Jika di Kota Depok, Jawa Barat, ada Roel Mustofa yang dijuluki Lelaki Seribu Janda, di Kukar, aparat kepolisian juga turut menyasar para janda. Namun, tentu saja, janda miskin yang membutuhkan perhatian. Bahkan, di antara mereka ada yang tetap keras menyekolahkan anak-anaknya hanya bermodalkan menjual manik-manik.
MUHAMMAD RIFQI, Tenggarong
Jumiati, warga Jalan Tanjung Kersik, Desa Perjiwa, menumpukan hidupnya dengan membuat kerajinan manik-manik. Kepada polisi yang menyambanginya, dia bercerita suaminya sudah lama meninggal. Kendati demikian, dia tak ingin anaknya tertinggal dalam hal pendidikan. Karena itulah, meski dalam kondisi sulit, dia tetap menyekolahkan anaknya.
Dia pun mengaku beruntung lantaran guru anaknya saat sekolah tak jarang ikut membantu, bahkan dari kebutuhan ekonomi sekalipun. Rumah Jumiati begitu jauh dari kata layak. Dindingnya dari seng dengan penopang kayu yang sebagian telah rapuh. Luasnya pun diperkirakan hanya 5x6 meter. Baik kamar, toilet, maupun dapur menjadi satu.
“Rezeki ada aja, biasanya dari menjual manik-manik. Saya membuat sendiri. Yang penting anak-anak bisa sekolah,” kata Jumiati.
Ada pula tetangga Jumiati, Aisyah, yang usianya lebih tua 20 tahun darinya. Di rumah yang tak layak huni, Aisyah membesarkan anak-anaknya. Makan sehari-hari tak menentu berapa kali sehari. Jumat (1/2), dipimpin Kabag Ren Polres Kukar Kompol Gufron, kedua janda tersebut mendapat bantuan sejumlah bahan pokok dan santunan.
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan petugas Bhabinkamtibmas, keduanya masuk radar masyarakat tak mampu yang layak mendapat perhatian. “Petugas Bhabinkamtibmas ini juga memang wajib mendeteksi kondisi sosial masyarakat. Bagaimanapun caranya, harapannya bisa ikut memberikan perhatian. Juga bisa dilakukan komunikasi dengan pemangku kebijakan. Termasuk janda yang memenuhi kriteria untuk diberi bantuan,” kata Gufron.
Sementara itu, di Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Kapolsek Loa Kulu Iptu Dharwis menyambangi warganya bernama Sundiah. Selama ini, Sundiah tinggal bersama anak dan cucunya sejak suaminya meninggal. Meski usianya sudah lebih dari setengah abad, Sundiah tetap berupaya menafkahi anak-anaknya dengan berkebun seadanya.
“Tiap pekan kita melakukan kegiatan Jumat Berbagi dengan menyambangi dan memberi bantuan sembako warga yang kurang mampu. Harapannya, minimal bisa menjadi perhatian masyarakat lain untuk ikut membantu,” kata Dharwis. (***/dwi/k8)
Editor : octa-Octa