Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Modalnya Cuma Keberanian dan Kemauan

Wawan-Wawan Lastiawan • Kamis, 28 Oktober 2021 - 13:25 WIB
PILIHAN HIDUP: Anik Setiawati menggantungkan hidupnya bersama ketiga buah hati dengan menjadi driver Gojek.
PILIHAN HIDUP: Anik Setiawati menggantungkan hidupnya bersama ketiga buah hati dengan menjadi driver Gojek.

Jutaan orang kehilangan pendapatan akibat pandemi corona. Namun, banyak juga yang mampu survive, salah satunya #BangkitBersama Gojek. 

RUMAH bercat hijau di Gang Fajar 3, RT 39, Sepinggan, Balikpapan ini tak seperti warung makan pada umumnya yang berada di pinggir jalan-jalan besar. Tidak ada kursi dan meja untuk menyantap hidangan. Pun etalase yang menyajikan berbagai menu makanan yang siap menggugah selera siapa pun yang melintas. Ini justru terlihat seperti rumah kontrakan. Dengan tumpukan sepatu dan sandal di depan pintu. Di sebelahnya ada dua kursi plastik tanpa sandaran.

Makin tidak ideal karena lokasinya di kolong rumah orang lain. Tidak terlihat dari jalanan. Hanya banner ukuran 1x5 meter yang tergantung bak jemuran di teralis kanopi rumah utama jadi penanda. “Nadifa House Kitchen Rumah Hijau di Bawah”. Begitu petunjuk dalam banner tersebut. Dengan logo panah menunjuk arah bawah. 

Perlu menuruni 25 anak tangga dengan ketinggian sekitar 7 meter untuk sampai di pintu rumah tersebut. “Awalnya, saya ragu pas mau nyewa rumah di sini, Mas. Karena kan jalanannya dari depan (jalan utama, Jalan Mukmin Faisal, Red) itu turunan curam. Terus di sininya berbukit-bukit dan sewaannya juga di bawah rumah orang. Tapi, cuma ini yang pas dengan keuangan saya saat itu,” kenang Ariyati. 

Pandemi corona yang masuk pada Maret 2020 menjadi penyebab utama runtuhnya keuangan keluarga perempuan berhijab ini. Memiliki pekerjaan sebagai ibu kantin di SMA 5 Balikpapan, dia terpaksa harus berdiam diri di rumah. Tidak ada aktivitas berharga kecuali makan dan tidur. Sekolah dipaksa tutup dan pembelajaran beralih ke dalam jaringan (daring). 

Sempat dua bulan menganggur. Kemudian, dia diberi saran oleh suaminya, Abdulloh yang berstatus sebagai mitra driver Gojek untuk membuka usaha warung makan online. Bergabung bersama dirinya menjadi mitra UMKM Gojek. Jualan di rumah aja, tanpa perlu modal untuk sewa lapak. 

“Di sana loh, rumah orang di atas-atas bukit bisa kok jualan. Ada juga yang di gang-gang sempit. Rame-rame aja tuh,” sambung Ariyati menirukan perkataan suaminya. Tanpa pikir panjang, dia pun keesokan harinya mendatangi kantor Gojek Balikpapan di Jalan MT Haryono. 

Saat itu, momennya dinilai tepat. Tiga hari jelang Ramadan. Perempuan murah senyum ini mengincar para ibu rumah tangga yang bekerja sehingga tidak memiliki waktu untuk memasak menu buka puasa atau sahur. “Biasanya kan ada aja orang yang malas masak buat sahur. Nah, peluang ini yang coba saya maksimalkan,” bebernya. 

Sampai di kantor Gojek, Ariyati disambut dengan baik. Tidak pula diminta memenuhi persyaratan yang ribet. Di sana, dia hanya disuruh men-download aplikasi Gojek Partner. Kemudian diberi arahan cara menggunakan aplikasi tersebut. Setelah mengisi data pribadi, dia disuruh melengkapi daftar menu dan harganya. Terakhir, membuat banner sebagai petunjuk keberadaan warung online tersebut. 

“Selebihnya, kirim berkas lewat e-mail. Seperti perjanjian kerja sama yang ditandatangani secara elektronik. Mudah sekali, cuma dua hari langsung bisa jualan. Mungkin karena pandemi ya. Jadi, gak ada survei-survei. Pas sehari sebelum puasa, saya sudah bisa jualan,” ujarnya. 

Untuk pertama, Ariyati memilih menu lalapan. Menurutnya, Balikpapan sangat identik dengan ayam. Sehingga dia harus menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat sekitar. Ditemani bebek, ikan lele, dan nila. 

Prediksinya tepat. Pada momen Ramadan dia kerap mendapatkan orderan jelang berbuka puasa dan tengah malam. Dibantu buah hatinya yang duduk di bangku SMA, dia menyiapkan berbagai menu yang dipesan. Tidak langsung ramai. Bahkan sehari pernah hanya melayani satu pembeli. Tapi, tetap dilayani dengan penuh semangat dan ikhlas. 

Seiring makin banyaknya orderan, Ariyati terus berinovasi. Mengeluarkan menu-menu baru untuk memudahkan pelanggannya. Seperti sifat manusia yang tidak pernah puas, pelanggan setiap harinya ingin makan yang berbeda. Nah, dia kasihan jika orang tersebut harus beli di beberapa toko. Tentu ongkos kirimnya jadi lebih banyak. Makanya dia menambah menu, berupa olahan ikan dori, udang, dan cumi. 

Kini, di warung online-nya telah memiliki 65 menu. Selain makanan berat ada minuman, makanan ringan, hingga lauk beku. “Ada juga kombinasi menu. Seperti paket hemat, hingga berempat,” bebernya. Adapun omzet yang diterima saat ini sebesar Rp 1,7 juta per hari. “Kalau dibilang iseng-iseng isi kekosongan ya enggak juga. Karena pendapatannya lumayan,” imbuhnya.

Uniknya, Ariyati benar-benar mengandalkan aplikasi Gojek. Tanpa melakukan promosi pribadi. Bahkan tidak mengunggah menu yang dijual dalam status WhatsApp atau Instagram. Murni hanya mengikuti program yang diberikan Gojek. Seperti pengadaan promo. Dengan benefit, menu tersebut akan muncul di halaman depan Gojek. 

Misal ada promo diskon 20 persen. Ariyati pasti mengiyakan program tersebut. Namun, tidak semua menu dia berikan diskon. Hanya beberapa yang memang masuk dalam hitungannya. Alias tidak merugi. “Dari satu-dua menu yang didiskon, kalau diklik pelanggan, nanti semua menu yang ada muncul. Yang awalnya cuma mau makan ikan nila, jadi nambah deh. Beli juga cumi rica-rica atau ikan dori dabu-dabu. Pesanannya jadi banyak,” ujarnya lalu terkekeh. 

Untuk menggaet pelanggan, dia dari awal sudah tampil dengan kualitas terbaik. Selain makanan yang lezat, dia juga menggunakan lunch box. Bukan yang terbuat dari kertas nasi kotak biasa atau yang dari styrofoam. Plastik pembungkusnya juga yang tahan panas, sehingga aman bagi konsumen. 

Sementara untuk makanannya, dia selalu fresh. Memasak ketika mendapat orderan. Bukan yang stok dari pagi sampai malam. “Makanya testimoni yang muncul selalu bilang makanannya fresh. Karena memang baru dimasak pas ada orderan. Saya memang gak ada stok-stok makanan. Kecuali bahan mentah ya. Termasuk sambal,” katanya. 

Sementara untuk menjaga higienitas, dia menyegel makanan tersebut dengan stiker Gojek. Agar tidak terbuka atau berhambur ketika dibawa oleh driver. 

Penggunaan bahan yang berkualitas tentu berdampak pada harga. Jika umumnya ayam lalapan dijual Rp 13-15 ribu per porsi, dia berada di angka Rp 19.700. Namun, dia tidak gentar. Karena percaya setiap makanan yang disajikan akan memiliki pasarnya masing-masing. Kalau yang murah, menurutnya mungkin menyasar anak indekos atau masyarakat dengan ekonomi di bawah. Sementara dirinya menengah ke atas. “Alhamdulillah setia-setia aja pelanggan saya,” ujarnya. 

“Pesanan baru diterima, pesanan baru diterima”. Suara pemberitahuan dari aplikasi Gojek ini menyela perbincangan kami. Nyaring dan berulang-ulang. Ternyata, ada pelanggan yang memesan udang goreng rica-rica. “Mbak, minta tolong langsung siapkan ya,” pinta Ariyani kepada pekerjanya. 

Ya, saat ini dia tidak hanya dibantu buah hati dan suaminya. Tapi, telah merekrut pekerja. Memberdayakan tetangga yang belum memiliki penghasilan. Tak hanya di situ, keberhasilannya mengembangkan usaha berhasil menginspirasi orang di sekitarnya. Setidaknya, sudah ada tiga orang yang mendirikan usaha serupa. Dua keluarga dan satu tetangga. Yakni Dapur Mama Rinah, Auliya Lalapan, dan Ayam Geprek Loss Dol. 

Untuk Auliya Lalapan, ini milik tantenya. Dulu, sebelum membuka usaha, dia hanya buruh panggilan. Seperti mencuci atau bersih-bersih rumah orang yang membutuhkan jasanya. “Bibi ini saya ajak. Daripada capek buruh dan pendapatan tidak menentu, mending jualan online seperti saya. Bisa di rumah saja sambil jaga anak. Alhamdulillah ramai juga sekarang,” ungkapnya. 

Sementara tetangganya, dia tertarik setelah melihat banyak driver ojek online mengambil makanan di rumah Ariyati. Daripada diam aja di rumah, dia pun mengikuti jejaknya dan mendaftar menjadi mitra UMKM Gojek. 

Bukannya takut tersaingi, Ariyati justru bangga bisa memberikan inspirasi kepada orang di sekelilingnya. Bahkan dia mengarahkan pesaingnya tersebut untuk membeli bahan baku di tempatnya membeli. Dan meminta penjualnya agar diberi harga “miring” seperti dirinya. 

“Saya malah senang banget, Mas. Termasuk sudah bisa merekrut pekerja. Saya berharap semoga warung ini makin banyak pembelinya dan bisa menambah pekerja lagi. Hitung-hitung membantu tetangga yang sedang cari pekerjaan juga. Seneng banget saya,” ujarnya bangga. 

Ditanya mengenai modal, Ariyati menuturkan untuk memulai berjualan online hanya membutuhkan kemauan dan keberanian. Seperti dirinya yang memulai dengan hanya berjualan satu ekor ayam, satu kilogram nila dan satu kilogram lele. Sementara peralatan menggunakan alat masak di dapur yang pastinya dimiliki semua ibu rumah tangga. 

“Semua pasti punya magic com, kompor, tabung gas. Itu aja. Selebihnya kaya kebutuhan sehari-hari. Kita manusia pasti butuh makan ya kan, dari bahan-bahan harian itu saja sudah bisa jualan. Inilah enaknya jualan online. Seumpama persiapan abis, ya tinggal matikan aplikasinya. Sangat gampang. Tinggal kemauan dan keberanian saja,” tegasnya. 

Memang, uang yang diperoleh dari aplikasi tidak bisa langsung cair di hari itu juga. Menunggu besok. Tapi untuk memulai usaha, rasanya bisa saja karena tidak perlu bayar sewa tempat dan lain-lain. 

Ke depan, Ariyati tetap akan mengembangkan usahanya sebagai mitra UMKM Gojek. Berbarengan dengan usaha kantin di SMA 5. “Sekarang ini sudah berkembang dan pendapatannya bersaing dengan kantin. Sayang kalau mau ditinggalkan. Jadi nanti ya jalan dua-duanya, rekrut orang baru. Saya yang mondar-mandir membantu,” pungkasnya. 

Untuk memastikan berlanjutan bisnis mitra UMKM, Chief Food Officer Gojek Group Catherine Hindra Sutjahyo menuturkan, pihaknya telah menyiapkan program Komunitas Partner GoFood (KOMPAG). Tujuannya membantu para pelaku UMKM meningkatkan keterampilan dan mampu bersaing di tengah kompetisi bisnis kuliner yang semakin ketat.

Diketahui, selama masa pandemi UMKM kuliner juga menjadi salah satu bidang usaha yang terdampak. Untuk bertahan, sebanyak 42 persen pelaku usaha memutuskan menggunakan platform digital dan media sosial sebagai antisipasi kebijakan PPKM. Tercatat sepanjang tahun lalu ada 250 ribu kuliner baru go online di GoFood dan 43 persennya merupakan pengusaha pemula.

Bersama KOMPAG, pelaku usaha mendapat pelatihan eksklusif secara mingguan lewat ngobrol pintar (Ngopi). Kemudian mereka juga bisa mendapatkan tips sukses mengelola bisnis secara mandiri lewat aplikasi GoBiz dan mengakses menu BizTips. 

