BAGI kebanyakan orang, menjadi wanita penghibur mungkin dianggap sebagai pekerjaan yang hina. Tapi tentunya tak ada orang yang menginginkan menjadi seorang wanita penghibur di klub malam yang setiap malam harus berhadapan dengan minuman keras (Miras) berbagai merek. Seperti itulah yang dialami Bunga (nama samaran). Sosok perempuan berparas cantik dengan rambut sebahu itu adalah salah satu pekerja tempat hiburan malam (THM) di Berau yang mengaku sudah hampir 2 tahun bekerja sebagai wanita penghibur atau yang biasa disebut Ladies itu.
Merasa penasaran untuk mengetahui lebih jauh tentang kisah Bunga yang sebenarnya. Berau Post pun menyamar sebagai tamu THM dan mencoba mendekati perempuan berusia 22 tahun itu yang sedang duduk di antara jajaran wanita penghibur lainnya di sofa panjang menunggu kedatangan lelaki ‘hidung belang’.
Bunga yang terlihat sedang asyik menggunakan Smartphone berwarna Pink itu pun melempar senyuman manisnya saat Berau Post mencoba mendekatinya. Jari jempol kanan-kiri wanita asal salah satu kota di Jawa Barat, itu tampak sangat lihai mengutak atik Smartphone miliknya yang bermerek terkenal itu. “Cari cewek kah Bang? Buka table yuk,” ajak Bunga saat Berau Post duduk di sampingnya. “Enggak, cuma mau bincang-bincang aja,” jawab Berau Post.
Ternyata, untuk menggali keterangan lebih dalam dari Bunga, Berau Post yang tadinya menyamar jadi tamu diharuskan membuka satu meja sesuai dengan aturan yang berlaku di klub malam. “Biar lebih enak ngobrolnya, Abang harus buka table. Itu peraturan di sini. Abang buka table dulu, baru pilih cewek yang bisa temani abang duduk,” kata Bunga.
Demi sebuah informasi, Berau Post pun membuka table paling belakang yang tepat berada di pojok klub malam tersebut, meski hanya bisa menikmati sekaleng minuman berenergi dengan sebungkus camilan kacang Garuda. Perbincangan di sebuah ruangan besar full music dengan lampu remang-remang itu, Bunga membeber kisah pilu yang pernah dialaminya, sehingga dengan terpaksa terjun di dunia malam yang penuh hura-hura itu.
Setelah ditinggal cerai oleh suaminya sejak 3 tahun lalu, yang disebabkan oleh hadirnya pihak ketiga atau yang biasa disebut wanita idaman lain (WIL), kehidupan Bunga pun beserta seorang anaknya yang kala itu masih berusia 1,5 tahun, mulai terasa berat terutama untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. “Suami saya itu enggak bertanggungjawab Bang. Lelaki brengsek. Dia meninggalkan anaknya yang masih kecil demi seorang perempuan selingkuhannya,” beber Bunga.
Karena hanya tamatan sekolah menengah pertama (SMP), dan tidak memiliki keahlian yang bisa dia andalkan untuk mencari pekerjaan di bidang swasta apalagi di pemerintahan, membuatnya terpaksa harus menggeluti pekerjaan dunia malam yang disadarinya dapat mengancam kesehatannya sendiri.
“Aku tuh enggak bisa minum alkohol Bang. Makanya kalau dapat tamu, aku paling cuma bisa minum bir. Itu pun paling banyak 2 botol sudah pening. Tapi mau diapain lagi, memang pekerjaan kami seperti itu setiap malam berhadapan dengan miras,” tuturnya dengan tersenyum.
Bunga bahkan mengaku setiap bulan setelah gajian, dirinya tak pernah luput mengirim uang kepada ibunya, yang kini memelihara anak sematawayangnya itu sejak dia bekerja di Berau. Soal besaran gaji yang dia terima per bulan. Wanita penghibur berkulit putih ini mengatakan besaran gaji tergantung jumlah tamu yang dia temani minum dalam sebulan.
“Kan ada biaya Ledisnya Bang. Rp 300 ribu per ledis, sampai THM tutup. Dari jumlah itu, Rp 100 ribu untuk ledisnya, sisanya untuk pemilik THM yang mempekerjakan kita. Itulah gaji kami yang diterima setiap bulan. Tinggal hitung berapa kali dapat tamu dalam sebulan,” ungkap Bunga.
“Pendapatan per bulan itu juga dipotong dengan sewa Mes (tempat tinggal,red.) jika kita tinggal di Mes yang disediakan oleh Bos (pemilik THM,red.),” sambungnya sambil menyebut dirinya biasa menerima gaji berkisar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan, di luar uang tip yang biasa didapat dari para tamunya.
Wanita penghibur yang mengaku biasa melayani tamunya di luar THM atau berlanjut ke hotel, ini juga mengatakan tidak setiap malam banyak tamu yang datang. Sehingga kalau pengunjung THM sedang sepi, maka ia pun terkadang tidak bekerja, karena tamu yang datang tidak memilihnya. Sepinya pengunjung THM tersebut pun terpaksa membuatnya harus mencari bokingan yang bisa diajak ‘bermesraan’ di hotel. Hal itu terkadang dilakukan untuk menambah pendapatannya, guna mengantisipasi ada permintaan transfer uang secara mendadak dari anaknya di kampung.
“Tidak selalu Bang. Sesekali aja kalau pas keluarga di kampung lagi butuh banget duit. Ya, bayarnya paling rendah Rp 1,5 juta, paling tinggi Rp 3 juta sampai pagi. Hotel dibayar sendiri sama tamunya,” akhir cerita Bunga.
Nasib yang hampir serupa juga diterima Laura (nama samaran). Wanita berusia 21 tahun yang berasal dari salah satu kota di Jawa Timur, ini diketahui memiliki pekerjaan sebagai pekerja seks komersial (PSK) yang berdiri sendiri dan mencari tamu via jejaring sosial di aplikasi Michat. Ditemui Berau Post di salah satu Indekos yang berada di seputaran Kota Tanjung Redeb, dua hari lalu, Laura mengaku lebih enak dan bebas menjadi PSK prostitusi online. Sebab menurutnya, tidak ada paksaan bagi dirinya untuk mencari tamu.
“Kalau kerja di klub malam atau di tempat prostitusi tertentu, kita tidak bisa menolak tamu yang mau sama kita mas. Kalau si Bos atau Mami (germo,red.) meminta kita layani tamu itu. Tapi kalau di online, kita tinggal pilih aja. Kalau kebetulan juga orangnya ganteng, lebih bagus. Kalau jelek, kadang-kadang juga aku tolak dan tidak ada paksaan. Kecuali memang lagi butuh banget uang,” jelas wanita yang saat itu mengenakan celana jin biru tua dipadukan baju hitam lengan pendek itu saat diwawancarai Berau Post.
PSK online pemilik bibir tipis, rambut pirang sebahu itu juga mengakui setiap hari bisa melayani tamu 3 hingga 4 orang, dengan tarif Rp 300 ribu per sekali ‘coblos’. Ditanya apakah aktivitasnya di rumah indekos tersebut tidak dicurigai oleh tetangganya karena pria ‘hidung belang’ kerap keluar-masuk di pintu indekosnya. Dengan ekspresi wajah yang menandakan masa bodoh itu, ia menyebut bahwa urusan dia tidak pernah mendapat gangguan dari orang-orang di sekitarnya.
“Enggak kok, warga di sini enggak mau tahu urusan orang. Mereka (tetangga,red.) tidak mau ambil pusing dengan apa yang kita lakukan. Itu kan urusan pribadi kami. Yang penting jangan juga terlalu menyolok-lah,” pungkas Laura.
Lebih jauh, Laura juga mengatakan dirinya mulai melakoni pekerjaannya itu sejak dua tahun lalu. Awalnya, ia diajak oleh salah seorang teman sekampungnya di Jawa yang sudah lebih lama bekerja sebagai PSK di salah satu THM di Bumi Batiwakkal -nama lain Kabupaten Berau-. Terpengaruh cerita temannya yang menyebut bahwa uang yang didapat lebih besar. Laura pun langsung tergiur dan membulatkan tekadnya untuk merantau ke Pulau Kalimantan. Terlebih kala itu, keluarga Laura sedang dilanda ‘krisis ekonomi’ sepeninggal suaminya. Sementara anaknya yang ketika itu berusia 8 bulan, membutuhkan biaya setiap hari.
“Awalnya saya bekerja di THM. Tapi begitu saya coba mencari rezeki di Medsos (media sosial,red.), ternyata lebih asyik karena tanpa tekanan si Bos,” papar wanita yang juga mengaku gagal melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA lantaran hamil di luar nikah.
Usia kedua orangtuanya yang sudah uzur itu, membuat Laura harus banting tulang mencari nafkah untuk menjamin kelangsungan hidup ibu dan ayah serta seorang putranya yang saat ini dirawat oleh salah seorang tantenya itu.
“Orangtua saya itu tidak tahu kalau saya kerja beginian. Pernah sih dia (orangtuanya,red.) tanya. Tapi saya bilang kalau saya kerja di warung makan,” akunya.
“Makanya kalau saya pulang kampung. Teman-teman pada tanya kerja apa di Kalimantan. Saya bilang aja kerja di perusahaan. Mereka tahu saya kerja di Kalimantan, tapi tidak tahu di Berau,” lanjut Laura.
Sementara itu, salah seorang pengguna prostitusi online Michat yang sengaja disamarkan identitasnya, menuturkan kecanggihan teknologi saat ini membuat dunia prostitusi lebih hidup. Apalagi kata dia, dunia prostitusi online di Berau juga sejauh ini masih aman-aman saja.
“Para lelaki penikmat seks komersial juga lebih mudah mencari mangsanya di Medsos, utamanya di aplikasi Michat. Dulu juga ada aplikasi BeeTalk, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi diakses,” ujarnya.
“Sekarang kalau mau BO (booking out,red.) lebih mudah. Tinggal masuk ke Michat dan tinggal pilih cewek yang cantik sesuai selera. Tapi hati-hati juga karena banyak juga yang cuma menipu. Suruh transfer uang dulu. Katanya uang tanda administrasi yang harus ditransfer terlebih dahulu ke rekening Bos dia,” beber Franky (bukan nama sebenarnya) kepada Berau post.(tim investigasi)
Editor : izak-Indra Zakaria