menjadi lebih tenang dan menjalani hidup dengan senang. Langkah terakhir adalah bersyukur, Dengan bersyukur Allah SWT akan melipat gandakan kenikmatan yang diberikannya bagi kita semua. (*/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin