Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jalan Longsor ke Arah Lubang Tambang, Delapan Desa di Tapin Sempat Terisolasi

Rasidi Fadli • Sabtu, 8 Juni 2024 - 22:10 WIB
LONGSOR: Jalan yang longsor di Desa Bitahan Baru, Kecamatan Lokpaikat, akses menuju Kecamatan Piani. (Foto: Rasidi Fadli/Radar Banjarmasin)
LONGSOR: Jalan yang longsor di Desa Bitahan Baru, Kecamatan Lokpaikat, akses menuju Kecamatan Piani. (Foto: Rasidi Fadli/Radar Banjarmasin)

 

Ruas jalan di Desa Bitahan Baru, Kabupaten Tapin longsor sekitar 60 meter ke arah lubang tambang batu bara. Kondisi ini sempat membuat wilayah Kecamatan Piani terisolasi.

 

      ****
RANTAU - Jalan itu longsor sejak Kamis (6/6) sore, kemarin (7/6) pihak perusahaan tambang batu bara PT Energi Batubara Lestari (EBL) masih membuat jalur agar warga sekitar bisa melintas. Tokoh masyarakat Kecamatan Piani, Karlinsyah mengatakan, jalan di pinggir galian tambang itu longsor sekitar pukul 17:00 Wita sesaat setelah hujan reda. "Karena jalan putus, ada delapan desa sempat terisolasi," katanya. 

Delapan desa itu yakni Baramban, Miawa, Pipitak Jaya, Batu Ampar, Buniin Jaya, Harakit, Balawaian dan Batung.

Ia mengungkapkan, jalan itu memang rawan longsor. Tepat sebulan yang lalu, dirinya sudah melihat ada tanda-tandanya. “Jalan tersebut sudah retak, sekitar sebulan yang lalu,” ucapnya.

Usai melihat retak, Karliansyah coba memberitahukan kepada perusahaan setempat, terkait hal tersebut. “Saya minta perusahaan agar segera menanganinya, tapi lambat,” ucapnya.

Akses sendiri mulai bisa dilewati Jumat (7/6), setelah PT Energi Batubara Lestari (EBL) membuat jalur alternatif agar bisa dilalui pengendara.

Head Of Operation PT EBL, Bambang Octariono mengatakan, jalan longsor karena sebelumnya sudah ada retakan. “Sekitar sepekan yang lalu retakan ini terjadi. Akibat dari intensitas hujan yang tinggi, air yang mengalir di lereng mengakibatkan jalan retak lalu longsor,” ucapnya.

Ia menyebut, perusahaan bukan tidak mau memperbaiki retakan, tetapi secara teknis, kalau retakan jalan aspal langsung diperbaiki akan percuma. “Jadi kita membuat jalan peralihan di atas, karena intensitas hujan turun,” paparnya.

Terkait jalan alternatif, memang sudah jadi prioritas agar bisa dikerjakan dan cepat selesai. “Kita menargetkan jalan ini bisa kembali seperti semula atau beraspal, dalam sebulan ini,” tuturnya. 

Ihwal adanya banjir di jalan sekitar, ia mengaku sebenarnya penanganan itu sudah jadi prioritas pihaknya. “Memang prioritas kita peninggian jalan yang sering banjir, tapi karena ada kejadian jalan longsor, ini yang diutamakan dulu,” ucapnya. (*)

 
 
 
Editor : Indra Zakaria