Proses evakuasi memakan waktu hampir 15 menit, kemudian proses evakuasi pengangkatan mayat dan di bawa oleh unit Ambulan milik relawan EBR ke RSUD Ratu Zalecha untuk proses pemeriksaan. “Untuk penyebab pastinya masih dalam tahap penyelidikan di Kepolisian,” tuturnya.
Terpisah, Kasi Humas Polres Banjar, AKP Suarji membeberkan dari hasil pemeriksaan awal yang dilakukan oleh Dr Ahya Ramadhana, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
“Tanda-tanda pada korban mengindikasikan bahwa kematian tersebut murni akibat gantung diri, dengan lilitan tali yang tepat berada di rahang dan tanda-tanda lain yang menguatkan dugaan tersebut,” papar Suarji.
Hal tersebut sejalan dengan sejumlah barang bukti yang ditemukan Polisi saat olah TKP. Yaitu, dua utas tali warna biru, 1 helai celana jins pendek merk HOLLO dan 1 helai celana dalam hijau muda merk Buana. Setelah pemeriksaan selesai, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Keluarga korban meminta agar tidak dilakukan otopsi dan telah membuat surat pernyataan penolakan otopsi.
Meski dugaan awal mengarah pada tindakan bunuh diri, pihak Kepolisian akan tetap melakukan penyelidikan lebih lanjut. Terutama terkait motif yang membuat korban gantung diri.
Sempat Curhat Tentang Nasib
Kronologis penemuan jenazah Ry ini berawal dari kecurigaan sang kakak, Mas yang melihat pintu rumahnya terkunci dari dalam. Saat itu, Mas pulang bekerja sebagai petugas kebersihan di Pasar Martapura sekira jam 11.00 Wita.
Sesampainya di rumah, ia mendapati pintu terkunci dari dalam.Yakin adiknya ada di dalam rumah karena memang sering pulang duluan, Mas mencoba mengetuk pintu sambil memanggil nama sang adik. “Mulai dari mengetuk, sampai sampai menggedor pintu, tapi tidak juga ada jawaban,” kata Mas.
Waktu itu, ia hanya mengira bahwa korban sedang tidur pulas. Namun, hari itu ia melihat ada yang janggal pada sepatu milik adiknya. Biasanya, kata Mas sepatu bekerja adiknya itu ditaruh secara rapi di tempatnya dalam kondisi sudah dicuci.
Tapi, pada hari itu ia melihat sepatu adiknya bergelimpangan di depan pintu dan tidak dicuci. “Karena saya juga kelelahan usai bekerja, saya memilih tidur dulu di teras rumah sambil menunggu pintu dibuka,” tuturnya.
Selepas zuhur, Mas bangun. Mengetahui pintu rumah masih terkunci, kejanggalan dalam pikirannya pun semakin menjadi-jadi. Hingga akhirnya ia mencoba masuk lewat jendela kamar adiknya.
Berhasil membuka paksa jendela, alangkah terkejutnya ia melihat adiknya sudah tewas dengan posisi tergantung. “Saya langsung teriak histeris minta tolong,” kata Mas. Ia sempat bingung mengapa adiknya sampai memutuskan untuk gantung diri. Namun, Mas ingat akan penuturan adiknya itu, beberapa hari lalu.
Ia menduga keputusan adiknya mengakhiri hidup dengan cara seperti itu lantaran ada rasa trauma. Mas menceritakan sekitar enam tahun yang lalu adiknya pernah menjadi korban perundungan oleh tetangga.
“Adik saya pernah dipukuli dan dibully tetangga. Mereka satu keluarga memukuli adik saya,” ungkap Mas. Setelah kejadian itu, ia bersama adiknya pindah rumah ke RT sebelah. Namun walaupun sudah enam tahun berlalu, adiknya masih merasa dihantui dengan tindakan pelaku.
“Sebelum ditemukan tewas, paginya adik saya masih curhat tentang perasaan cemasnya dan sempat mengatakan kalimat ingin meninggal secara baik-baik. Tapi, ternyata adik saya mengakhir hidupnya seperti ini,” tambah Mas.
Karena itulah, Mas mengaku enggan jenazah adiknya diautopsi. Setelah visum dilakukan, ia langsung membawa tubuh adiknya ke rumah duka untuk disemayamkan.(*)