Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Namanya Buroncong

uki-Berau Post • 2019-06-11 13:51:28

JUMLAHNYA banyak sekali. Saya tak bisa menyebut satu persatu, nama jajanan tradisional yang ada di Makassar. Semuanya sudah ada sebelum saya lahir. Tentu tak semuanya juga bisa saya nikmati. Ada yang manisnya sedang, kencang, dan ada yang manis sekali.

Karena lebih nyaman bila dinikmati pagi hari, maka saya juga harus bangun pagi-pagi. Hari sebelumnya, saya sudah sempat melihat mereka berjualan menggunakan gerobak di halaman parkir pantai Losari.

Saya sempat shok. Ketika akan menyeberang jalan, banyak anggota brimob yang berpakaian gelap. Ada apa? Ternyata hari Jumat (7/6) ada acara open house yang digelar di kediaman Pak Jusuf Kalla. Mau ikut antre, tentu ribuan warga yang hadir. Saya tidak sanggup ikut antrean panjang.

Ada dua gerobak dorong yang warnanya sama parkir tidak berjauhan. Inilah ciri khas penjual Buroncong. Ia mendatangi pembelinya. Pagi hari yang masih suasana libur, halaman parkir pantai Losari dimanfaatkan warga untuk olahraga. Setelah istirahat, mereka menikmati Buroncong panas.

Saya tidak selesai berolahraga. Bahkan baru bangun tidur. Kayaknya nikmatnya tidak jauh berbeda. Bingung juga karena saya seorang diri. Siapa yang foto? Meminta penjual yang satunya, tentu tidak elok. Tak masalah berswafoto sajalah.

Namanya Daeng Rapi. Ia sudah lama berjualan Buroncong. Penjual yang satunya, namanya Daeng Sikki. Mereka berdua satu bos. Beli dengan salah satunya rasanya pasti sama. Soalnya satu adonan. Adonannya hanya berupa terigu diberi kelapa parut dan gula. Mungkin ada yang lain, tapi dirahasiakan. Bisa jadi saya dicurigai mau ‘mencuri’ resepnya.

Dalam sehari, kata Daeng Rapi, ia mendapat jatah adonan terigu sebanyak 3 kilogram. Adonan disimpan dalam termos berwarna biru. Ia tidak masak banyak. Menunggu pesanan. Itu tadi, Buroncong ini enaknya dinikmati saat masih panas.

Saya ingat waktu kecil. Ada tebak-tebakan sesama teman. Kue apa yang paling berat? Ternyata jajanan inilah. Sebab harus dicungkil dulu.  Sementara api pembakarnya harus diatur panasnya. Jangan sampai gosong, sementara adonan belum masak betul.

Harganya Rp 1.250 per biji. Tapi biasa ditawarkan Rp 5.000 empat biji. Saya pesan empat biji. Tapi ada syarat tambahannya yakni minta dibuatkan yang sedikit lebih kering. Bagian bawah kue yang mirip perahu itu kalau agak kering enak dinikmati. Panas-panas lagi. Ada kriuknya.

Sebetulnya ada langganan saya. Ia berjualan tak jauh dari Makassar Golden Hotel. Kabarnya inilah Buroncong terenak. Banyak pelanggannya terpaksa antre karena datang bersamaan. Saya belum tahu apa sempat saya ke sana sebelum kembali ke Berau. Biarlah saya nikmati saja Buroncong buatan Daeng Rapi.

Banyak juga pembelinya. Ada yang datang dengan logat Jakarta, tapi ada irama bugisnya. Saya pikir, pasti mereka termasuk merantau di kampung sendiri seperti saya. Ada juga ibu-ibu petugas kebersihan. Ia membawa anak-anak mereka. Usai bekerja membersihkan halaman parkir, ia mampir membeli Buroncong buat anak-anaknya.

Daeng Rapi memasukkan dalam tas kresek bening warna putih. Dasarnya, diberikan alas berupa daun pisang. Saya juga pikir buat pengaman agar tidak terkontaminasi antara Buroncong panas dan plastik. Saya duduk sendirian di bawah monumen becak di kawasan itu.

Saya menikmati sambil berlagak seperti Bondan Winarno Almarhum. Merasakan apa saja yang terkandung dalam adonan itu. Juga sambil mengingat masa kecil yang hampir tiap hari membeli Buroncong. Harus beli karena parkirnya di depan rumah.

Inilah luar biasanya Daeng Rapi dan para penjual Buroncong lainnya. Mempertahankan jajanan tradisional. Saya yakin sebelum jam 10 pagi, Daeng Rapi sudah pulang ke rumah. Adonan yang 3 kilogram itu akan habis terjual. Namanya Buroncong, yang selalu datang menggoda selera setiap bangun pagi. (*/asa)

 

 

Editor : uki-Berau Post
#Catatan