“Program ini sudah diikuti lebih dari 107 ribu UMKM kuliner dari 70 kota. Berkat serangkaian program pelatihan dan kesempatan berjejaring, ratusan ribu UMKM kuliner berhasil meningkatkan keterampilan bisnis. Rata-rata pendapatan bulanan menerka meningkat hingga tujuh kali lipat,” ungkap Catherine.

KOMPAG terbuka untuk seluruh mitra usaha GoFood. Jika ingin bergabung, mitra cukup mengisi form registrasi di Facebook Komunitas Partner GoFood (KOMPAG) melalui tautan bit.ly/KOMPAGFB.

Tak sampai di situ, Gojek juga terus melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan pendapatan mitra UMKM dan driver. Dibeberkan Kevin Aluwi selaku Co-Founder & CEO Gojek, pada tahun ini timnya melakukan pengembangan GoFood. Yakni fitur GoFood Plus. Dengan fitur ini, pihaknya ingin lebih memanjakan lagi pelanggan setianya dengan memberikan paket langganan. 

“Benefit yang bisa diperoleh pelanggan setia kami yakni free ongkir untuk beberapa hari dengan hanya membayar Rp 20-60 ribu. Jadi, mereka saat memesan makan siang atau malam tidak perlu lagi melihat berapa ongkos kirimnya. Tinggal order saja,” ujarnya. Ada juga order sekaligus. Pelanggan bisa belanja di beberapa mitra UMKM dalam satu lingkungan yang tidak berjauhan dengan sekali pengantaran.

GoFood juga mendorong eksposur merchant UMKM lokal melalui teknologi personalisasi data yang memungkinkan pelanggan mendapatkan rekomendasi kuliner dari mitra UMKM yang berada di sekitar lokasi pelanggan, sesuai preferensi mereka. Pendekatan hyperlocal ini memberikan merchant UMKM akses yang semakin luas kepada pelanggan sehingga meningkatkan peluang pendapatan mereka.

Kemudian ada GoSend API. Memungkinkan berbagai bisnis lain memanggil driver Gojek untuk mengantarkan barang. Contohnya saat masyarakat bertransaksi di Tokopedia dan Halodoc, untuk pengantarannya bisa menggunakan driver Gojek. “Di masa pandemi, layanan ini mendapat sambutan luar biasa. Transaksinya naik 41 persen. Secara otomatis, pendapatan mitra driver meningkat,” tuturnya.

Ditambahkan Aluwi, baru-baru ini mereka juga menggandeng PT Telkom Indonesia (Persero) melalui Indonesia Telecommunication & Digital Research Institute (ITDRI). Merangsang lahirnya pelaku usaha baru lewat program Muda Maju Bersama 1.000 Start-up. Program ini diharapkan bisa mengurangi kendala yang dihadapi anak muda di kawasan Indonesia Timur dalam mengeksplor kemampuannya.

“Dengan potensi yang besar, kita harus mampu memanfaatkan peluang sekaligus menciptakan lebih banyak dampak sosial melalui berbagai inovasi teknologi. Sehingga, kawasan timur Indonesia bisa semakin mengakselerasi pertumbuhan ekonomi digital dan menjadi pemimpin di negeri sendiri,” tutup Kevin.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nia Niscaya mengapresiasi konsistensi GoFood dalam mendampingi para pelaku usaha kreatif, termasuk UMKM. “Kami sepakat dengan GoFood bahwa dukungan bagi UMKM tidak bisa berhenti pada digitalisasi, tapi juga mendukung keberlanjutan usaha UMKM di tengah perubahan kebutuhan dan daya beli masyarakat yang kian dinamis. Salah satunya dilakukan melalui pembinaan melalui KOMPAG,” ucapnya.

Dia melihat keseriusan GoFood menggarap sektor ini, sehingga percaya inovasi yang dihadirkan akan mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja di industri ekonomi kreatif, di mana bidang usaha kuliner menjadi pemain terbesar di dalamnya. 

“Kami sangat berharap dukungan KOMPAG dapat terus diperluas dan menjadi sebuah wadah positif untuk menyediakan berbagai kebutuhan dan informasi positif bagi pelaku usaha, salah satunya protokol kesehatan CHSE, sehingga dapat terus bermanfaat bagi pelaku usaha kuliner se-Indonesia,” tutupnya. 

PEREMPUAN TANGGUH, HIDUPI TIGA ANAK LEWAT GOJEK

KAKI Anik Setiawati seketika lemas. Dia langsung terduduk di lantai dengan kaki terlipat. Air mata yang dia tahan dari setengah jam sebelumnya pun tak kuasa ia bendung kembali. Sesekali dia basuh menggunakan baju daster yang ia gunakan. Supaya tidak terlihat dari anaknya. 

“Sudah, Mas. Sudah. Tidak ada motor trail itu di dalam rumah saya,” rintihannya kepada dua orang bertubuh kekar yang mengubrak-abrik rumahnya. Di balik pintu kamar yang terkunci rapat, jelas terdengar tangisan anak-anak yang bersahutan. Siang itu, mereka kembali didatangi dua orang tak dikenal suruhan mantan bos suaminya. Mereka mencari kuda besi yang digunakan suaminya. Sebagai pengganti utang yang tak kunjung dibayar. 

“Jangan sakiti Mbak Anik, suaminya gak pernah pulang. Sana, cari suaminya aja. Jangan hakimi mbaknya,” tegur tetangga Anik dari jalanan kepada dua orang tersebut. Dengan suara lantang, salah satu orang suruhan tersebut mengancam. Mereka bakal kembali lagi jika motor trail yang dicari tidak segera diberikan. Atau suaminya belum juga membayar utang. 

Sepuluh menit berselang, Anik secara perlahan berdiri. Dibantu buah hatinya yang paling besar, yang duduk di kelas 4 SD. “Ibu gak papa kan. Siapa ya orang tadi. Aku takut, Bu,” ujar anak tersebut sembari memeluk Anik. 

Mulai siang itu, Anik makin mantap untuk segera pisah dengan suaminya. Dia akan menggugat cerai jika sudah mampu menghasilkan uang sendiri. Selama beberapa bulan terakhir, dia memang tidak pernah mendapat kiriman uang lagi dari suaminya yang tak pernah pulang. Namun, dia bisa bertahan berkat tabungan. Namun, uang sudah mulai habis. Sementara dirinya tidak bekerja. 

Nah, ketika mengantar anak pertamanya sekolah di kawasan Auri, dia melihat beberapa driver Gojek bersantai menunggu orderan di sebuah warung. Dari situ, dia tertarik dan mulai mencari informasi untuk bisa menjadi mitra driver. 

“Saya tanya-tanya tetangga. Kata mereka enak jadi Gojek. Bisa kerja kapan aja kalau urusan di rumah sudah kelar,” ujarnya. Tak puas sampai situ, dia kembali bertanya kepada keluarganya yang lebih dulu menjadi mitra driver. Jawaban yang sama dia peroleh. “Keluarga itu yang kemudian mencarikan informasi pendaftaran. Ternyata, saya disuruh datang ke kantor Gojek di Jalan MT Haryono. Besok paginya langsung berangkat,” kenangnya. 

Berbekal motor Vario peninggalan suaminya, dia lantas mendaftar. Tidak ribet. Hanya dengan men-download aplikasi GoPartner, kemudian mengisi data pribadi dan kendaraan. Dua hari sudah bisa on alias bekerja. 

“Waktu itu umur saya sudah 37 tahun. Senang bisa bergabung dengan Gojek. Karena pasti sulit cari kerja lain, sudah umur. Alhamdulillahnya, momennya pas banget. Karena tiga hari setelah saya diterima, pendaftarannya langsung tutup,” ujar Anik. 

Karena berstatus sebagai ibu rumah tangga tulen dan jarang menggunakan telepon pintar, dia mengaku kesulitan menggunakan aplikasi GoPartner. Sehingga pada awal-awal cari orderan, dia minta bantuan keluarganya di Balikpapan Barat. Tengah malam dia belajar menggunakan. Ketika orang-orang sudah tidur dan tidak ada orderan. Di situ dia belajar apa yang harus dilakukan ketika mendapat orderan. Termasuk menggeser-geser layar telepon, seperti perintah di aplikasi.

Keesokan harinya, saat mendapat orderan pertama, dia ternyata masih pusing. Karena yang diterima bukannya GoRide. Melainkan GoFood. “Warnanya ko beda sama yang saya pelajari tadi malam. Bingung, saya telepon lagi. Pokoknya bentar-bentar telepon keluarga,” kenang perempuan berhijab ini. 

Setelah dua bulan berjalan dan merasa mampu mendapatkan pundi-pundi rupiah, dia memutuskan untuk menggugat cerai suaminya, November 2018. Sejak saat itu, dia berjuang mencari nafkah untuk ketiga anaknya. Paling besar sudan duduk di kelas 4 SD, sedangkan yang dua lainnya masih berusia tiga dan empat tahun.

“Waktu itu, orangtua dukung. Karena mereka sudah gak kuat lihat saya menderita. Bahkan saya pernah gak makan tiga hari karena gak ada uang sama sekali. Cuma anak-anak yang bisa makan saat itu,“ kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Berbekal surat cerai itu juga, dia memiliki “senjata” untuk mengusir para preman yang kerap menagih utang ke rumah. 

Namun, menjadi driver tak seluruhnya dijalani dengan enak. Dia pernah kejatuhan ular di tangannya saat mengantar pesanan GoFood di Perumahan Borneo Paradiso. Kaget ada yang bergerak-gerak di tangan, dia memutuskan untuk menjatuhkan motor ke samping. Beruntung, nasi yang dipesan dibungkus menggunakan kertas minyak. Sehingga tidak berhambur. 

Dia juga pernah jatuh ditabrak orang saat menjalankan aplikasi. “Ceritanya waktu itu jalanan macet karena ada mobil trailer ga bisa mutar. Nah, di belakang saya ada motor laju dan nabrak. Motor saya waktu itu rusak parah, ban depan sampai miring, gak lurus sama setang,” ujarnya. 

Perempuan 42 tahun ini mengaku pernah juga malam-malam mendorong motor karena bocor saat mengantar pesanan. “Maklum waktu itu belum tahu motor. Ban sudah tipis, masih aja saya paksa,” sambungnya.

Anik di awal bergabung Gojek sering menunggu orderan di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo. Kemudian bergeser ke Nasi Goreng Merakyat yang booming di area Sepinggan, Balikpapan. Di situ dia kenal dengan Noor dan diajak bergabung dengan komunitas mitra driver Gojek, GSC. Di situ dia mulai kenal orang dan makin percaya diri menjadi driver. 

“Biasanya saya kalau nunggu orderan itu duduk di bawah-bawah pohon. Tapi, karena sudah ada yang dikenal, ikut nunggu di warung-warung. Apalagi setelah ketemu beberapa mitra driver cewek juga. Makin pede,” katanya. 

Perlahan, dia menerima banyak orderan dan mampu meraup banyak uang. Dia bahkan tak menyangka jika rezekinya lebih baik dan berkah saat menjadi driver Gojek. Yang awalnya ragu bisa menghidupi tiga buah hati, jadi semakin yakin. Apalagi dia tak jarang bertemu orang baik. Seperti orang yang memberi tips setelah menyelesaikan orderan. 

Misalnya setelah mengantar food ke salah satu pengunjung Hotel Athar 88. Sekitar pukul 21.00 Wita. Saat mengantar pesanan, Anik ditanyain pemesan tersebut. “Kenapa kok sampai malam nariknya”. Ya saya jelasin kalau harus tutup poin (tupo) agar dapat bonus dari Gojek. “Bonusnya berapa”. Rp 80 ribu. 

“Eh, saya ternyata dikasih Rp 100 ribu. Dengan catatan langsung pulang. Di situ juga saya tunjuin ke bapaknya kalau saya matiin aplikasinya dan langsung pulang. Ini mungkin yang dinamakan rezeki dari anak,” ungkapnya. Sebelum pandemi corona, dia mengaku kerap mendapatkan bonus dari Gojek. Minimal mendapat Rp 200-250 ribu per hari. Itu di luar dari pendapatan tak terduga dari orang baik. 

Nah, memasuki pandemi yang katanya sulit, dia justru mengaku banjir orderan. Apalagi di awal-awal virus corona masuk Kaltim. Di mana tingkat kecemasan masyarakat tinggi. Sehingga, pesanan antar paket dan GoFood naik tajam. Di lain sisi, tips yang diberikan orang juga lebih melimpah. Banyak masyarakat Balikpapan yang ingin berbagi kepada driver online karena terus bekerja di tengah pandemi. 

“Kadang abis antar pesanan, orang itu minta tunggu sebentar. Sekalinya ngasih parsel. Biasanya di dalamnya juga ada amplopnya. Alhamdulillah,” ujar Anik. Dia menyebut, rata-rata orang yang memberi tersebut tinggal di perumahan. Seperti Sepinggan Pratama, Regency, atau Daun Village. 

Dia juga tak jarang mendapat orderan “palsu”. Seperti membeli lauk-pauk di warung makan padang. Pas ditanya mau diantar ke mana, jawabnya buat ibu aja. 

Pernah juga GoShoop. Sudah belanja di Indomaret, disuruh bawa pulang belanjaannya. “Sering banget pas pandemi. Sehari bisa dapat tiga sampai empat orderan begitu pas awal-awal. Sampai-sampai selama setahun kemarin saya gak ada beli beras,” tuturnya bangga. 

Dengan penghasilan murni dari Gojek, dia mengaku tetap bisa menyekolahkan ketiga buah hatinya. Dua anak terakhir bahkan sekolah di swasta. Tanpa sepeserpun mendapat bantuan dari mantan suaminya. Bahkan dia mampu membayar utang yang ditinggal suaminya berupa cicilan kredit pemilikan rumah. Sebulan setorannya Rp 2,6 juta. 

Sebagai seorang ibu, dia terkadang merasa sedih karena tak punya banyak waktu bersama buah hatinya. Dari kecil, anak-anaknya kerap dititipkan tetangga saat dirinya mencari orderan. Ketika anak paling tua pulang sekolah barulah diambil dan dijaga kakaknya. “Sedih sebenarnya. Apalagi pas hujan-hujan dapat orderan. Di situ saya ditelepon anak. Mereka minta saya pulang. Takut kenapa-kenapa,” kenangnya sembari berkaca-kaca. 

“Tapi di situ saya jelaskan. Jika ibu gak kerja atau narik orderan, kalian nanti gka bisa sekolah. Kalian masih mau sekolah kan? Alhamdulillah anak-anak saya mengerti,” imbuhnya. 

Makanya, dia mengaku sangat loyal dengan Gojek. Meski beberapa aplikasi serupa sudah masuk Balikpapan, Anik mengaku tetap setia dengan Gojek. Tanpa sekalipun menggunakan aplikasi lain. Malah, dia sering beradu argumen dengan orang lain yang menjelekkan Gojek. Termasuk para driver yang mengeluh sepi orderan. 

Berkat loyalitasnya tersebut, tahun lalu dia diberi penghargaan oleh Gojek. Sebagai driver dengan bintang lima terbanyak sepanjang tahun dari 10 ribu driver. “Saya bangga sekali. Saya yakin Allah telah menitipkan rezeki saya dan anak lewat Gojek. Dengan apa yang sudah saya lalui, sampai kapan pun insyaallah saya akan selalu setia dengan Gojek,” tuturnya mengakhiri pembicaraan.

CEO Gojek Kevin Aluwi mengungkapkan, selama masa pandemi pihaknya memberikan bantuan kepada mitra driver mencapai Rp 260 miliar. Sebagai bentuk dukungan berkelanjutan untuk bisa #BangkitBersama. Berupa bantuan kebutuhan pokok, yakni uang belanja sembako sebesar lebih dari Rp 175,8 miliar, disalurkan langsung ke saldo dompet mitra driver yang telah menjalani vaksinasi Covid-19.

Kemudian bantuan penyediaan layanan/perlengkapan kesehatan (Rp 70,3 miliar) dan bantuan pendapatan bagi mitra driver (Rp 15 miliar). “Selain membantu memenuhi kebutuhan pokok mitra, inisiatif ini menjadi bentuk apresiasi bagi mitra driver yang telah memiliki kesadaran untuk menjalani vaksinasi, melindungi dirinya dari risiko paparan Covid-19,” bebernya.

Di wilayah Kaltim, vaksinasi ke mitra driver terus dilakukan. Termasuk mengikuti program vaksinasi yang dilaksanakan oleh Kesdam VI/Mulawarman Balikpapan, Gojek menyertakan ratusan mitra driver. Berlokasi di Klinik Hesti Wira Sakti, pos vaksinasi ini diharapkan dapat memberi perlindungan tambahan bagi mitra Gojek yang menjadi urat nadi perekonomian.

Head of Regional Corporate Affairs Gojek Indonesia Timur Guntur Arbiansyah menuturkan, keamanan, keselamatan dan kenyamanan layanan selalu menjadi prioritas mereka, apalagi di tengah pandemi. Kolaborasi bersama Kesdam VI/Mulawarman Kota Balikpapan ini merupakan inisiatif yang memiliki semangat untuk #BangkitBersama Gojek dan menjadi semakin tangguh di masa penuh tantangan.

“Kami sangat bangga bisa bekerja sama dengan Kesdam VI/Balikpapan. Mitra driver Gojek adalah urat nadi logistik nasional yang menjadi penyedia layanan transportasi serta pengiriman barang dan makanan sehari-hari bagi masyarakat. Semoga, mitra driver bisa melindungi diri sendiri, keluarga mereka dan para pengguna setia layanan Gojek dari risiko paparan Covid-19,” ujarnya.

Kepala Klinik Hesti Wira Sakti Kesdam VI/Mulawarman drg Dina Afriani memberi apresiasi Gojek dan para mitra driver-nya yang telah berpartisipasi dalam program vaksinasi. Namun, dia tetap mengingatkan para mitra driver untuk tetap menjaga protokol kesehatan.

“Saya mengapresiasi peran penting mitra driver Gojek yang telah membantu menggerakkan perekonomian di Balikpapan, berperan menyambungkan layanan berbagai aspek, khususnya logistik yang sangat mendasar bagi warga Balikpapan. Serta mendukung UMKM untuk terus menjalankan usahanya. Sehingga warga dapat beraktivitas di rumah, tapi tetap bisa melakukan kegiatan yang punya dampak perekonomian,” terangnya.

JADI SOLUSI WARGA ISOMAN

28 Juli 2021 bakal menjadi tanggal yang tak mungkin saya lupakan dalam hidup. Hari itu, saya untuk pertama kalinya menjadi salah satu pasien corona. Setelah terpapar dari ibu, yang seminggu sebelumnya tengah sakit serupa. Tak hanya saya, istri juga terpapar virus dari Wuhan, Tiongkok tersebut. 

Namun, kami mendapatkan perlakuan berbeda. Karena ibu lebih parah, beliau harus dirawat di rumah sakit. Sementara, saya bersama istri menjalani isolasi mandiri di rumah. Kami tidak pergi ke tempat isolasi yang disediakan pemerintah karena saat itu sedang tinggi-tingginya kasus penularan virus di Balikpapan. Juga, harus tetap stay jika terjadi sesuatu dengan ibu. 

Pada awal menjalani isolasi mandiri, saya dan istri memutuskan untuk menyiapkan berbagai kebutuhan pokok yang bisa diolah selama 14 hari. Seperti ayam, daging, mi, sayuran, dan telur. Namun, semua rencana buyar. Saya demam parah, sehingga istri tidak bisa memasak. Lebih fokus merawat saya dan menahan demam yang dialaminya juga. 

Di sini, saya benar-benar terbantu dengan keberadaan Gojek. Hampir semua kebutuhan saya bisa terpenuhi hanya melalui telepon genggam. Ketika lidah mulai mati rasa, saya dengan mudah mencari makanan berkuah dan pedas. Lewat fitur GoFood. Mendapat rekomendasi makanan dari warung terdekat atau terlaris. Siang itu pilihan saya Bakso Popeye yang berjarak 7 kilometer. Tak sampai 15 menit, pesanan datang. Pas dengan lidah saya yang ingin pedas. 

Selama menjalani isolasi, istri tidak pernah memasak. Kami benar-benar mengandalkan Gojek. Semua makanan yang kami mau tersedia. Dan aman bagi semuanya. Kami tidak keluar rumah. Sedangkan saat driver datang, saya meminta mereka menaruh pesanan di depan pintu. Sesekali ada yang menggantungnya di daun pintu. Aman. 

Tak hanya urusan perut, saya juga tidak pernah bingung ketika listrik mati. Sekalipun di tengah malam. Saya bisa membeli voucher di aplikasi Gojek. Tak butuh waktu 1 menit untuk mendapatkannya. Mudah dan cepat. Pun saat obat saya menipis, bisa membeli di Halodoc yang sudah terintegrasi dengan Gojek. Untuk hiburan, saya membuka GoPlay. Di situ kita bisa menemukan movie atau film serial. Pas untuk menemani saat berada di rumah aja. Semua dalam genggaman. (ndu/k15) 

Editor : Wawan-Wawan Lastiawan
#Advertorial