Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mengebiri Ledakan Populasi Kucing di Kalsel

izak-Indra Zakaria • Minggu, 26 November 2023 - 07:03 WIB
STERILISASI: Para penyayang kucing ngumpul di Balai Kota Banjarmasin, Jumat (24/11) untuk mengikuti sterilisasi gratis. (FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN)
STERILISASI: Para penyayang kucing ngumpul di Balai Kota Banjarmasin, Jumat (24/11) untuk mengikuti sterilisasi gratis. (FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN)

Di balik tirai putih, meong seekor anabul terdengar nyaring. Sebelum sunyi, terkulai lemas dan tertidur pulas di meja operasi.

 

Aula Kayuh Baimbai, Balai Kota Banjarmasin tampak ramai dengan para pecinta anabul. Masing-masing membawa kucing peliharaan kesayangan. Ada yang membawa seekor, ada pula yang membawa dua ekor. Semuanya jantan. Mereka mengantre, menunggu giliran dipanggil, menyerahkan kucingnya untuk dikebiri. Secara sukarela. Tujuannya agar si jantan tidak keluyuran mencari betina hingga beranak pinak. 

Sterilisasi massal gratis ini digagas Sahabat Kucing Jalanan Banjarmasin bersama Klinik Hewan Tutu. Digelar dua hari, dari Jumat (24/11) sampai Sabtu (25/11).

Targetnya, sebanyak 120 kucing jantan dikebiri. Founder Sahabat Kucing Jalanan, Sari menjelaskan, ini upaya menekan over populasi. "Kami tidak ingin melihat ada anak kucing yang dibuang ke jalan lantaran tidak sanggup memeliharanya," ungkapnya. "Ini pertama kalinya sterilisasi untuk kucing peliharaan," tambahnya. Sebelumnya, program sterilisasi massal hanya menyasar kucing jalanan.

Bagi Sari, pemandangan kucing yang ditabrak sepeda motor atau mobil selalu menyedihkan. "Apalagi yang tertabrak masih kecil-kecil," ucapnya. Selain sterilisasi, kemarin juga ada pemberian suntik vitamin. Salah seorang pecinta kucing yang datang adalah Norhayati. Perempuan 49 tahun itu membawa Gembul, si kucing persia dan Rimba, si kucing anggora. Usia keduanya baru setahun. "Saya khawatir kalau kedua kucing ini birahi. Soalnya ada tiga kucing betina di rumah," kata warga Sungai Lulut itu. 

Baginya, kebiri bukan sekadar untuk menekan ongkos pemeliharaan. "Lebih kepada rasa sayang. Sedih saja, kalau banyak tapi ujung-ujungnya diberikan ke orang lain karena kewalahan merawat," tukasnya.

"Dikasih ke orang lain, kita juga tidak tahu apakah dipelihara dengan baik atau tidak. Kan kasihan," tambah Norhayati. Sejumlah kru dan dokter hewan tampak sibuk. Dari menimbang berat kucing sampai menyuntikkan obat bius.

Siang itu, sebanyak 36 ekor kucing jantan dikebiri. Dokter hewan yang bertugas, Faturahman Giri menjelaskan, kebiri tergolong operasi ringan. "Testisnya dipotong atau diangkat," jelasnya. Dan hanya butuh satu hari untuk masa penyembuhan pasca operasi. Prosedurnya juga singkat, hanya butuh 15 menit per ekor. Yang agak lama cuma proses pembiusan. 

"Karena tak semua kucing peliharaan bisa diam dan jinak ketika melihat orang lain atau lingkungan yang baru," ucapnya.

Benar sekali. Saat hendak dikebiri, seekor kucing sempat kabur dari meja operasi. Atau mungkin mereka menyadari sedang terancam. Sebentar lagi kejantanannya direnggut.

Mengajarkan Kesabaran

Ludianto tampak penasaran. Ia mondar-mandir di Balai Kota. Hingga giliran kucingnya yang diangkat ke meja operasi. Kucing kampung bernama Puspita itu tertidur pulas. Saking pulasnya, dielus pun tak merespons.

"Saya kasih nama seperti kucing betina, sebab sebelumnya saya tak tahu jenis kelaminnya apa. Jadi saya panggil pus pus saja. Ujung-ujungnya jadi Puspita," kisahnya seraya tergelak. Ludianto menemukan Puspita ketika kucing itu hampir dilindas roda mobil. Puspita tidak terluka, ia selamat karena masuk ke kolong mobil.

"Si sopir mengira itu kucing punya saya. Kondisinya buluk. Lantaran kasihan, saya pelihara saja," tuturnya. Ludianto mengakui, ia dulu bukan penyuka kucing. Bahkan ia selalu mengusir kucing yang datang ke teras rumahnya. 

Namun, semuanya berubah ketika ia merawat Puspita. Ia bilang, rasa suka itu tumbuh seketika. Kini, Puspita yang dulu bulukan tampak sangat terawat. Bersih dan gemuk. "Merawat kucing, juga mengajarkan kita kesabaran," ungkapnya. Lantas, kalau memang sayang, mengapa dikebiri? Ludianto menjawab, sterilisasi tidak hanya untuk mencegah over populasi.

"Tapi juga bisa mencegah berbagai macam penyakit," tegasnya. Kebiri ternyata juga bisa mengurangi kecenderungan kucing berkeliaran dan berkelahi. Pada kasus kucing jantan, kebiri bermanfaat untuk mencegah kanker testis, masalah pada prostat, dan mengurangi penyebaran penyakit akibat infeksi virus seperti feline immunodeficiency virus (FIV). Sedangkan untuk kucing betina bisa mencegah penyakit kanker rahim, kanker indung telur (ovarium), dan infeksi rahim. (*)

Editor : izak-Indra Zakaria