BALIKPAPAN - Sudah menjadi rahasia umum, prostitusi di eks lokalisasi Manggar Sari, Balikpapan Timur, ternyata masih “hidup”. Meskipun sudah lebih 9 tahun ditutup oleh Pemkot Balikpapan, tepatnya 2010 silam.
Hal ini terbukti saat awak media ini mencoba menggali informasi di area prostitusi di ujung Timur Kota Beriman. Ketika pengunjung tiba di sana langsung disambut oleh juru parkir yang standby menjaga kendaraan.
Lokasi yang menyatu bersama rumah warga sehingga wajib jeli membedakan rumah bordil dan rumah penduduk setempat. Namun yang pasti rumah bordil berciri khas adanya alunan musik dan lampu kerlap-kerlip. Eks lokalisasi yang berada di RT 31 Kelurahan Manggar Balikpapan Timur tersebut cukup ramai dikunjungi mulai pukul 20.00 Wita hingga larut malam.
Balikpapan Pos mencoba mendatangi satu rumah yang disulap menjadi sebuah caffe. Di situ berjejer perempuan muda berkisar 20 tahunan. Senyum manis menjadi penyambutan para gadis kepada pengunjung. "Mari mas masuk," ucap seorang perempuan yang biasa dipanggil Mami Evi.
Ruang berukuran 3x4 meter persegi tv LED lengkap dengan perangkat karaoke tersedia lengkap. Pengunjung dimanjakan oleh pilihan cewek pemandu atau LC untuk menemani sekadar bernyanyi atau bahkan berkencan.
"Sekali main Rp 250 ribu mas, sudah sama tempat. Di dalam sana," cetus Mami sembari menunjuk petakan kamar untuk berkencan. Jika hanya ingin berkaraoke ria pengunjung cukup merogoh kocek Rp 450 ribu, akan mendapatkan 5 botol bir dengan satu LC.
Dentuman musik berirama keras saling bersahutan dari masing-masing caffe yang tersebar. Namun ketika waktu menunjukan pukul 00.00 Wita serentak hingar bingar berubah menjadi sunyi.
"Di sini kalau udah jam 12 malam gak ada musik Mas, tapi masih buka kok cuma gak ada musik aja," katanya. Menanggapi itu Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Balikpapan Zulkifli mengakui bahwa eks lokalisasi Manggar Sari masih melakukan kegiatan.
"Ya memang secara legalitas eks Manggar Sari sudah ditutup kalau gak salah 2010 lalu. Memang bukan rahasia umum memang ada walau sembunyi-sembunyi. Kami sudah melakukan razia rutin," terangnya.
Dia pun tidak memungkiri bahwa kegiatan razia yang dilakukan tidak efektif, terbukti ketika petugas gabungan melakukan kegiatan razia di lokasi kerap tidak ditemukan kegiatan prostitusi.
"Kalau dirazia gak permanen, begitu dirazia kan sebelum kami datang ke sana udah bubar duluan, lampu sudah mati tidak ada aktivitas itu yang juga belum kita temukan pola yang permanen," katanya.
Tindakan tegas seperti pembongkaran bangunan yang diduga digunakan praktik "esek-esek" juga acap kali dilakukan. Zul biasa disapa mengaku menemui kesulitan dalam hal penindakan lantaran lokasi yang menyatu dengan masyarakat.
"Lokasinya kan menyatu dengan rumah masyarakat sehingga akan mengeksekusi itu kesulitan karena menyangkut penduduk, berbeda dengan eks lokalisasi Km 17 karena tersendiri," akunya.
Zul pun tengah menyusun rencana untuk memberdayakan masyarakat setempat untuk bersama-sama menjaga kawasan eks lokalisasi tersebut.
"Sudah kami kumpulkan camat dan lurah untuk mengajak warga setempat menjagai dan memberdayakan melalui Poskamling di lokasi itu. Rencana kami implementasikan 2020 semoga bisa berhasil," harapnya.
Dia menambahkan bahwa warga setempat diminta untuk menjaga agar praktik prostitusi tidak kembali terjadi. "Tentu dengan dukungan masyarakat setempat, jika memang menginginkan praktik itu tidak ada lagi," tandasnya. (pri/ono)
Editor : izak-Indra Zakaria