Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Makna 74

uki-Berau Post • 2019-08-28 16:19:06

BAGI Pak Bachrul Hadie, peringatan detik-detik Proklamasi, menjadi peristiwa yang luar biasa baginya. Tak menduga, dia terpilih sebagai berbusana terbaik kedua, dari sekian banyak undangan yang hadir. Hadiahnya sederhana tapi bermakna. Sebuah sepeda. Sepeda dari Presiden Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi.

Duduk di deretan Very Important Person (VIP), Pak Bachrul datang dengan busa yang khas dan menarik perhatian. Duplikasi dari busana yang dipakai oleh Raja Gunung Tabur.  Aslinya ada disimpan di Museum Batiwakkal. Ada mahkota, pada tutup kepala. Kalau yang itu asli.

Ia sudah beberapa kali berada di Istana. Baik untuk mengikuti kegiatan, ataupun upacara penyerahan penghargaan. Mulai dari Presiden Soeharto hingga Pak Jokowi. Dan, tampilannya selalu beda. Baik sebagai sipil, maupun dalam kapasitasnya selaku Raja di Kesultanan Gunung Tabur.

Siang kemarin (27/8), saya ke Gunung Tabur, khusus menemui Pak Bachrul yang bergelar Haji Aji Raden M Bachrul Hadie – Sultan Chalifatullah Kaharuddin. Rumahnya yang sederhana. Masih rumah kayu didominasi cat berwarna kuning. Lokasinya tak jauh dari Museum Batiwakkal.

Pak Bachrul kebetulan berada di rumah.  Berbincang dengan temannya di teras. Nampaknya ada kegiatan yang harus dihadiri. Berbaju kuning, dua saku berwarna hitam. Beberapa simbol pin di dada bagian kiri. Dia tidak bercerita acara apa yang akan dihadirinya.

Di ruang tengah rumah terlihat sepeda pemberian Presiden Jokowi. Berada di antara benda-benda peninggalan keluarga Kerajaan Gunung Tabur yang sudah lama dia miliki. Saya izin membawa sepeda ke teras. Tempat kami berbincang.

Sepedanya biasa saja. Yang membuat tidak biasa, ada tulisan ‘Hadiah Presiden Jokowi’. Tulisan ini yang memuluskan perjalanan pulang dari Jakarta ke Berau. “Kalau ditimbang, barang saya pasti kelebihan.  Karena tulisan ini, semua tidak berbayar,” kata Pak Bachrul sambil tertawa.

Ia bercerita, bagaimana awalnya sebelum dinobatkan sebagai undangan dengan berbusana terbaik dua. Tak ada perasaan apa-apa. Pak Bachrul dalam setiap kegiatan paling memperhatikan soal penampilan. Apalagi tampil di Istana Negara. Mulai dari sepatu, aksesori baju yang dikenakan, hingga cincin yang melekat di jarinya.

Saat namanya disebut. Yang dibacakan langsung Wakil Presiden Jusuf Kalla, dia mengaku sedikit terkejut. “Tidak karuan rasanya,” kata Pak Bachrul. Beruntung pernah latihan baris-berbaris, sehingga masih bisa melangkah tegap.

Ada momen yang menurut Pak Bachrul, sengaja dia lakukan. Saat kamera diarahkan kepadanya usai menerima sepeda dari Pak Jokowi, ia menyimbolkan jari telunjuk dan jempolnya. Seperti simbol saat Pilpres dulu. Bu Mega, yang berdiri di sampingnya, menurunkan jempolnya. Ada tiga kali dilakukan berulang. “Tapi, saat berhadapan Pak Jokowi, saya nggak berani,” kata Pak Bachrul.

Ia tak mempersoalkan saat Pak Jusuf Kalla menyebut namanya dan busana Kalimantan. Kebetulan, kerabat kesultanan di Kalimantan hanya dia yang hadir. Ini yang membuat warga Kalimantan Timur, khususnya warga Berau, menjadi bangga dan terharu.

Ada lagi kisah lain, kata Pak Bachrul. Setelah menerima sepeda, dia kembali ke tempat duduknya sambil menggiring sepeda. “Saya dengar suara Pak Kapolri, memanggil saya,” kata Pak Bachrul, sambil tangan Pak Tito menunjukkan jari tangan. Dia sadar, isyarat yang dimaksud Pak Kapolri, cincin yang di jarinya. “Siap, delapan enam,” kata Pak Bachrul.

Pak Bachrul Hadie melihat Istana Negara dan tiang bendera, teringat puluhan tahun silam.  Waktu itu masih SMA. Tahun 1974, kata Pak Bachrul dia berada di ‘Pasukan Delapan’ pengibar bendera Merah Putih, pada peringatan detik-detik Proklamasi. Ia masih mengingat, ke mana saja dan melangkah di mana saja saat berada di Istana Negara.

Dan, peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke-74, dia kembali lagi ke Istana. Bukan sebagai pengibar bendera pusaka. Bukan lagi Bachrul yang masih taruna. Dalam usianya yang sudah 65 tahun, masih bisa merasakan aura Istana Negara. Melihat pasukan pengibar bendera, seperti yang dia lakoni pada 45 tahun lalu.

Angka 74 baginya penuh makna. Dalam kapasitasnya sebagai Raja dan gelar yang diberikan oleh sang ayah, sudah tercatat di Belanda. Dia mendapatkan penghargaan berbusana terbaik. Busana yang pernah digunakan Raja Gunung Tabur.

Sepeda tentu hanyalah simbolik Pak Presiden. Ada kalimat singkat yang menjadi penyemangat Pak Bachrul. Kalimat yang menjadi tag line peringatan HUT Kemerdekaan ke-74 tahun ini. ’SDM Unggul, Indonesia Maju’. Itu pesan yang juga akan  disampaikan Pak Bachrul pada generasi milenial di daerahnya. (*/udi)

 

 

 

Editor : uki-Berau Post
#Catatan