MENGAPA kafe yang dikelola putra sulung Pak Taupan Madjid, diberi nama Atmosfer. Apa ada kaitannya dengan asal kata Atmosfer yang dari Yunani itu.
Atmosfer yang fungsinya banyak bagi bumi. Entah lapisan ke berapa yang diterjemahkan, sehingga nama itu diabadikan untuk sebuah tempat nongkrongnya anak muda. Apa konteksnya pada Troposfer yang mengaitkan bahwa manusia adalah mahluk hidup.
Bangunan kayu, merupakan tempat tinggal kenangan keluarga besar wakil bupati Gamalis, kini berubah bentuknya jadi kafe. Tapi, sejarah tempat itu tidak akan pernah terhapus.
“Dulu tidak ada yang berani melewati jalan di depan kafe ini,” kata Pak Madri Pani, Ketua DPRD Berau yang populer dengan sebutan MP. Ia ternyata punya kenangan di sekitar tempat tinggal almarhum Haji Hafid, ayahanda Pak Gamalis.
Saya jumpa dengan MP di teras kafe Atmosfer di Jalan Pulau Derawan. Ada juga Edy Djumantara dan dua orang wartawan. Jumpanya tidak janjian. Saya datang duluan.
“Di sungai itu dulu, ada batang,” kata MP. Di situlah kami mandi-mandi bersama Pak Rifai, mantan wakil bupati yang kini jadi Wakil Ketua DPRD. Ia juga sering berenang menyeberangi sungai. “Dulu kita berani, tidak ada buayanya. Sekarang mana ada yang wani (berani),” tambahnya.
Di sisi lain, ada penyeberangan. PNS yang tinggal di Gunung Tabur, bila ke kantor naik dan turunnya dari perahu ketinting, di dermaga itu. Juga ada KLM Tanjung Baru, milik Pak Haji Hafid parkir di sekitar dermaga, bila tiba dari Barru, Sulawesi Selatan.
Ternyata memang punya kenangan yang banyak. Kami tidak mempersoalkan soal nama ‘Atmosfer’. Mungkin saja, dengan nongkrong di kafe ini, atmosfer berpikir para pengunjung akan lebih luas. Menembus lima lapisan atmosfer itu.
“Nanti kita tanyakan pada Pak Taupan Madjid saja, mengapa pakai nama Atmosfer,” kata MP. Yang pasti nama itu membawa hoki.
Terinspirasi dengan kata Atmosfer, kami lalu membahas soal Jembatan Sambaliung. Dan jembatan yang sudah direncanakan sejak lama. Pak MP, mendesak pemkab agar Jembatan Kelay III itu, segera saja direalisasikan.
Bagaimana dengan Jembatan Sambaliung? Progresnya tetap jalan. Karena memang sudah memasuki masa ‘pensiun’ dalam usia konstruksi. Dan tahun 2023 ini, sudah akan dikerjakan.
Jenis pekerjaan relatif, namanya rehab total. Sehingga,harus berhenti dilalui. Dan sebagai pengganti, itu menjadi tugas kabupaten untuk melaksanakan. Kan sudah berkali-kali simulasi. Tinggal menjalankan saja.
Makanya, kata MP, Jembatan Kelay III yang sudah memiliki perencanaan, dikerjakan saja. Jembatan itu, menjadi bagian dari paket pembangunan jalan dari Mantaritip hingga ke sekitar Bandara Kalimarau.
Anehnya, yang diupacarakan adalah penetapan lokasi pembangunan rumah sakit. Saya juga terheran-heran. “Baru kali ini, ada penetapan lokasi, yang diupacarakan,” kata dia. Padahal, sejak masa Pak Makmur jadi bupati, lahan milik PT Inhutani itu, memang sudah ditetapkan sebagai lokasi untuk membangun rumah sakit yang baru.
Biasanya, ada upacara di satu lokasi itu, di saat akan melakukan ground breaking peletakan batu pertama. Artinya lagi, pemenang lelang pembangunan rumah sakit, sudah ditetapkan pula. Lagi pula, apa persoalan lahan itu sudah clear and clean. Benar-benar selesai 100 persen?
Sudahlah, itu urusan mereka saja. Kami bersama MP membuka atmosfer yang lebih jauh ke depan. Dan di hari pertama tahun 2023 inilah, bisa memikirkan langkah besar. Sekaligus melakukan evaluasi apa yang telah diberikan kepada masyarakat.
Tahun 2023 ini, harus lincah dan harus pandai. “Kan tahun ini, shionya Kelinci Air,” kata dia. Lihat sendiri kelinci yang produktif melahirkan anak. Lihat, bagaimana penampilannya yang atraktif dan menyenangkan. “Moga saja, tahun ini adalah tahun menyenangkan dan produktivitas kita semakin bagus,” tegas MP. @cds_daengsikra. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post