DINAS Pendidikan Banjarmasin sedang menunggu lampu hijau dari Plt Wali Kota Banjarmasin, Hermansyah.
==========================
Oleh: Muhammad Syarafuddin
Editor Halaman Metropolis Radar Banjarmasin
==========================
Agar SMPN 7, SMPN 10, SMPN 12 dan SMPN 31 bisa dibuka pada November ini. Para kepsek juga telah menyatakan kesiapan.
Dasarnya, Dinas Kesehatan Banjarmasin mencatat per 3 Oktober, 40 kelurahan memasuki zona hijau, selusin lainnya zona kuning. Nol zona merah.
Tapi, apakah tak terlalu berisiko belajar tatap muka di tengah pandemi? Kepada 82 persen orang tua atau wali murid di empat sekolah itu, jawabnya tidak juga.
Sedangkan di 31 SMP lainnya, masih banyak ortu yang khawatir dengan penularan virus corona.
Bagi pelajar yang jemu berbulan-bulan belajar daring, ini kabar baik. Siswa akhirnya menyadari, sekolah itu menyenangkan.
Mereka amat merindukan bau apak kelasnya, omelan gurunya, dan ocehan teman sebangkunya.
Apalagi banyak ortu yang senewen. Bayangkan, cuma jebolan SD, hanya menguasai baca tulis berhitung sederhana, diminta mendampingi anaknya belajar di rumah.
Menghadapi kurikulum anyar yang canggihnya bukan main. Ortu pasti kaget saat menyadari Pluto ternyata bukan planet.
Terpenting, begitu sekolah dibuka, pelajar dan guru sama-sama menjaga. Kenakan masker, jangan dempet-dempetan, dan rajin-rajin mencuci tangan.
Disdik juga bijak mendahulukan SMP dan SMA. Sementara adik-adik mereka di TK dan SD diminta menunggu sampai tahun depan. Melihat umur, memang lebih mudah mengedukasi remaja yang hendak beranjak dewasa.
Pembukaan SMP tanpa serentak ini juga bagus. Empat sekolah ini bisa menjadi uji coba. Kalau ada yang kurang, jangan ditiru yang dibuka belakangan.
Menghadapi skenario terburuk, Disdik harus tegas. Begitu muncul klaster baru, langsung tutup saja. Jangan berkompromi.
Sampai sini, penulis berlagak pro. Mana suara kubu kontra?
Rektor Universitas Airlangga, Prof Nasih menyatakan, vaksin merah putih akan memasuki uji klinis pada Desember nanti. Diprediksi, vaksin paling nasionalis itu bisa diproduksi pada pertengahan tahun 2021 mendatang.
Tanpa vaksin, tak ada yang kebal dari virus ini. Maka wajar jika ada ortu yang belum bisa merelakan anaknya pergi ke sekolah.
Simak penjelasan Presiden Asosiasi Dokter Anak Asia Pasifik, dr Aman Bhakti Pulungan. Dia berani menyatakan, membuka sekolah tanpa vaksin, bakal menyebabkan kematian 1 juta anak Indonesia.
Acuannya, per Juni tadi, ada 7,8 persen pasien corona dengan rentang usia 0-17 tahun. Dan 1,3 persen diantaranya meninggal dunia.
Penulis, sama sekali tak bermaksud menakut-nakuti. Apalagi bagi sebagian orang, pagebluk kalah menyeramkan dibanding terjaring razia masker Satpol PP.
Toh, di sini pub, karaoke, mal, dan bioskop saja sudah dibuka. Pilkada tetap digelar. Dan jalan raya dibanjiri demonstran. Maka membuka sekolah tidak lebih gawat dari itu semua.
Sebab, kita sudah terbiasa hidup dalam standar ganda. (*)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin