Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Toilet Rp 3 M

uki-Berau Post • 2019-12-27 09:49:54

MEMBAYANGKAN bagaimana wajah toilet yang akan dibangun Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah. Biayanya tidak sedikit. Dibangun di tiga lokasi, akan dikucurkan anggaran Rp3 miliar.

Tiga daerah yang beruntung dapat paket toilet itu, Kabupaten Bulukumba, Toraja dan Enrekang. Ketiganya adalah daerah dengan potensi kunjungan wisata yang besar. Masing-masing daerah mendapatkan anggaran Rp 1 miliar, khusus membangun toilet.

Toilet yang akan dibangun itu mewah. Berstandar Internasional. Ada Water Closed (WC), ditempatkan cermin dan dilengkapi wastafel.  Tak ketinggalan pengharum ruangan. Juga pengering rambut. Sengaja dipersembahkan untuk wisatawan yang berkunjung ke tiga daerah itu. Konsepnya seperti ‘pit stop’ untuk wisatawan.

Pak Nurdin Abdullah, sang Gubernur Sulsel, tidak hanya sekadar bicara soal pariwisata. Infrastrukturnya juga dipikirkan untuk melayani wisatawan mancanegara. Ia sadar betul, sektor ini mampu memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan asli daerah.

Gubernur yang pernah menetap lama di Jepang, menyebut fasilitas toilet yang ada di lokasi wisata bersih dan nyaman. Tidak jorok.

Pekan lalu, saya baru saja melakukan perjalanan darat ke Tanjung Batu, ibukota Kecamatan Pulau Derawan. Jelang libur Natal, jumlah pengunjung ke Pulau Derawan lebih banyak dari hari biasanya. Lahan parkir tak mampu menampung ratusan kendaraan dari luar daerah.

Berangkat pagi dari Tanjung Redeb, saya ingatkan teman saya yang satu kendaraan agar urusan ‘air kecil’ dituntaskan dulu sebelum berangkat. Sebab, hanya ada satu persinggahan, yakni di Kampung Merancang. Lama perjalanan ke Tanjung Batu butuh waktu 2 jam.

Saya selalu mampir di tempat ini. Warung yang berfungsi sebagai rest area. Makanannya macam-macam. Ada gogos dan kopi susu yang masih panas. Pelayannya juga manis-manis. Orang Bugis yang sudah lama merantau. Sama dengan saya.

Terpisah dengan bangunan rumah, di bagian belakang ada bangunan kecil. Toilet dengan bangunan kayu yang usianya sudah lama.  Beberapa bagian papannya sudah bocor. Sudah tembus pandang. Ada ember kecil untuk menampung air.

Yang akan ke Tanjung Batu, atau sebaliknya yang ingin pulang ke Tanjung Redeb, hanya di warung ini menyediakan WC umum. WC yang sejarahnya dulu dibangun ketika Berau jadi tuan rumah PON. Sudah lama sekali.

Dari tempat ini, tak ada lagi toilet umum yang tersedia di tepi jalan.  Juga tak ada rest area khusus. Kalau melewati warung di Merancang, dan memerlukan toilet, tak ada pilihan lain. Ada ‘toilet’ di antara semak-semak.

Alangkah tidak nyamannya, bila wisatawan mancanegara harus  buang air kecil di tengah semak belukar di tepi jalan. Bisa terganggu rumput ilalang.

Di Tanjung Batu kondisinya juga demikian. Ada toilet di terminal penyeberangan. Saya menilai, toilet yang tidak standar. Sering kehabisan air. Juga sering terlihat ada tumpukan pakaian. Ada yang dibangun di luar kawasan dermaga, kondisinya sama. Tak terawat. Sedikit lebih nyaman, menumpang di rumah pak camat.

Pulau Maratua yang sering dikunjungi wisatawan mancanegara, lebih parah lagi. Di ujung dermaga kampung, ada toilet umum dengan beberapa kamar. Pintunya tak berfungsi, juga tak ada air. Termasuk toilet yang baru dibangun bersamaan dengan land mark.

Yang lebih ironis, di Pulau Kakaban. Dalam musim libur seperti sekarang, jumlah pengunjung secara bersamaan bisa ratusan banyaknya. Awalnya ada toilet dan ruang ganti pakaian yang disediakan. Sekarang kondisinya masih rusak setelah tertimpa pohon. Belum diperbaiki. Jangan heran, bila pengunjung yang datang meski senang melihat ubur-ubur, tapi kecewa dengan fasilitas toilet yang ada di Pulau Kakaban.

Kondisi yang  tak jauh berbeda dengan perjalanan ke lokasi wisata pesisir pantai. Toilet umum secara khusus tak ada. Bila sudah tidak tahan, terpaksa mampir di warung Donal. Yang dijadikan rest area bagi wisatawan.

Selepas itu, bila akan berurusan dengan toilet, tersedia di kantor camat atau masjid yang dilalui. Talisayan juga tak ada toilet khusus bagi wisatawan.

Pengelola lokasi wisata Telaga Biru, sedikit lebih cerdas. Mereka menyediakan beberapa kamar toilet. Walaupun jaraknya sedikit berjauhan dengan gasebo tempat pengunjung menikmati keindahan Danau Telaga Biru.

Ada juga lokasi permandian air panas. Kondisinya lebih parah.  Pernah dibangunkan ruang ganti dan toilet, tapi tak berumur panjang. Sekarang semua tak berfungsi. Padahal ini salah satu destinasi yang menjadi kebanggaan.

Wisatawan memang belum dimanjakan dengan fasilitas yang terlihat sederhana, tapi manfaatnya cukup besar. Karena minimnya toilet, juga akan menjadikan kehebatan wisata akan tergerus dengan cerita soal toilet.

 

Makanya, hebat sekali Pak Nurdin Abdullah, menggelontorkan Rp 3 miliar hanya untuk menyediakan fasilitas toilet yang mewah. Toilet yang mirip di hotel bintang lima. Ini sebagai kompensasi dari biaya yang dikeluarkan wisatawan untuk datang berkunjung. (*/har)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan