Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pesawat Mahal, Jenazah Dipulangkan Pakai Speedboat

uki-Berau Post • 2019-02-28 12:20:30

TANJUNG REDEB – Tewasnya salah seorang Master Dive asal Malaysia usai menyelam di Barracuda Sport sekitar Pulau Kakaban, Kepulauan Derawan, masih menimbulkan tanda tanya bagi sejumlah pihak.

 

Kapolres Berau AKBP Pramuja Sigit Wahono melalui Kasat Reskrim AKP Agus Arif mengatakan hasil visum tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.

 

“Jenazah WNA (Warga Negara Asing,red.) tersebut sudah divisum di RSUD Abdul Rivai Tanjung Redeb. Dokter bersama tim Inavis Polres Berau tidak menemukan adanya tanda bekas kekerasan atau bekas gigitan binatang di tubuh korban,” ujar Agus kepada media media ini, kemarin (27/2).

 

“Untuk jenazah korban akan dipulangkan ke negaranya. Keluarga korban juga sudah komunikasi dengan Ramzi, rekan diving korban yang juga asal Malaysia,” sambungnya.

 

Lebih lanjut, ia mengatakan pihaknya juga telah memeriksa beberapa saksi  terkait tewasnya perempuan bernama Yong Foong May. Saksi itu yakni guide (pemandu diving), motoris speedboat, dan petugas Puskesmas Tanjung Batu.

 

“Lima orang saksi telah kami periksa. Saksi dari petugas puskesmas mengatakan bahwa korban sudah meninggal saat sampai di Puskesmas,” tuturnya.

 

Sementara itu, Ramzi yang diketahui sebagai rekan korban yang merupakan Warga Negara (WN) Malaysia saat ditemui di RSUD Abdul Rivai mengatakan, pihak keluarga berencana membawa korban pulang ke negaranya menggunakan speedboat dari Tarakan, Kaltara menuju Tawau, Malaysia. Lantaran carter pesawat dar Berau ke Malaysian mencapai Rp 216 juta. Sehingga keluarga korban memilih menggunakan speedboat dengan biaya Rp 40 juta.

 

Terpisah, Kasubsi Pelayanan dan Verifikasi Dokumen Keimigrasian, Kantor Imigrasi Kelas II, Tanjung Redeb, Oky Pergiwa mengatakan pihaknya telah memeriksa dokumen keimigrasian WNA tersebut dan semuanya dinyatakan lengkap.

 

“Mereka menggunakan Visa Kunjungan yang berlaku 30 hari. Mereka datang pada Minggu (24/2) lalu. Kami dari pihak Imigrasi hanya mendata WNA tersebut,” tambahnya.

 

Sebelumnya diberitakan, WNA asal Malaysia berusia 45 tahun itu meregang nyawa usai menyelam (diving) di Barracuda Point sekitar Pulau Kakaban, pada Selasa (26/2) sekira Pukul 12.30 Wita.

 

Informasi yang diperoleh media ini diketahui bahwa WNA nahas tersebut melakukan penyelaman bertiga dengan temannya dipandu 2 guide dari Derawan Dive Lodge (DDL).

 

Kapolres Berau AKBP Pramuja Sigit Wahono saat dikonfirmasi Berau Post, membenarkan warga Malaysia itu, tewas usai menyelam dengan kedalaman 30 meter. Setelah menyelam selama 15 menit, korban pun tiba-tiba muncul di permukaan dalam kondisi lemas, dan langsung ditolong oleh motoris speedboat pemandu diving yang menunggu penyelam di permukaan air sekitar lokasi penyelaman.

“Mereka sempat memberikan pertolongan pertama kepada korban, namun dalam perjalanan menuju ke Puskesmas Tanjung Batu, korban meninggal,” katanya.

 

Korban Yong Foong May diketahui merupakan seorang Master Dive dan memiliki lebih dari 1.000 jam penyelaman.

 

Sementara itu, Instruktur DDL, Andreas selaku pemandu penyelaman yang ditemui di RSUD, mengatakan sebelum melakukan penyelaman, korban sempat menandatangani surat keterangan sehat dan layak menyelam, pada Senin (25/2) lalu.

 

“Bahkan sesaat setelah menyelam, korban itu masih bincang-bincang terus dan sempat ketawa-ketawa,” ujarnya.

 

Andreas mengakui mulai menyelam sekira Pukul 10.30 Wita. Korban berdampingan dengan Ramzi, rekan korban dari Malaysia. Sedangkan Andreas kala itu sedang bersama mendampingi penyelam lainnya warga Negara Amerika. “Ramzi, rekan korban itu juga master dive. Kalau yang penyelam dari Amerika itu penyelam baru, makanya saya damping dia,” ujarnya.

 

“Kami berangkat dari Pulau Derawan Pukul 08.30, kemudian briefing sekira Pukul 11.30. Korban sempat foto-foto dan merekam ikan-ikan di Barracuda Point dengan kedalaman 30 meter. Saya sempat pantau dan tanyakan keadaan dia, tapi dia (korban,red.) mengatakan oke,” tuturnya.

Andreas yang berjarak sekitar 10 meter dari korban tidak menyadari bahwa korban sudah naik ke permukaan dalam keadaan lemas. Ia pun kemudian menyusul ke permukaan untuk memastikan keadaan korban.

 

“Pas di atas permukaan air dia sudah lemas, saya langsung berikan pertolongan pertama, kami semua panik. Begitu sampai di Puskesmas Tanjung Batu, korban dinyatakan sudah meninggal dunia,” ujarnya.

 

“Untuk oksigen semua bagus, dan kami lihat korban naik ke permukaan pun dengan waktu yang normal-normal saja,” sambung Andreas.

 

Teman korban, Ramzi saat dikonfirmasi wartawan, masih tampak syok. Ia pun mengatakan tiba di Pulau Derawan pada Minggu (24/2) sekira Pukul 14.00.

 

“Korban tidak memiliki riwayat jantung. Kami pun sempat bercanda sewaktu di resor. Korban juga sudah dua kali menyelam di Berau yakni, di Maratua dan Derawan,” ujarnya menyebut mereka ke Kepulauan Derawan melalui Tarakan, Kaltara.(*/yat/asa)

Editor : uki-Berau Post
#Peristiwa