Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Harga Diri Supiani Akup: Tak Berpunya, Pantang Meminta-Minta

miminradar-Radar Banjarmasin • 2021-04-02 15:05:42
YANG PENTING HALAL: Supiani Akup tertawa lepas bersama karet gelang dagangannya di Siring Ujung Murung. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
YANG PENTING HALAL: Supiani Akup tertawa lepas bersama karet gelang dagangannya di Siring Ujung Murung. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Cedera kaki membuatnya tak lagi bisa mengojek. Tapi ia menyadari harus tetap mencari nafkah.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --

Matahari sedang terik-teriknya, Rabu (31/3) siang. Tapi Supiani Akup masih setia menunggui dagangannya.

Di bawah rindangnya pepohonan, beralaskan kardus bekas, lelaki 68 tahun itu asyik memilah warna-warni karet gelang.

Sudah lebih setahun ia berjualan karet gelang di Pasar Ujung Murung, Banjarmasin Tengah.

Dianyam seperti tali, ukurannya beragam. Dari satu meter hingga lima meter. Yang paling panjang dijual dengan harga Rp50 ribu. Sedangkan yang paling pendek dijual Rp5 ribu.

"Kadang laku, kadang tidak. Kalau laku, alhamdulillah. Kalau tidak, besok jualan lagi," tuturnya tersenyum.

Akup berjualan setiap hari tanpa mengenal hari libur. Sejak pagi sampai sore. Saat ditemui penulis, sudah dua anyaman yang laku.

"Kata si pembeli, ingin membelikan anaknya yang suka main lompat tali," ungkapnya.

Sebenarnya, Akup bukan warga asing di pasar itu. Jauh sebelum berdagang karet gelang, selama 35 tahun ia menarik ojek di situ.

Tapi pekerjaan itu ditanggalkannya. Bukan atas keinginannya. Suatu ketika, Akup terjatuh dari sepeda motor yang dikendarainya. Kakinya terkilir, memaksanya beristirahat cukup lama.

"Sudah diurut, tapi tak bisa sembuh seperti sedia kala. Untuk berjalan saja harus memakai tongkat," kisahnya seraya tergelak.

Tanpa motornya, Akup cemas. Bagaimana nantinya ia mencari nafkah? Syukur, Akup lekas menyadari, asalkan mau berusaha, rezeki pasti menghampirinya.

Selagi beristirahat di kontrakannya di Jalan Pekapuran B, Akup melihat karet gelang yang menggantung di dinding rumah.

Dia teringat anak-anak perempuan yang suka bermain lompat tali dengan karet gelang. "Di situ muncul keinginan saya untuk menjual karet gelang. Alhamdulilah keterusan sampai sekarang," tambahnya.

Akup adalah ayah dari empat anak. Istrinya tinggal di rumah, bekerja sebagai pembuat kasur. Tepatnya memasukkan kapas ke dalam buntelan kain.

"Tak cukup kalau hanya mengandalkan pemasukan istri. Lagi pula, sebagai laki-laki saya harus bekerja," tegasnya.

Akup cukup sadar, berjualan karet gelang di zaman digital seperti sekarang, tentu sulit laku. Mainan anak-anak semakin canggih.

Namun, bagaimana pun, selama halal, usaha ini layak dilakoni. "Saya bukan orang berpunya. Tapi saya pantang meminta-minta. Kalau mengemis, uangnya pasti enggak enak dibelanjakan," tutupnya. (aty/fud/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Feature Inspirasi