SAMPIT – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui wilayah Kalimantan Tengah seiring dengan meningkatnya suhu dan kondisi cuaca kering. Berdasarkan rilis terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H. Asan Kotawaringin Timur, mayoritas wilayah Kalteng kini berada dalam status "Sangat Mudah Terbakar". Peta potensi karhutla yang dirilis pada Kamis (26/3) didominasi oleh warna merah, yang menunjukkan tingkat kerawanan ekstrem, terutama pada lahan gambut dan area hutan yang kering.
Kondisi ini diperparah dengan temuan titik panas (hotspot) yang mulai bermunculan. Pada Rabu (25/3), citra satelit mendeteksi adanya titik panas di Kelurahan Tumbang Tilap, Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kemunculan titik panas ini menjadi alarm dini bagi otoritas terkait dan masyarakat, mengingat api dapat menyebar dengan sangat cepat dalam kondisi vegetasi yang mudah tersulut seperti saat ini.
Meski diprediksi akan ada sedikit variasi cuaca pada Jumat (27/3) besok—di mana wilayah selatan hingga tengah Kalteng mulai memasuki kategori aman—namun zona barat dan utara diprediksi masih akan tertahan pada kategori mudah hingga sangat mudah terbakar. Fenomena ini sangat dipengaruhi oleh dinamika kelembapan udara dan fluktuasi curah hujan lokal yang tidak merata. Ironisnya, di tengah risiko alam yang tinggi, aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar oleh oknum masyarakat diduga masih menjadi pemicu utama kebakaran yang sulit dikendalikan belakangan ini.
Menyikapi situasi genting ini, BMKG mengimbau keras agar masyarakat menghentikan segala bentuk aktivitas pembakaran lahan tanpa terkecuali. Instansi terkait di tingkat kabupaten dan provinsi juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan personel serta sarana prasarana pemadam kebakaran di lapangan. Kewaspadaan kolektif menjadi kunci utama agar potensi kebakaran besar tidak meluas dan menimbulkan kabut asap yang dapat merugikan kesehatan serta aktivitas ekonomi warga Kalimantan Tengah. (*)
Editor : Indra Zakaria