BANJARBARU - Banjarbaru berduka. Sang Wali Kota, Nadjmi Adhani telah meninggal dunia Senin (10/8) dini hari, setelah selama dua pekan dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin karena terinfeksi Covid-19.
Kepergian Nadjmi begitu mendadak. Pasalnya, meski sempat tersebar saturasi oksigennya turun, namun tim dokter di RSUD Ulin mengatakan Nadjmi sebenarnya membaik.
Bahkan Wakil Walikota Darmawan Jaya Setiawan tidak menyangka hal ini terjadi. Darmawan Jaya Setiawan mengatakan kondisi mendiang Nadjmi terbilang naik turun. Bahkan beberapa waktu sebelum meninggal, sempat mengalami perkembangan yang positif. Mendiang katanya sudah bisa makan meskipun porsinya belum normal.
"Beberapa hari yang lalu kami merasa beliau akan sembuh, karena beliau lancar komunikasi dengan kami. Beliau juga sudah mulai makan. Tetapi tiba-tiba makin kesini makin drop," cerita Jaya.
Meski sempat drop, ternyata kondisi almarhum kata Nadjmi kembali membaik. Sehingga meski mengalami masa krisis, pihaknya meyakini bahwa Nadjmi mampu melewati fase tersebut.
"Pagi kemarin (Minggu, red) drop, tapi sore sempat membaik. Nah kami merasa saat itu beliau bisa melewati ini, namun Allah yang menentukan semuanya dan beliau berpulang dini harinya," kenang Jaya.
Apa yang menyebabkan kematian Nadjmi?
Kepala Bagian Tata Usaha RSD Idaman Banjarbaru, M Firmansyah mengungkapkan, sebelum dinyatakan meninggal dunia, Nadjmi Adhani mengalami emboli paru. Ini suuatu kondisi di mana satu atau lebih arteri di paru-paru menjadi terhalang oleh gumpalan darah. "Beliau diketahui mengidap emboli paru pada Kamis (6/8) tadi," ungkapnya.
Emboli paru menurut Firman, membuat proses penyembuhan Nadjmi jadi terhambat. Padahal, sudah memasuki masa pemulihan sejak dinyatakan terpapar Covid-19.
"Namun, kondisi beliau sempat membaik selang beberapa hari kemudian. Bahkan, pada Minggu (10/8) pagi masih sadar dan sarapan bubur. Beliau juga masih berkomunikasi dengan kami melalui WhatsApp,” ujarnya.
Akan tetapi, beberapa jam kemudian atau sekitar pukul 10.00 Wita, emboli paru itu membuat Nadjmi harus menjalani anastesi. Sejak itulah, Wali Kota Banjarbaru tak lagi membuka mata dan pernafasannya harus dibantu dengan ventilator.
“Sejak saat itu, kondisi beliau naik turun dan akhirnya drop pada pukul 00.40 Wita. Dan dinyatakan meninggal dunia pukul 02.30 Wita,” lanjut Firman.
Ihwal kondisi istri Wali Kota Banjarbaru, Ririen yang juga terpapar Covid-19, Firman membeberkan kondisinya sangat sehat. "Beliau tinggal menunggu hasil swab. Tapi, sebenarnya sudah sangat sehat," bebernya.
Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, M Muslim menyatakan, penanganan intensif secara maksimal sudah dilakukan tim medis di RSUD Ulin Banjarmasin. Namun, nyawa Nadjmi tetap tak tertolong. "Selama dirawat di RSUD Ulin, kondisi beliau memang turun naik," katanya.
Dia turut berbelasungkawa atas meninggalnya Nadjmi Adhani. "Semoga beliau husnulkhatimah, semua kebaikan beliau di terima Allah. Serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," ujarnya.(rvn/ris/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin