Ramadan bulan penuh berkah dan magfirah. Bulan di mana Allah SWT akan melipatgandakan pahala dari setiap ibadah yang dilakukan. Bahkan ibadah sunah akan berganjar seperti pahala wajib hingga berlipat ganda.
///
DIPAPARKAN Ustaz Mulyadi, sahur menjadi salah satu sunah yang ada di bulan Ramadan. Dirinya pun ingin berbagi pengetahuan mengenai adab berbuka dan sahur dalam puasa Ramadan.
Dikatakan, kesempatan emas ini jangan sampai dilewatkan begitu saja. Orang mukmin sejati dan cerdas, akan mengambil kesempatan emas ini dengan berusaha semaksimal mungkin untuk mengisi Ramadan dengan perkara-perkara yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Dan di antaranya adalah yang tercantum di dalam “Nihayah Al Zainfi Irsyad Al mubtadi’in. Bahwa ada sepuluh amalan Sunah yang harus kita perhatikan saat berpuasa.
Pertama, makan sahur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW, yang artinya bersantap sahurlah kalian, karena dalam sahur itu ada keberkahan (HR.Al-Bukhari).
Aktivitas sahur sendiri akan tercapai dengan menyantap sesuatu, walaupun hanya sedikit atau hanya seteguk air, serta baik juga dengan kurma. Waktunya adalah selepas tengah malam. Utamanya di akhiran selama tidak sampai waktu yang diragukan.
Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda yang artinya, umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka (HR. Ahmad).
“Nah, dalam sahur itu ada adabnya juga, kapan waktu yang pas. Kapan harus berhenti melaksanakan sahur, bahkan sahur pun akan mendapatkan pahala,” paparnya.
Ia melanjutkan, perkara yang kedua, yakni menyegerakan berbuka sebelum salat Magrib. Namun itu tentu dilakukan setelah yakin masuk waktu Magrib. Berdasarkan hadis di atas. Saat berbuka, sunahnya berbuka dengan kurma. Jika tidak ada, hendaknya dengan air, sesuai hadis Nabi Muhammad SAW yang bersabda: jika salah seorang berpuasa hendaknya ia berbuka dengan kurma. Jika tidak ada kurma, maka dengan air. Sebab air itu menyucikan (HR.Abu Daud).
Ustaz Mulyadi mengatakan, urutan pertama sebaiknya dengan kurma basah jika ada. Jika tidak, maka dengan kurma kering. Jika tidak ada juga, maka dengan air. Sebab, sebuah riwayat menyebutkan, sebelum salat Magrib, Rasulullah SAW selalu berbuka dengan kurma basah. Jika tidak ada beliau berbuka dengan kurma kering, jika tidak ada beliau berbuka dengan air putih.
“Bagaimana seandainya jika tidak ada kurma dan air, maka digantikan yang semisalnya seperti madu dan susu, maka dahulukanlah madu walaupun sama-sama manis,” ujarnya.
Kemudian ia melanjutkan, dalam Ramadan lebih baik diisi dengan membaca doa yang ma'tsur sebelum atau setelah berbuka. Keempat, mandi besar dari junub, haid, atau nifas sebelum terbit fajar, agar bisa menunaikan ibadah dalam keadaan suci, di samping khawatir masuk air ke mulut, telinga, anus, dan sebagainya jika mandi setelah fajar. Kendati tidak tersedia mandi seluruh tubuh sebelum fajar, hendaknya mencuci bagian-bagian tersebut (yang sekiranya rawan masuk air) disertai dengan niat mandi besar.
“Dikhawatirkan, jika sudah memasuki fajar, dan belum mandi junub, bisa membatalkan puasa,” jelasnya.
Ia melanjutkan, yang kelima, menahan lisan dari perkara-perkara yang tidak berguna. Apalagi perkara yang haram seperti berbohong dan mengumpat. Sebab semuanya akan menggugurkan pahala puasa.
Keenam menahan diri dari segala hal yang tak sejalan dengan hikmah puasa, meskipun itu tidak sampai membatalkan. Seperti berlebihan dalam mengadakan makanan dan minuman, bersenang-senang dengan perkara-perkara yang sejalan dengan keinginan dan kepuasan nafsu, baik yang didengar, ditonton, disentuh, diraba, dicium dan sebagainya. Sebab semua itu tidak seiring dengan hikmah dari ibadah puasa.
“Lebih baik menjaga mata, lisan, dan sikap, bukan hanya saat berpuasa saja,” ujarnya.
Ketujuh, memperbanyak bersedekah, baik kepada keluarga, kerabat, maupun tetangga. Berilah mereka makanan secukupnya. Kendati tidak ada, jangan sampai luput walaupun hanya seteguk air atau sebiji kurma. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, siapa saja yang memberi makanan berbuka kepada seseorang yang berpuasa, maka dicatat baginya pahala seperti orang puasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut (HR.Ahmad).
“Selain itu juga sebaiknya memperbanyak membaca Alquran, bersalawat, berzikir, menghadiri majelis-majelis ilmu agama dan lain sebagainya,” ucapnya.
Kedelapan, memperbanyak beritikaf di masjid, lebih-lebih di sepuluh akhir bulan Ramadan (Lailatul Qadar). Kesembilan, mengkhatamkan Alquran setidaknya sekali selama bulan Ramadan, karena di bulan Ramadan turunnya Alquran (Nuzulul Quran).
Kesepuluh, Istikamah menjalankan amaliah Ramadan dan melanjutkan amaliah-amaliah tersebut di bulan-bulan berikutnya. Yaitu sebelas bulan berikutnya, dengan tetap rajin mengerjakan sunah-sunah Rasulullah. Baik itu salat lima waktu berjamaah di masjid, bermajelistalim, bersedekah, dan hal-hal kebaikan lainnya.
“Puasa Ramadan yang berhasil adalah bisa terlihat setelah Ramadan berlalu. Apakah dia tetap semangat dalam beribadah, sebab Allah SWT selalu ada di sebelas bulan berikutnya,” ucapnya.
“Setelah Ramadan, semoga selalu dalam istikamah. Itulah 10 amalan sunah di bulan Ramadan, semoga kita semua bisa menjalankan hal tersebut,” tutupnya. (hmd/udi)
Editor : uki-Berau Post