Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pedagang Eks Mentaya Tolak Penertiban

sampitadm-Radar Sampit • Rabu, 5 Februari 2020 - 00:15 WIB
Photo
Photo

SAMPIT –Rencanapenertiban pedagang pasar eks Mentaya Teater terancam tak mulus. Pasalnya, sebagian besar pedagang akan menolak dipindahkan apabila tempat baru yang disediakan tak layak dan berpotensi membuat pedagang merugi.

”Kami ini mau saja dipindahkan. Siapa yang tak mau kalau diberi tempat. Asalkan tempat yang disediakan pemerintah layak, kami siap,” ujar Witun, pedagang kain, Senin (3/2).

Witun menegaskan, tak ada pedagang yang tidak mau ditertibkan. Namun, persoalannya, kondisi bangunan pasar eks Teater Mentaya sudah tak layak. Selain itu, jumlah pedagang jauh lebih banyak dari kapasitas kios yang disediakan pemerintah.

”Kalau ditertibkan buru-buru, kami tidak mau. Kalau diberikan jangka waktu setengah bulan, kami siap saja pindah,” ujarnya.

Yusuf, pedagang kain lainnya mengungkapkan, bangunan pasar eks Teater Mentaya bocor dibeberapa titik. Selain itu, rolling door ada yang hilang dan setiap hujan selasar tergenang banjir.

”Apa pemerintah tega melihat kami berjualan dalam keadaan atap bocor, selasar banjir, rolling door juga banyak yang hilang dicuri orang. Kalau pindah disana, barang dagangan kami rusak terkena air hujan,” ujarnya.

Perekonomian yang sulit juga menjadi keluhan pedagang. Sebagian besar pedagang mengeluhkan merosotnya penghasilan. ”Sejak kami dipindah kesini, penghasilan kami merosot dibandingkan saat jualan di Taman Kota dulu,” kata pedagang kain lainnya yang tak ingin disebutkan namanya.

Menurutnya, untuk mencari uang Rp 200 ribu saat ini sangat sulit. Apalagi jika pedagang dipindahkan kedalam bangunan. ”Jualan disini saja sulit dan sudah pernah kami coba jualan dari pagi sampai malam, tetapi pecahnya (barang laku,Red) juga baru mulai sore hari,” ujarnya.

Melihat kondisi pasar yang sepi, pedagang berangsur-angsur gulung tikar. Adapula yang menjualkan dagangannya keberbagai pasar dan menjajakannya ke kawasan perkebunan kelapa sawit.

Pantauan Radar Sampit, sedikitnya ada sekitar 25 kios yang tutup, sedangkan kios yang buka saat ini didominasi pedagang yang berstatus menyewa kepada pedagang sebelumnya yang memiliki SK lama.

”Apa yang mau diharapkan jualan disini? Sulit. Kami yang disini merupakan pedagang yang kuat bertahan. Kalau tak sabar bertahan, rata-rata memilih jualan di lokasi lain dan kiosnya ditutup,” ujarnya.

Dia pun mengaku menyewa kepada pedagang kios yang memiliki surat keputusan. ”Satu kios Rp 5 juta per tahun,” ujarnya.

Selain itu, dia menyesalkan keputusan pemerintah yang menertibkan pedagang setengah hati. Pada 2017 lalu, pedagang eks Taman Kota dipindahkan. Namun, tidak langsung menempati kios bangunan pasar eks MentayaTeater.

Kabarnya, saat itu bangunan eks Mentaya Teater sudah dimiliki pihak yang sebelumnya menempati lahan pasar eks Mentaya Teater, sehingga pedagang tidak langsung menempati kios bangunan dan malah menempati area diluar dengan membangun kios semi permanen. Masing-masing pedagang rata-rata mengeluarkan biaya sekitar Rp 20juta per kios.

”Sekarang sudah banyak modal bangunan kami keluarkan. Untuk satu lapak ini saja modalnya Rp 20-an juta dan penutup lapak dari kayu saja buatnya sekitar Rp 3 juta. Sekarang sudah tenang jualan, mau dipindahkan lagi,” tambahnya.

Kondisi serupa juga dialami Maya. Ibunya yang sudah lebih dulu menjadi pedagang lama di eks Taman Kota merasakan sulitnya pedagang. Bahkan pemberitaan terkait rencana penertiban membuat sebagian besar pedagang galau.

”Kami tak berani beli barang lagi. Kalau benar dipindahkan, bisa tambah sepi. Jualan tak laku. Jujur saja, semenjak ada rencana pemindahan ini kami galau mau belanja barang,” ujarnya.

Dirinya mengaku ingin dipindahkan asalkan tidak perlu naik kelantai dua. ”Kami mau di lantai satu saja. Kalau ke lantai dua, jualan disini saja sepi. Apalagi cuaca hujan begini, orang mana mau naik keatas,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, ada pedagang yang memiliki SK menawarkan kios secara gratis, tetapi letaknya dipojok, dekat toilet. ”Ada saja pedagang yang menawarkan saya kios gratis dekat toilet, tetapi saya sendirian, tak ada pedagang lain. Ya mana mau pembeli datang,” ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah pedagang merasa ada kejanggalan terkait rencana pemindahan tersebut. Pasalnya, data nama yang terdaftar berbeda dari sebelumnya. ”Kami menduga ini ada permainan. Pedagang semua tahu kios dilantai dua sudah ada pemiliknya masing-masing dan lantai satu pun sudah ada nama-namanya,” ujarnya.

Plt Kepala Disperdagin Kotim H Zulhaidir mengatakan,pemberitahuan rencana pemindahan itu tak disampaikan kepada semua pedagang. Terutama pedagang stiker, memang belum diberitahukan. ”Mereka tidak ditempatkan dikios, tetapi tetap kami tertibkan dan ditata agar lebih rapi,” ujarnya.

Sementara itu, mengenai jual beli kios serta informasi yang beredar di kalangan pedagang terkait kios yang sudah laku dijual oknum pejabat ke pedagang, dia mengaku tidak begitu mengetahui. ”Yang pasti tugas saya untuk menata kembali pedagang yang aktif berjualan dan menempati sesuai peruntukannya,” ujarnya.

 

Ingin Hadir

Terpisah, Bupati Kotim Supian Hadi Supian menyerahkan sepenuhnya permasalahan pasar eks Mentaya Teater kepada Sekretaris Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kotim yang telah ditunjuk sebagai pelaksana tugas. Di sisi lain, dia juga ingin hadir saat pengundian lokasi atau lapak pedagang.

”Saya berikan tempo kepada sekretaris yang telah ditunjuk sebagai plt untuk menyelesaikan permasalahan ini," ujarnya.

Menurutnya, sudah tiga Kepala Disperdagin bergeser, namun belum berhasil menyelesaikan permasalahan tersebut. Karena itu, dia berharap dapat diselesaikan sesuai ketentuan.

”Ada kesimpangsiuran penjualan kios kepada pedagang, saya tidak mau tahu itu, karena tujuan saya membangun adalah melihat kawan-kawan di sekitar taman kota dulu semrawut. Belum lagi kalau hujan. Kasihan,” ucapnya.

Supian menambahkan, dari data yang diperoleh, lapak dibuat lebih banyak dari data yang diperoleh pihaknya. Namun,ketika bangunan pasar rampung, justru permasalahan lain muncul. Informasi yang dia terima, ada pihak yang menjual kios pedagang.

”Saya tegaskan itu semua digratiskan. Saya konfirmasi ini kepada seluruh pedagang untuk memberikan kenyamanan kepada para pedagang dan warga yang ingin membeli agar merasa nyaman," ungkapnya seraya menambahkan, indikasi jual-beli kios oleh oknum itu di luar kewenangannya.(hgn/yn/ign)

 

Editor : sampitadm-Radar Sampit
#eks mentaya teater #pasar