Tak mau kalah dengan pasangan putri, pasangan putra layar Kaltim juga turut menyumbang medali emas di PON XX Papua, beberapa waktu lalu.
SUMARNI, Tanjung Batu
Pasangan Muhammad Abdul Sugianto dan Rahmat Aidil Pratama, sukses menjadi yang terbaik di class INT putra layar, PON XX Papua.
Pasangan ini memang tak pernah absen menyumbang medali di berbagai ajang yang telah diikuti.
Untuk Aidil sendiri, sejak 2019 sudah rutin mempersembahkan medali emas, mulai dari ajang Kasal Cup, Kejurnas, hingga PON tahun ini.
Begitu juga dengan Abdul, sempat menjuarai tes event road to Asian Games 2017 di Class INT 420 Putra. Selain itu juga juara saat mengikuti Kejurnas seleksi SEA Games 2019.
Aidil dan Abdul sudah dipasangkan sejak 2018 lalu, dengan debut pertamanya di ajang road to Asian Games.
Prestasi yang sudah ditorehkan pasangan ini juga melalui proses yang tak mudah. Menurut Aidil, selama menjalani latihan untuk persiapan PON di Papua, latihan rutin dilakukan di darat dengan materi untuk melatih ketahanan fisik. Porsi latihan yang diberikan juga tidak seperti biasanya. Ditambah program diet yang menjadi kendala baginya selama menjalani latihan.
"Karena salah satu kendala atau hambatan pada saat main di laut, adalah berat badan salah satunya," ujar Aidil.
Menurut Aidil, sebelum mampu memenangi perlombaan, pasangan ini juga berusaha keras untuk menaklukkan tantangan, yakni situasi dan kondisi laut yang berbeda gelombangnya, arah angin dan arah arus. "Serta kendala pada saat main, sampah yang hampir sama dengan laut Jakarta," katanya.
Diakui Aidil, strategi di hari pertama rece, cukup dengan meminimalisasi terjadinya kesalahan. Baru di hari kedua, pasangan tersebut diinstruksikan untuk fokus mengejar poin, karena walau unggul, poin mereka tidak jauh beda dengan pasangan dari Banten. Lalu di hari ketiga, mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk Kaltim.
"Sampai akhirnya race di hari keempat kami hanya main aman dan hanya menjaga lawan kami dan bisa finis pertama," ucapnya.
Kata Aidil, selama berada di Papua, hal yang unik menurutnya adalah tarian khas yang ditampilkan. Selain itu, ada banyak makanan khas Papua yang sempat dicicipi kontingen layar.
"Hal yang paling berkesan di PON Papua tahun ini, menambah pengalaman dan mempunyai banyak teman, dan dikenal oleh banyak orang," katanya.
"Dan target saya saat ini bisa dipanggil pelatnas. Saya ingin sekali main untuk mewakili Indonesia di kejuaraan internasional," harapnya.
Kendati demikian, Aidil berharap setiap mengikuti perlombaan layar bisa capai zona medali. Pada kesempatan itu Aidil juga menitip pesan untuk adik-adiknya di layar yang akan diproyeksikan tampil di PON Aceh nanti, agar bisa mempertahankan medali emas buat Kaltim.
"Dan harapan terbesar saya adalah ingin sekali mendapatkan pekerjaan yang tetap dari pemerintah Kabupaten Berau setelah saya lulus sekolah nanti, atau mendapatkan bantuan beasiswa ketika saya melanjutkan kuliah nanti," tuturnya.
Sementara Abdul mengungkapkan, latihan intens yang dilakukannya sebagai persiapan turun di PON, yakni empat hari latihan teknik, dua hari latihan fisik, dan sehari libur. Lawan yang termasuk diwaspadai saat PON Papua, yakni kontingen dari Kepulauan Riau dan Kaltara yang dianggap menjadi pesaing berat.
"Sempat gugup juga karena belum pernah lihat lawan main lagi, bagaimana kekuatannya, karena pas Covid-19, tidak ada event. Tapi bersyukur masih bisa memberikan medali emas untuk Kaltim, dan membanggakan Berau," kata Abdul.
"Saat main selalu percaya diri dan optimistis karena lawannya pernah bertemu," lanjutnya.
Abdul juga menargetkan untuk mengikuti event terdekat tahun ini yakni Kasal Cup. Ia juga mengaku tahun ini terakhir main di Class INT 420. Karena akan main di Class 470 saat di PON Aceh nanti.
"Kami sangat berterima kasih kepada ibu dan pak Teddy Abay yang telah mendidik kami sampai sekarang," tuturnya.
"Cita-cita saya mewakili Indonesia di SEA Games dan Asian Games," tutupnya. (bersambung/udi)
Editor : uki-Berau Post