Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah.
=========================
Oleh: Hj Noor Baytie, SH, M.Pd
Kepala SMAN 13 Banjarmasin
=========================
Adapun tugas profesi guru dapat dibagi tiga macam, yaitu tugas profesional, sosial, dan personal. Tugas profesional guru meliputi mendidik, mengajar dan melatih/membimbing, serta meneliti.
Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melatih/Membimbing berarti mengembangkan ketrampilan-ketrampilan peserta didik. dan meneliti untuk pengembangan kependidikan.
Misi yang diemban guru adalah misi kemanusiaan, dalam artian transformasi diri kepada peserta didik sebagai manusia dewasa yang utuh. Karenanya di sekolah, guru harus dapat menjadikan dirinya sebagai “orang tua kedua” bagi peserta didik, dan di masyarakat sebagai figur panutan yang harus bias digugu dan ditiru.
Realitanya, menurut Uzer Usman (1997) masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh pengetahuan. Ini berarti bahwa guru memiliki kewajiban untuk mencerdaskan masyarakat dan bangsa menuju pembentukan manusia seutuhnya.
Karenanya pantaslah Bung Karno (dalam Sahertian, 1994) menyebut pentingnya guru dalam masa pembangunan adalah sebagai “pengabdi masyarakat”.Tugas personal menyangkut pribadi dan kepribadian guru. Itulah sebabnya setiap guru perlu manatap dirinya dan memahami konsep dirinya.
Dengan refleksi diri, maka guru mengenal dirin dan selanjutnya haruslah mengubah dirinya, karena guru itu adalah “digugu dan ditiru”. Karena itu sebelum ia mengemban misinya haruslah “membangun jati dirinya”.
Misalnya dalam penampilan, guru harus mampu menarik simpati para siswanya, karena bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya kepada para siswanya. Maka guru harus memahami hal ini dan berusaha mengubah dirinya menjadi simpatik. Demikian juga dalam hal kepribadian lainnya.
Melihat kepada tugas tugas yang diemban oleh seorang guru dalam rangka untuk melayani siswa adalah merupakan bagian tugas yang harus dijalankan oleh seorang guru. Kemudian disaat dihadapkan oleh keadaan yaitu di masa pandemi, maka tugas ekstra yang diemban menjadi bertambah. Guru dituntut untuk mampu memiliki kemampuan tekhnologi dalam rangka melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Selain itu tuntutan kepada guru untuk dapat membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan kurikulum darurat ataukah kurikulum khusus, belum lagi bagaimana guru harus bisa menerapkan metode atau model seperti apa yang cocok untuk pembelajaran jarak jauh.
Berdasarkan paparan ini, nyata terlihat bahwa tugas seorang guru bertambah berat pada masa pandemi. Kemudian kita lihat lagi bagaimana siswa kita di rumah belajar apakah mereka lebih termotivasi, bersemangat dibandingkan dengan belajar tatap muka di sekolah seperti biasa sebelum masa pandemi ataukah mengalami keadaan lebih parah dari sebelumnya.
Untuk memberikan tanggapan cara belajar siswa dapat dilihat dari keaktifan mereka dalam mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh, dimana guru pengajar mata pelajaran masing-masing melaksanakan tugasnya sesuai jadwal dan melaksanakan kegiatan dengan menggunakan group whatsapp, Google Classroom, Google Meet, Zoom Cloud Meeting, Cisco Webex dan lain sebagainya.
Biasanya guru sudah aktif mengajar dimulai pada pukul 08.00 Wita dengan menyebar absen kepada siswa melewati media yang dipakai oleh masing masing guru yang juga sudah diketahui oleh siswa.
Di awal pembelajaran jarak jauh dengan presentasi siswa yg kurang dari 100 % aktif mengikuti pembelajaran, tapi sepertinya semakin lama pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini presentasinya semakin berkurang keaktifan siswa. Hal itu dikarenakan siswa sudah terbiasa sangat nyaman berada di rumah. Adapun kenyamann siswa di rumah ini bukan berarti mereka senang mengikuti pelajaran, tapi siswa terkesan santai dan banyak yang tidak mengikuti kegiatan pembelajaran karena setelah diproses ditemukan kendala kalo mereka banyak yang bangun tidur kesiangan dan tidak memperhatikan jadwal seperti jadwal tatap muka biasa.
Dengan berbagai cara, pihak sekolah melewati guru mata pelajaran, wali kelas, dan guru bimbingan konseling menangani kasus -kasus siswa yang malas mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh, namun masih terkendala dimana orang tua mereka kurang mendukung terhadap penanganan siswa tersebut.
Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya home visit dari guru bimbingan konseling dan wali kelas ke rumah siswa. Dan orang tua sebagian siswa yang bermasalah tersebut merasa tidak sanggup untuk mengendalikan anak mereka. Guru dan pihak sekolah benar benar diberikan ujian berat untuk bisa melaksanakan tugas secara professional, agar mampu mentransfer ilmu dan memberikan pembelajaran yang membuat mereka memiliki pengalaman belajar yang sangat bermanfaat.
Kemudian bagaimana dengan orangtua? Ternyata para orang tua dibuat kewalahan dengan adanya pembelajaran jarak jauh. Menurut pengakuan orang tua, anak sudah kelihatan bosan dan sangat jenuh melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh. Kemudian bagaimana dengan pihak sekolah dengan pembelajaran jarak jauh, apakah mudah atau bahkan merasa adanya kesulitan.
Ternyata dari beberapa analisa atau pengalaman di sekolah, dengan keadaan pandemi ini membuat guru melaksanakan tugas bertambah berat, karena sebenarnya dengan pembelajaran tatap muka langsung, mentransfer ilmu pengetahuan bisa full disampaikan di dalam kelas. Dan begitu diadakan pendataan kepada orang tua dalam mengisi polling untuk pembelajaran tatap muka, maka presentasi kehendak dari orang tua sangat besar menginginkan adanya pembelajaran tatap muka.
Namun, sekolah berupaya melengkapi dan menyiapkan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran tatap muka dengan menggunakan protokol kesehatan. Melihat beratnya tugas yang diemban oleh guru pada masa pandemi ini, dapat kita nilai guru mampu berkreasi melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh, dengan saling bertukar pikiran untuk bisa mengadopsi cara belajar seperti apa yang lebih mudah dan bisa membuat siswa bias menyerap materi pembelajaran.
Keadaan itulah yang membuat guru dianggap mampu untuk mengelola siswanya, karena guru memang disiapkan untuk bisa dan mampu mengelola pembelajaran dimanapun yang bersangkutan berada. Kemampuan inilah yang disebut dengan profesionalitas guru. (*)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin