Mengemban amanah sebagai bupati memang cukup singkat dijalani Agus Tantomo. Dilantik sebagai bupati Berau sisa masa jabatan periode 2021-2016 pada 9 Januari lalu, Agus sudah harus mengakhiri pengabdiannya. Hari ini (16/2), menjadi hari terakhir bagi Agus mengabdikan diri sebagai bupati.
ARTA KUSUMA YUNANDA, Tanjung Redeb
Aroma menggoda perpaduan bumbu, daging belly, dan jagung manis yang dipanggang di atas meja makan, sudah membuat perut keroncongan. Sambil bercerita, Agus tetap asyik membolak-balik daging tipis dari bagian perut sapi itu. Yang sudah matang, langsung dibagikan ke piring beberapa wartawan yang duduk satu meja untuk makan malam bersama di kediaman pribadinya, Sabtu (13/2) lalu.
Silaturahmi dan diskusi dengan wartawan memang sudah menjadi sebuah rutinitas bagi Agus. Bukan sekadar di rumah maupun ruang kerjanya saja, tak jarang diskusi yang tak terencana justru terjadi di warung-warung kopi dan tepian sungai, sambil bersantai dan menyapa masyarakat.
Ya, sebelum menjadi pejabat daerah, Agus memang dikenal memiliki pergaulan yang luas. Agus mengaku tidak pernah menutup diri untuk berbaur dengan siapa saja. Bahkan dari sikap terbukanya itu pula, yang membuat dirinya berani mengambil keputusan paling besar dalam hidupnya. Keputusan yang awalnya sangat ditentang keluarganya. Terutama orangtuanya. Yakni ketika memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Agus memutuskan menjadi mualaf, tak lama setelah dirinya dilantik sebagai anggota DPRD Kaltim tahun 1999 silam.
Pergolakan batin yang dialaminya memang berlangsung sangat lama. Bahkan diakuinya, sejak dirinya duduk di bangku sekolah dasar.
Agus bercerita, dirinya memang sudah coba mempelajari agama Islam sejak SD. Namun awalnya, dorongan untuk mempelajari Islam, bisa dibilang karena hal sepele. Yakni karena harus meninggalkan kelas seorang diri, saat teman-temannya mengikuti pelajaran agama Islam di kelas. “Memang di kelas, hanya saya yang non-muslim,” katanya sambil menikmati daging belly.
Kondisi itu ternyata membuatnya tak nyaman. Karena Agus memang tidak menyukai ‘kesendirian’. Hingga akhirnya, setelah bertahun-tahun ‘menyendiri’ di sekolah saat jam pelajaran agama, Agus pun memutuskan untuk tidak meninggalkan kelas. Turut mengikuti pelajaran agama Islam, walau dirinya tidak diwajibkan. “Saya kurang ingat sejak kapan. Yang jelas, saya juga banyak ikut pelajaran agama Islam, karena tidak mau sendirinya di luar kelas saja,” akunya.
Mengikuti pelajaran agama Islam di kelas, bukan berarti hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Tapi pelajaran yang disampaikan guru, juga disimak baik-baik oleh Agus. Malah dari situ, Agus justru makin tertarik untuk mempelajari Islam. Berbagai judul buku Islam sudah dia baca. Dan saat beranjak remaja, Agus memberanikan diri untuk meminta restu orangtuanya, untuk memeluk Islam. “Tapi tidak diizinkan,” katanya.
Belum mendapat restu, tidak membuat Agus berontak. Dia justru memakluminya. Tapi penolakan dari orangtua, tidak membuatnya berhenti untuk mendalami Islam. Hingga akhirnya keyakinannya untuk menjadi mualaf semakin bulat. Terutama setelah dirinya diberi amanah masyarakat, duduk di legislatif Kaltim periode 1999-2004. “Setelah saya masuk politik, tak lama saya juga masuk Islam,” akunya.
Pilihan yang diambilnya kala itu, tetap tanpa restu orangtuanya. Karena saat itu, dirinya tak lagi meminta restu. “Jadi saya memang tidak memberi tahu,” katanya.
Perubahan keyakinan, turut mengubah kebiasaannya. Terutama dalam menunaikan ibadah wajib sebagai muslim. Salat lima waktu, puasa Ramadan, hingga merayakan Hari Kemenangan Idulfitri dan Iduladha. Dari perubahan-perubahan itu, orangtua dan keluarganya akhirnya mengetahui bahwa dirinya telah menjadi seorang muslim. Agus pun lega, karena setelah keluarganya mengetahui, tak ada lagi larangan dan penolakan yang diterimanya. “Malah akhirnya mendukung. Karena itu sudah menjadi pilihan saya,” ujarnya.
Penolakan yang berujung menjadi dukungan dari keluarga, makin menguatkan Agus sebagai seorang muslim yang telah menunaikan Rukun Islam kelima. (bersambung/har)
Editor : uki-Berau Post