Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Rumah Tua

uki-Berau Post • 2022-12-21 14:04:34
-
-

TELUK Bayur menyimpan cerita lama. Cerita tentang perjalanan penambangan batu bara. Cerita tentang pekerja yang diboyong dari Pulau Jawa.

Karena cerita itu, menjadikan Teluk Bayur sebagai kota kecil. Kota yang tidak begitu luas, namun namanya sampai ke negeri Belanda. Kota yang lebih dulu melengkapi diri dengan berbagai fasilitas umum.

Kota kecil yang lebih dulu menikmati aliran listrik terang benderang. Kota yang lebih dulu punya pelayanan air bersih yang hebat. Kota kecil yang sudah punya fasilitas kesehatan yang luar biasa.

Timbullah ide, menghadirkan kembali suasana kota kecil itu dulu, dengan sebutan yang baru. Kota Tua namanya. Memang tua usianya. Ada peninggalan yang tersisa yang membenarkan usianya. Itu di Teluk Bayur.

Tanjung Redeb, juga menyisakan banyak cerita. Cerita warga yang kini berhasil dalam hal usaha, adalah warga yang dulunya bermukim di Teluk Bayur. Bisa jadi, setelah masa terang benderangnya batu bara mulai surut, mereka memilih ‘hijrah’ ke Tanjung Redeb yang jaraknya tak lebih dari 10 kilometer.

Mereka memilih tempat tinggal di pinggir Sungai Segah. Mereka memilih kawasan tak jauh dari kegiatan perekonomian masyarakat. Di sekitar tepian itu ada Pasar Batu. Di kawasan inilah mereka membangun rumah. Mereka yang sebagian besar awalnya dari Teluk Bayur.

Kita bisa menyaksikan bangunan kayu yang ada sepanjang tepian Sungai Segah, Jalan Ahmad Yani. Seperti halnya bangunan kayu yang masih kokoh berdiri di Teluk Bayur dan Sambaliung. Menjadi pertanda, Berau pernah berada pada masa kejayaan hasil hutan.

Puluhan rumah berlantai dua, bentuknya hampir sama semuanya. Entah, apa ada instruksi kalau membangun harus seragam. Atau karena kedekatan kekerabatan, sehingga mereka membangun dengan bentuk dan desain yang sama.

“Awalnya tidak seperti itu, daeng,” kata Pak Jebar Hakim. Ada saja rumah yang tunggal dan tidak berlantai dua. Karena kebutuhan ruangan dan tempat tinggal, diubahlah bentuknya jadi bertingkat.

Dan musibah pun datang. Seluruh bangunan kayu yang ada di sepanjang tepian itu musnah terbakar. Tak ada yang tersisa. Minimnya sarana pemadam kebakaran, membuat warga hanya bisa pasrah dan menunggu hingga api padam sendiri.

Habislah bangunan kebanggaan warga. Pedagang yang berjualan di Pasar Batu, oleh pemerintah dibuatkan bangunan 4 meter x 6 meter di Jalan AKB Sanipah. Bangunan itu yang menjadikan namanya kompleks 4x6.

Jadi, yang membangunkan itu pemerintah bukan sebagai pengganti rumah mereka. Melainkan sebagai tempat berusaha. Sehingga status bangunan bukan menjadi milik. Bagaimana statusnya sekarang, ini yang perlu ditelusuri. Yang tinggal di situ, sudah tangan keberapa. Ketimbang mempersoalkan penjual makanan dan minuman di Jalan Pulau Derawan.

Bangunan lainnya bagaimana? Menurut teman-teman yang sudah tinggal di kawasan itu sejak kecil, menyebutkan awalnya Jalan Niaga itu tidak ada. Itulah bagian rumah warga yang terbakar.

Setelah dilakukan penataan oleh Bupati Masdar Jhon, dibuatlah Jalan Niaga. Jadi jalan itu adalah lahan warga yang disumbangkan untuk dibangun jalan.

Karenanya, oleh pemilik lahan yang jadi korban kebakaran, membangun kembali rumah di atas lahannya dengan dua sisi. Satu menghadap ke sungai. Satunya lagi menghadap ke Jalan Niaga. Jangan heran, kalau ada warga yang memiliki lahan di antara dua jalan itu.

Mungkin pemberian nama Jalan Niaga, karena dulu itu kawasan tempat berbelanja. Bangunan kayu yang menghadap ke Jalan Niaga itu, bangunan lama yang tak digunakan lagi buat berniaga. Kata pemiliknya, tidak cocok lagi buta berjualan. Makanya, banyak yang menjadikan sebagai gudang saja.

Mungkin perlu dibuatkan imbauan, agar bangunan kayu di sepanjang tepian sungai dan di Jalan Niaga, tidak diubah bentuknya. Kalau juga mau mengubah, cukup dengan mengubah warnanya saja. Biar itu menjadi satu kenangan, kalau rumah tua ini, bagian dari perjalanan penataan kota di Tanjung Reded. @cds_daengsikra. (*/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan