Di antara 13 kabupaten yang ada di Kalimantan Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, boleh dikatakan terkena dampak paling parah. Atas alasan itulah PMI mendirikan posko di kabupaten ini.
Endro S. Efendi, Barabai
MESKI baru sampai Barabai dini hari, sekitar pukul 03.00 Wita, pagi harinya pukul 08.00 Wita, tim sudah harus bangun dan siap di ruang briefing pagi.
Posko yang dipakai PMI sebagai pusat kendali tanggap darurat bencana ini menggunakan kampus milik Sekolah Tinggi Agama Islam Al Washliyah, di Barabai, Hulu Sungai Tengah. Salah satu ruangan di kampus itu digunakan sebagai ruangan berkumpul sekaligus sebagai Pusat Data dan Informasi Bencana PMI.
Pertemuan pagi sekaligus menjadi ajang kulonuwun alias memohon diri bergabung dengan tim PMI lainnya yang lebih dahulu tiba dan turun ke lokasi bencana. Kedatangan tim PMI Berau sekaligus menggantikan tim dari PMI Samarinda yang harus balik kanan setelah lebih sepekan berada di lokasi ini.
Usai briefing, tim mengisi energi di dapur umum dengan menu seadanya khas Barabai. Selanjutnya, seluruh personel dari PMI langsung bergabung masing-masing dengan tim yang sudah ada.
Dua relawan PMI Berau yang juga perawat, Deddy Pramana Putra dan Riony Gusbaniansyah, menjalankan tugas dalam pelayanan kesehatan. Hari pertama memberikan layanan, setidaknya membantu layanan pada 37 orang, dari dewasa sampai Balita.
Warga yang datang memiliki keluhan batuk, flu, demam, pusing, maag, gatal, tekanan darah tinggi, hingga radang tenggorokan. Setiap warga pun diberikan obat sesuai dosis, usia, serta tanda dan gejala yang dialami.
Sementara ada pula tim tergabung dalam tim logistik dan distribusi. Dari mulai mencatat barang masuk dan keluar, serta mensortir barang agar siap didistribusikan.
Tim juga langsung menyalurkan ke masyarakat serta melakukan pencatatan ulang jumlah penerima bantuan. Dua relawan yang bertugas di bidang logistik adalah Wahyu Ika Putri dan Silvana. Sementara relawan yang bertugas dalam distribusi adalah Arianti dan Supriyanti.
Dari data setidaknya lebih dari 800 jiwa yang menerima manfaat dalam distribusi bantuan yang dilakukan hari pertama tim Berau bergabung.
Baju layak pakai juga sempat didistribusikan. Diduga karena sistem pendataan kurang tepat, sehingga banyak bantuan kurang merata. Tim PMI Berau sempat ikut distribusi pakaian layak pakai sebanyak satu pikap penuh untuk warga dua RT di Desa Banua Hanyar, Kecamatan Pandawan, Hulu Sungai Tengah.
Guna keperluan dapur umum masyarakat, PMI juga mendistribusikan barang ke RT 1 Batu Punggal, berupa beras 100 kg dan telur 24 piring. Sementara untuk RT 2 Batu Punggal, berupa air mineral botol 9 dus serta telur 10 piring. Ada pula 50 paket sembako serta 16 paket perlengkapan bayi.
Dua relawan PMI Berau lainnya, Sugianto dan Rahmat Kartolo, bertugas di bidang layanan air bersih. Bidang inilah yang mengolah air sungai menjadi air bersih dan melakukan distribusi air ke rumah warga.
Hari pertama bergabung, air bersih yang diproduksi sebanyak 7 ribu liter dan didistribusikan 6 ribu liter. Sedikitnya ada 1.650 jiwa yang menerima manfaat dari layanan air bersih tersebut.
Saya sebagai Ketua Bidang Relawan PMI Berau mendampingi Ketua Koordinator Lapangan Tanggap Darurat Bencana PMI Berau Yudhi Rizal, melakukan koordinasi dan monitoring, memastikan semua tim bertugas dengan baik.
Keberadaan tim PMI Berau di Barabai, tentu tidak hanya mengantarkan bantuan ke lokasi bencana, namun ikut memastikan semua terdistribusi dengan tepat.
Yang tidak kalah penting juga harus membantu pengurus dan relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Hulu Sungai Tengah. Saat terjadi bencana besar seperti saat ini, saya baru tahu jika PMI Hulu Sungai Tengah bahkan tidak memiliki kantor atau tempat khusus. Pengurusnya pun sudah lama domisioner. Jadi jangankan relawan, pengurus yang aktif pun sisa 2 orang. Dengan begitu, sudah bisa dipastikan tidak ada layanan donor darah PMI di kabupaten ini.
Hulu Sungai Tengah terdampak paling parah akibat bencana banjir di provinsi paling selatan di Kalimantan ini. Saya pun harus acungi jempol pada relawan PMI Hulu Sungai Tengah yang sejatinya juga terkena dampak banjir, namun tetap ikut membantu proses tanggap darurat.
Kehadiran PMI Kaltim termasuk dari Berau, Samarinda, dan daerah lain di Kaltim, membuat relawan PMI Hulu Sungai Tengah semakin semangat, sekaligus belajar manajemen tanggap darurat bencana di lokasi ini. (bersambung/har)
Editor : uki-Berau Post