TANJUNG REDEB – Setelah beberapa bulan mengeluhkan langkanya Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar untuk menghidupkan mesin diesel penerangan lampu di Kampung Pegat Betumbuk. Kini Kepala Kampung Pegat Betumbuk Alimuddin sudah dijanjikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau agar diprioritaskan mendapatkan BBM.
Kata Alimuddin, dirinya sudah dipanggil oleh Bupati Berau Sri Juniarsih terkait dengan prioritas mendapatkan BBM untuk mesin diesel yang dipakai untuk penerangan masyarakat. “Terima kasih, setelah adanya pemberitaan dari media beberapa waktu lalu akhirnya kita akan mendapatkan BBM jenis solar yang bisa dipakai untuk mesin diesel kami,” ujarnya, kemarin (23/8).
Katanya juga, bahwa Kampung Pegat Betumbuk akan mendapatkan 15 drum dalam satu pekan untuk listrik masyarakat. Namun, menurutnya itu belum teralisasi di bulan ini. “Kemungkinan bulan depan (September, red) kita akan mendapatkan BBM solar itu. Semoga saja apa yang sudah dijanjikan tersebut tidak dibatalkan,” harapnya.
Ia juga menjelaskan, bahwa saat ini ada sebanyak 280 Kepala Keluarga (KK) dengan 1.010 jiwa di Kampung Pegat Betumbuk yang sudah beberapa bulan tidak mendapatkan aliran listrik. “Ribuan warga yang menunggu kebijakan dari Pemkab ini untuk bisa mendapatkan BBM untuk mesin diesel ini,” sebutnya.
Dengan adanya BBM yang akan segera diberikan kepada kampung, paling tidak menurutnya bisa menerangi rumah warga kurang lebih 5 jam. Meski begitu masyarakat sudah sangat bersyukur. “15 drum itu kita kalkulasikan bisa mencapai satu bulan, dengan jumlah waktu 5 jam hidup per hari,” katanya.
Hidupnya listrik di kampung sudah sangat dinanti-nanti oleh masyarakat. Pasalnya, dengan ada aliran listrik itu bisa meningkatkan aktivitas masyarakat. “Paling tidak bisa dimanfaatkan dengan baik jika listrik hidup meski hanya lima jam,” tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, dia mengeluhkan langkanya BBM jenis solar di wilayahnya. Padahal katanya, solar sangat dibutuhkan masyarakatnya untuk menghidupkan mesin diesel penerangan lampu.
Karena langkanya solar sejak beberapa bulan yang lalu, dia serta masyarakat terpaksa bergelap-gelapan saat malam hari. “Kita sudah mencari ke beberapa lokasi dan memang kosong minyaknya (solar, red). Jadi selama tidak ada solar, aktivitas masyarakat sangat terganggu,” ujarnya kepada Berau Post saat dihubungi via telepon, Rabu (20/7) lalu. (aky/sam)
Editor : uki-Berau Post